Mengubah Spasi Menjadi Ruang Rasa.

  • kota bersih tanpa sampah, mungkinkah

    Mengacu pada data dari Bank Dunia, satu orang rata-rata menghasilkan 0,6 kg sampah setiap harinya. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 250 juta jiwa (berdasarkan data dari Biro Pusat Statistik, 2014), maka produksi sampah Indonesia bisa mencapai lebih dari 151.298 ton per harinya. Sementara hasil pengamatan sampah di Camar sendiri dapat mencapai 3-4 kg/rumah.

  • Feminimisme Dalam Lingkungan Perkotaan

    Feminisme diawali dengan suatu pergerakan sosial yang muncul di dunia Barat pada tahun 1800-an dengan tuntutan kesamaan hak dan keadilan bagi perempuan.

  • Rekonstruksi ruang klasik perbelanjaan

    Imajinasi kita bisa bergerak mundur ke masa 1940-an dan 1950-an. Murid-murid di Indonesia mendapat buku bacaan berjudul Matahari Terbit susunan J. Lameijn dibantu Oesman, terbitan J.B. Wolters-Groningen, Jakarta, 1950, cetakan ketiga. Gambar-gambar di buku adalah persembahan dari Menno Meeteren Brouwer. Di halaman 103-109, ada bacaan berjudul Serikat Dagang (Koperasi). Cerita tentang kampung.

  • 7 Tempat Paling Menarik Di Kebun Raya Bogor

    Setiap hari, kebun botani yang memiliki luas 87 hektar dengan koleksi sekitar 15 ribu tanaman ini tak pernah sepi dari kunjungan wisatawan. Namun, luasnya Kebun Raya Bogor kadang membuat kita bingung untuk mengunjungi spot mana yang paling menarik .

  • Tentang SDE dan Gerilya Pemulihan Krisis

    Sebuah krisis berskala global yang sejarahnya bisa ditarik jauh ke masa revolusi industri, saat terjadi peningkatan kebutuhan akan bahan mentah. Di masa awal itu Karl Marx misalnya telah mengenali ada gap yang membesar antara dua jenis metabolisme. Pertama, metabolisme untuk kepentingan reproduksi yang instruksinya genetik.

Kalijodo, Antara Lokalisasi Prostitusi dan RPTRA

 Sejarah

Awalanya nama Kalijodo berasal dari kata Kali dan Jodoh. Tempat ini di masa lalu adalah salah satu tempat perayaan budaya Tionghoa bernama peh cun, yaitu perayaan hari keseratus dalam kalender imlek. Salah satu tradisi dalam perayaan peh cun adalah pesta air. Pesta ini menarik perhatian kalangan muda dan dibiayai oleh orang-orang berada dari kalangan Tionghoa. Pesta air itu diikuti oleh muda-mudi laki-laki dan perempuan yang sama-sama menaiki perahu melintasi kali Angke. Setiap perahu diisi oleh tiga hingga empat perempuan dan laki-laki. Jika laki-laki senang dengan perempuan yang ada di perahu lainnya ia akan melempar kue yang bernama Tiong Cu Pia. Kue ini terbuat dari campuran terigu yang di dalamnya ada kacang hijau. Sebaliknya, jika perempuan menerima, ia akan melempar balik dengan kue serupa. Tradisi ini akhirnya terus berlanjut sebagai ajang mencari jodoh sehingga dari sinilah sebutan Kali Jodoh berasal. Tradisi ini berhenti di tahun sejak tahun 1958 setelah Wali Kota Jakarta Sudiro yang menjabat diera 1953-1960 melarang perayaan budaya Tionghoa.

Namun menurut versi lain, Kalijodo memang pada awalnya sudah merupakan wilayah prostitusi terselubung. Pada tahun 1600an, banyak pelarian dari Manchuria berlabuh di Batavia, lalu mencari istri sementara atau gundik karena tidak membawa istri dari negara asalnya. Tempat untuk mencari pengganti istrinya di daerah Kalijodo. Para calon gundik ini mayoritas didominasi oleh perempuan lokal, yang akan berusaha menarik pria etnis Tionghoa dengan menyanyi lagu-lagu klasik Tionghoa di atas perahu yang tertambat di pinggir kali. Pada masa tersebut, perempuan yang akan menjadi gundik disebut Cau Bau. Cau Bau, yang bermakna perempuan, dianggap memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan pelacur. Kendati demikian, di lokasi tersebut masih berlangsung aktivitas seksual dengan transaksi uang. Aktivitas utamanya adalah menghibur dan mendapat penghasilan, mirip konsep Geisha di Jepang.
 
Kalijodo tidak hanya dikunjungi orang-orang etnis Tionghoa, namun juga laki-laki non Tionghoa. Akibatnya Kalijodo berubah menjadi tempat pelacuran sesungguhnya. Bahkan semakin ramai sejak Kramat Tunggak ditutup.

Prostitusi kalijodo
Gemerlap Lampu malam Kali Jodo, Sewaktu masih menjadi lokalisasi
Prostitusi kalijodo
Potret Lokalisasi Kalijodo Dahulu

Ruang Publik Terpadu Ramah Anak.

Ruang Publik Terpadu Ramah Anak atau juga dikenal dengan singkatan RPTRA adalah konsep ruang publik berupa ruang terbuka hijau atau taman yang dilengkapi dengan berbagai permainan menarik, pengawasan CCTV, dan ruangan-ruangan yang melayani kepentingan komuniti yang ada di sekitar RPTRA tersebut, seperti ruang perpustakaan, PKK Mart, ruang laktasi, dan lainnya. RPTRA juga dibangun tidak di posisi strategis, namun berada di tengah pemukiman warga, terutama lapisan bawah dan padat penduduk, sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh warga di sekitar. 

RPTRA kalijodo yang berlokasi di Kelurahan Angke, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat ini merupakan RPTRA ke-184 yang telah diresmikan, termasuk diantaranya adalah 123 RPTRA yang dibangun menggunakan APBD DKI. Taman itu dibangun menggunakan dana CSR PT. Sinarmas Land dengan anggaran sebesar Rp 3,6 miliar.

RPTRA dengan luas lahan 5.489 meter persegi dan luas bangunan 1.468 meter persegi tersebut memiliki Pos Pengaduan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak. Pos tersebut dikelola oleh Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) dari Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk DKI Jakarta, yang bekerja sama dengan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Anak RI serta Lembaga Swadaya Masyarakat

RPTRA Kalijodo juga memilki fasilitas mainan anak yang telah diasuransikan. Sehingga setiap anak yang mengalami cedera akibat menggunakan fasilitas permainan, dapat melapor ke pengelola RPTRA dan akan mendapat perawatan yang diperlukan.

Sedangkan RTH Kalijodo memiliki luas sekitar 10 ribu meter persegi. Fasilitas yang tersedia antara lain, skate park, arena bermain sepeda BMX, outdoor gym dan toilet untuk penyandang disabilitas.
(Tempo)

Penggusuran Kalijodo
Proses Pembongkaran lokalisasi kalijodo.


Kalijodo
Kalijodo Kini.  
Kalijodo
Pembangunan Kalijodo melibatkan pihak developer swasta.  


 Semoga keadaan semakin membaik dan kehidupan sosial kultural yang ada bergerak kearah yang semakin membahagiakan, untuk RPTRA kalijodo semoga tetap terjaga manfaatnya.

“Setiap orang punya ruang dan tempat tersendiri. Mereka yang pergi dan datang tak akan pernah bisa saling menggantikan”


Akhir Kata,

Semoga Bermanfaat.
Share:

7 Tempat Yang enak buat Baca pas dirumah.

Bersantai tidak selalu berarti pergi berlibur, terkadang cukup dengan membaca buku favorit di rumah. Di rumah pun tidak harus dengan mendesain sebuah perpustakaan. Setiap sudut dapat dijadikan reading nook yang nyaman. Ukurannya pun tak perlu besar yang disertai dengan rak-rak tinggi, sebuah sisi kecil di sudut ruang juga dapat diubah menjadi tempat favorit untuk membaca.

Original idea

Anda hanya harus mendesainnya senyaman mungkin. Sediakan kursi, alas duduk, bantal, atau meja bila diperlukan. Tambahkan pencahayaan dan berilah batas untuk menjaga privasi. Batas tersebut dapat berupa tirai atau rak yang berperan menjadi sekat. Selain privasi, kenyamanan dan ketenangan bisa pula didapatkan saat sedang membaca.

Sudah terbayang sudut yang mana yang akan diubah? Bila belum, sudut-sudut rumah di bawah ini beserta desainnya dapat dijadikan bahan untuk mencari inspirasi. Berikut ide untuk Anda!

Salah Satu Sisi Dinding
Menempel Di Dinding untuk menghemat tempat.
Daripada membiarkan sudut rumah kosong atau hanya diisi oleh benda yang tidak akan digunakan, lebih baik alihfungsikan bagian tersebut menjadi ruang baca. Desain secara sederhana dengan alas duduk dan cushion, lalu rak untuk buku di sampingnya. Dengan cara ini sudut rumah dapat tampil menarik sekaligus fungsional. Ruang pun dimanfaatkan dengan maksimal.

Area Bawah Tangga

Mudah Dan Catchy



Rustic dan Intim.

Area ini merupakan tempat menarik untuk berkreasi. Ada yang mendesainnya untuk storage, kamar mandi, dan tentu saja reading nook! Luas bawah tangga yang tidak seberapa tersebut dapat digunakan untuk meletakkan rak buku sederhana dengan tinggi mengikuti ukuran tangga, kemudian tambahkan dengan single chair atau desain sebuah tempat duduk seperti bench. Area tersebut pun berubah menjadi ruang favorit di rumah.

 Jendela.

Nice And Clean View


Jendela merupakan tempat yang menarik untuk bersantai sambil membaca buku. Dengan jendela yang berada di samping, view ke arah luar akan terasa sangat luas, cahaya untuk membaca pun bisa didapat secara alami. Tentunya, Anda tidak akan pernah merasa bosan untuk menghabiskan waktu di sana, Bukan?

Atap.

White Concept.
Meskipun belum banyak rumah di Indonesia yang memanfaatkan bagian atap (attic) untuk sebuah ruang, ide ini sebenarnya layak untuk dicoba. Kenapa tidak? Ruangan mungil ini bisa jadi tempat membaca yang nyaman karena letaknya di atas. Jendela yang ditambahkan untuk sirkulasi udara juga bisa menjadi penghias ruangan sekaligus memberi Anda pemandangan saat merasa bosan.

Lorong Rumah.

Lorong Rumah.
 
Lorong di rumah tidak hanya berguna untuk menghubungkan satu ruang dengan ruang lain, ruang baca pun bisa didesain di sana. Dengan begitu, Anda juga tidak perlu pusing menambahkan atau mengubah sebuah ruang untuk menjadi area membaca. Cukup sulap lorong kosong di rumah dengan ambalan, sofa, dan tata lampu, sebuah reading nook bisa tercipta.
Share:

Akankah Palangkaraya Menjadi Ibukota Indonesia Mendatang?

Wacana
Palangkaraya, Kalimantan Tengah
Wacana merupakan sebuah kebutuhan mendasar dari sebuah rancangan, gagasan dan kumpulan-kumpulan ide. Sebuah Wacana akan sangat bernilai ketika mampu terealisasi dan memberikan banyak manfaat kepada banyak orang.

Wacana pemindahan ibu kota Indonesia ke Kota Palangkaraya juga pernah diungkapkan Presiden pertama RI Soekarno. Saat meresmikan Palangkaraya sebagai ibu kota Provinsi Kalteng pada 1957, Soekarno ingin merancang menjadi ibu kota negara.

Dalam buku berjudul ‘Soekarno & Desain Rencana Ibu Kota RI di Palangkaraya’ karya Wijanarka dua kali Bung Karno mengunjungi Palangkaraya, Kalimantan Tengah — untuk melihat langsung potensi kota itu menjadi pusat pemerintahan. Palangka Raya merupakan kota dengan wilayah terluas di Indonesia atau setara 3,6 kali luas Jakarta 2.400 km².

Permasalahan

Apakah Orang Jakarta Mau Di pindah ke Palangkaraya? 

dan Apakah Orang palangkaraya asli akan mau menerima kedatangan Pendatang yang begitu beragam dan memiliki karakteristik yang berbeda-beda? Jangan sampai keadaan seperti di jakarta berulang disana, terjadi "perebutan" etnis tertentu untuk menguasai tempat-tempat tertentu, ambil contoh pasar senen dengan mayoritas Ambon, dan atau Tanah Abang dengan mayoritas minang? tentu saja akan terjadi segmentasi-segmentasi 

"Gagasan bagus dalam keadaan normal, dalam keadaan ekonomi kita baik, pertumbuhan kita baik, pemerataan kita baik, dan kita cukup banyak uang untuk membangun," sindirnya Fadli zon di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (20/3). (jawapos)

Memindahkan ibu kota memang perlu persiapan matang. Terutama diutamakan menyiapkan infrastrukturnya. Artinya lanjut dia, parameter dan kelengkapan sebagai ibu kota negara harus terpenuhi.

dilihat dari demografi memang sudah heterogen, terlihat dari banyak suku yang terdapat di sana, suku dayak, suku banjar, suku jawa, suku bali, suku batak. sedagkan dari penyebaran agama terdapat agama islam yang memang dominan 69,65%, kristen protestan 26,79%, katolik 1,37 %, hindu kaharingan 1,04 %,  buddha 0,11 %, dan lainya 1,04% 
.

Saran
ibukota adalah cerminan dari sebuah negara, tentunya jika yang melandasi pemindahan ibukota negara tercinta ini adalah untuk kemajuan sebuah negara, kita sebagai warga tentu bersyukur. namun jangan lupa pula untuk mengkritisi apabila ada kebijakan yang dirasa belum perlu di lakukan dan dilaksanakan. harus seimbang antara keinginan dengan kemampuan.

BUNDARAN HI BANJIR
Bundaran HI

Tidak dan belum cukup kuat apabila yang melandasi di pindahkanya sebuah ibu kota negara adalah karena lebih luas wilayahnya dan relatif lebih aman dari banjir dan bencana gempa bumi. karena hakekatnya negara-negara lainpun tidak sedikit pula yang memiliki permasalahan yang sama. semisal jepang dengan tokyo dan amerika dengan washingtonya. 

mungkin yang harus menjadi konsentrasi adalah pemisahan dua tempat yang berbeda antara zona ekonomi dan zona administrasi (Ibu Kota). karena memang Indonesia dengan wilayah yang luas tentu membutuhkan zona-zona tersebut.

Akhir Kata,

Semoga Bermanfaat

 

Share:

Pencarian Jati Diri Arsitektur Indonesia

Sumber menginspirasi
alice in wonderland

Semasa kuliah, saya diajarkan menggambar secara arsitektural. Satu hal yang ditekankan adalah gambar tersebut harus informatif. Ada slogan Satu gambar bernilai seribu kata yang muncul pertama kali pada tahun 1911 pada sebuah artikel koran ("Speakers Give Sound Advice". Syracuse Post Standard (page 18). March 28, 1911) yang sedang mendiskusikan topik jurnalisme dan penerbitan.

Sudah seabad berlalu, namun kalimat itu masih terus didengungkan. Dari slogan itu muncul guyonan bahwa buku arsitektur harus banyak gambarnya, karena arsitek jagonya baca gambar, bukan tulisan.

Kenapa bidang arsitektur identik dengan keahlian menggambar? Saya jadi bertanya-tanya, mengapa seseorang merasa terpanggil menjadi arsitek? Karena memiliki keahlian menggambar indah dan memvisualkan sebuah mimpi dan harapan? Karena memiliki keahlian berkomunikasi menggunakan gambar? Karena dapat menyakinkan klien untuk mendanai dan mewujudkan mimpi yang belum kesampaian? Karena memiliki pemahaman teknis dalam pelaksanaan pembangunan? Karena memiliki keahlian dalam menggali kepribadian dan merealisasikan mimpi alam bawah sadar sang klien? Ataukah karena kita memiliki keahlian dalam berasumsi, menyimulasikan, dan pada akhirnya memproyeksikan masa depan? Apa bedanya arsitek dengan nabi yang bernubuat maka segalanya akan terjadi? Bagaimana arsitek bisa begitu yakin, mana karya terbaiknya untuk mereka tawarkan kepada masyarakat umum yang mereka layani?

Ketika bekerja sebagai praktisi, sudut pandang saya terhadap arsitektur melebar. Pelebaran sudut pandang ini berpengaruh pada tingkat toleransi saya dalam mempertahankan desain atau gambar. Sampai saat ini saya masih mencari tahu sejauh mana batas tolerensi tersebut bisa diterima. Satu hal yang saya yakini saat ini, arsitektur adalah persoalan tentang visi, bukan hanya persoalan tentang  desain atau gambar.

Dalam pandangan saya, sebuah visi pasti bicara soal mimpi, cita-cita, serta nilai-nilai yang ingin dicapai dan disetujui bersama oleh arsitek dan masyarakat. Kemampuan berarsitektur menjadi kemampuan untuk melihat, menyadari, dan menemukan apa yang ingin kita capai bersama di masa depan, melalui realisasi visi itu sendiri.

Dalam perjalanan, saya meraba-raba visi tersebut. Saya menemukan bahwa kita sebagai manusia memiliki kemampuan yang sangat bervariasi dalam mengapresiasi dan menikmati arsitektur. Secara umum, saya coba membaginya menjadi dua macam. Pertama, sebagai pembuat bangunan dan kedua, sebagai pengguna bangunan. Kedua tipe penikmat arsitektur tersebut, ternyata ,bisa memiliki pengelihatan dan pencerapan yang sangat berbeda saat melihat objek yang sama. Hal ini didukung oleh pernyataan V. S. Ramachandran, seorang ilmuwan neurosains yang dikenal akan karyanya dalam bidang neurologi perilaku dan psikofisika (kajian yang menghubungkan sifat-sifat fisik stimulus dengan pengalaman seseorang terhadap stimulus tersebut,“Eyes are not unique to us, but vision does not occur in the eye. It occurs in the brain.”

Apa yang kita “lihat” bukan yang sebenarnya kita lihat, namun merupakan produk-hasil-akhir dari proses kerja otak yang secara efektif-efisien telah menerima-mengirim-mengolah input data sensori (dalam jumlah yang besar) dalam waktu yang sangat singkat. Produk-hasil-akhir ini jelas sangat dipengaruhi oleh ragam vocabulary memori dan ekspektasi kita. Ragam memori dan ekspektasi ini juga ditentukan oleh ragam pengalaman dan pengetahuan kita masing-masing, yang juga dipengaruhi oleh konteks di mana kita bertumbuh, cara kita dibesarkan dan berbudaya, serta bawaan sifat genetis. Bila demikian, jelaslah bahwa masing-masing dari kita bisa “melihat” hal yang berbeda walaupun sedang melihat objek visual yang sama.

Perlu disadari bahwa perbedaan “pengelihatan” antara sang pembuat dan pengguna arsitektur mungkin saja menjadi sangat signifikan. Kita yang dididik menjadi seorang arsitek, dilatih untuk melihat lingkungan di sekitar kita dengan “mata arsitektural”.  Beberapa prinsip desain pasti sudah mendarah daging dalam setiap keputusan desain yang kita lakukan dan bahkan dalam setiap tarikan garis tangan.  Pada titik ekstrem, kita sebagai pembuat bangunan bisa melihat apa yang para pengguna bangunan tidak bisa lihat, namun juga sebaliknya. Perlu disadari bahwa sangat mungkin kita sebagai pembuat bangunan tidak bisa melihat apa yang dilihat oleh pengguna bangunan. Apalagi melihat apa yang ingin dilihat oleh pengguna bangunan dengan yang latar belakang dan kompetensinya berbeda . Di sisi lain, satu hal yang pasti adalah kita lebih mudah menerka apa yang bisa dilihat oleh sesama kolega dari karya kita, daripada apa yang bisa dilihat oleh pengguna bangunan.  Kita lebih mudah untuk menerka karya seperti apa yang akan dipuji oleh kolega kita, daripada oleh pengguna bangunan. Nah!

Saat saya menyadari hal tersebut, saya menjadi ragu serta tidak percaya diri dalam menebak-nebak kebutuhan dan keinginan klien. Menebak-nebak karya mana yang terbaik untuk saya tawarkan. Menebak-nebak tanpa bekal informasi dan waktu yang cukup untuk benar-benar memahami secara sadar alasan rasional dari setiap pilihan yang harus saya buat dalam mendesain. Bagaimana saya yakin bahwa ini bukan semata-mata atas nama kepuasan diri dan ego? Bagaimana saya bisa membedakan apakah saya sedang melayani kebutuhan klien ataukah memanipulasi klien demi mimpi idealisme saya pribadi? Ah terlalu jauh, toh saya kerjanya hanya menebak-nebak dari hari ke hari, lalu merevisi berkali-kali dari hasil tebakan baru itu. Kalau sedang kesal dan tidak bisa menebak, saya menyalahkan klien yang tidak jelas kemauannya. Loh, bukannya saya yang salah atau tidak bisa melihat kebutuhan klien?

Lelah menebak-nebak, saya menginvestigasi. Mungkin tidak sekeren itu. Saya hanya  mencoba untuk menyadari apa yang dilihat oleh pikiran saya sendiri. Berusaha menyelami pikiran saya pribadi,baik sebagai pembuat bangunan maupun sebagai pengguna bangunan. Mencoba menggali kesadaran diri saya pribadi sebagai bekal untuk menyadari apa yang orang lain sadari dan tidak sadari (baik orang tersebut melihat dirinya sebagai pembuat maupun pengguna bangunan). Dan tentu saja pada akhirnya untuk menyadari apa yang sebelumnya tidak saya sadari. Dengan melakukan hal tersebut,  saya harap saya bisa menyempurnakan tebakan saya kan. Semoga.

*hanya untuk guyonan*

Profesi arsitek: profesi tebak-menebak.

Bila anda beruntung, anda benar.

Bila anda sial, anda salah. Namun akan selalu ada pihak yang bisa melihat anda benar: kolega dan fans anda.

Bila anda hebat, walaupun anda salah, anda selalu bisa membenarkan diri anda sendiri dengan kemampuan meyakinkan & berlogika anda yang di atas rata-rata masyarakat awam. hehehe

Bila saya mengawali tulisan dengan slogan “Satu gambar bernilai seribu kata”, maka saya akan mengakhiri sepotong kisah pencarian  ini dengan sebuah slogan yang masih terus saya sadari dalam penglihatan saya pribadi. Bahwa dengan membuka hati dan pikiran untuk menempatkan diri di luar diri kita sebagai sang pembuat bangunan, saya justru mulai menyadari kedalaman dan kekayaan dari sebuah karya bangunan. Karena…

Satu bangunan bernilai seribu intensi dan seribu impresi.

Satu bangunan bernilai seribu sensasi. dan seribu persepsi.
Share:

Kota bersih Tanpa Sampah, Mungkinkah?

Sumber Menginspirasi.

mengolah sampah
Kreatifitas Mengolah Sampah.

Pada 30 Mei 2015, LabTanya, sebuah lab riset dan eksperimen pada studio arsitektur AWD, mengadakan diskusi bertajuk “Buka Studio: Kota Tanpa Sampah” bersama warga RW 08 di kawasan Camar, Bintaro Sektor 3. Acara ini bertujuan untuk memamerkan dan mensosialisasikan gagasan dari inisiatif “Bagaimana Jika: Kota Tanpa Sampah”.

Proyek “Bagaimana Jika?” merupakan rangkaian dari lima subproyek inisitaif untuk mempelajari lebih jauh berbagai alternatif keseharian yang lebih relevan di antara tumpukan persoalan di sekitar kita. Melalui inisiatif tersebut, para mahasiswa arsitektur dan beberapa freshgraduate yang tergabung dalam LabTanya menggali berbagai peluang mengaplikasikan pengetahuan mereka untuk menanggapi dinamika sehari-hari.

Perjalanan Menuju Kota Tanpa Sampah

Proyek ini mengambil kawasan Camar di Bintaro, tempat LabTanya dan studio arsitektur AWD berada. Sejak tahun lalu, kawasan Camar menjuarai lomba K3 (Kebersihan, Ketertiban, dan Keamanan). Namun rupanya di balik keberhasilan menjadi lingkungan yang bersih, kawasan Camar masih merupakan salah satu penyetor sampah ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Rawa Kucing di Cengkareng. Sampah yang dihasilkan oleh rumah-rumah dibersihkan dari lingkungannya, lalu dipindahkan ke TPA Rawa Kucing sehingga lingkungan Camar menjadi bersih. Namun TPA Rawa Kucing justru mendapatkan beban sampah kiriman. Tanpa sadar, saat membersihkan sampah, kita hanya memindahkannya dari lingkungan kita ke tempat lain.

Mengacu pada data dari Bank Dunia, satu orang rata-rata menghasilkan 0,6 kg sampah setiap harinya. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 250 juta jiwa (berdasarkan data dari Biro Pusat Statistik, 2014), maka produksi sampah Indonesia bisa mencapai lebih dari 151.298 ton per harinya. Sementara hasil pengamatan sampah di Camar sendiri dapat mencapai 3-4 kg/rumah. Dengan 840 kepala keluarga yang ada di Camar, maka produksi sampah di lingkungan Camar sendiri dapat mencapai 2.940 kg per hari. Lalu mampukah lahan-lahan TPA itu terus menampung produksi sampah kita? Sampai kapankah TPA harus selalu memperluas lahannya agar mampu menampung sampah dari konsumsi kita?

Kegiatan riset dan eksperimen Kota Tanpa Sampah dilakukan selama 4 bulan secara bertahap. Tahapan pertama kegiatan ini berupaya membongkar paradigma yang ada dalam masyarakat selama ini. LabTanya menunjukkan fakta serta problematika yang muncul karena sampah. LabTanya  juga mengundang warga Camar, Bintaro, untuk melihat kontrasnya keadaan di Camar dan di TPA Rawa Kucing. Bincang santai tersebut rupanya berhasil memberikan sudut pandang yang berbeda mengenai akibat yang muncul dari kegiatan konsumsi sehari-hari., sehingga warga yang datang pun tertarik untuk berperan serta dalam proyek Kota Tanpa Sampah.

Pada tahapan kedua, tim Kota Tanpa Sampah menggali data kegiatan konsumsi di rumah-rumah para relawan. Mulai dari mendata jumlah anggota keluarga, kebiasaan berbelanja, hingga sampah hasil konsumsi oleh rumah tangga tersebut. Data-data tersebut kemudian diolah untuk memetakan pola alur konsumsi dan aktor-aktor yang berperan dalam proses terbentuknya sampah dalam lingkup rumah tangga. Mulai dari produk dibeli oleh salah satu orang di rumah, dikonsumsi, hingga akhirnya menghasilkan sisa sampah yang kemudian dibuang ke tempat sampah di rumah.

Pada tahapan ketiga, setelah memahami siapakah aktor-aktor yang berperan penting dalam alur sampah rumah tangga, mulailah tim LabTanya bersama dengan para relawan mencari alternatif-alternatif untuk mengurangi produksi sampah dalam skala rumah tangga. Secara garis besar, ada dua strategi yang bisa diaplikasikan. Pertama, strategi ‘pintu belakang’, yaitu mencoba mengurangi sampah yang pada akhirnya dikirim menuju TPA. Ada dua cara yang dapat dilakukan dalam strategi ini, yaitu dengan cara reuse dan recycle. Reuse berarti menggunakan ulang barang-barang bekas sisa, misalnya menggunakan bekas kaleng susu bayi menjadi pot-pot bunga. Recycle adalah memperpanjang daur hidup suatu barang. Untuk sisa-sisa organik, daur hidupnya bisa diperpanjang dengan menggunakan komposter, yang mengubahnya menjadi kompos sebagai penyubur tanaman. Untuk sisa-sisa yang tidak membusuk, bisa dikelompokkan dalam penampungan-penampungan sementara sesuai jenisnya untuk kemudian disalurkan ke pengepul dan dikirim ke pihak pendaur ulang. Penting untuk kemudian mengenali, meneliti, serta memetakan jaringan pengepul di sekitar tempat tinggal: Apa-apa saja yang diterima? Bagaimana dan ke mana proses daur berikutnya? Di sekitar Camar, tim LabTanya juga memetakan beberapa jaringan pengepul yang berada dalam radius kurang lebih 1.000 meter, serta jenis-jenis barang yang mereka terima. Dalam simulasi ini, strategi ‘pintu belakang’ saja mampu mengurangi sampah rumah tangga hingga 80%.

Strategi selanjutnya, adalah ‘pintu depan’, yaitu dengan cara reduce dan replace. Reduce, yaitu mengurangi penggunaan benda-benda yang memiliki risiko sampah tinggi, misalnya mengurangi konsumsi minuman kemasan, atau mengurangi konsumsi camilan yang dikemas dengan kemasan plastik berlebih. Sedangkan replace, dalam hal ini adalah mengganti konsumsi barang-barang tertentu dengan alternatifnya yang lebih ramah lingkungan. Misalnya dengan mengganti penggunaan kresek dengan tas belanja yang bisa digunakan berulangkali. Kombinasi strategi pintu belakang dan strategi pintu depan, dalam simulasi yang dilakukan oleh tim LabTanya, rupanya mampu mengurangi jumlah sampah hingga 98%. Salah satu relawan bahkan berhasil mengurangi sampah rumah tangganya dari 2,4kg menjadi 0,05kg di akhir program. “Sekarang udah dikit sampahnya, tadi pagi saya gak buang sampah sama sekali ke depan,” ujar Mbak Elis, seorang asisten rumah tangga dari salah satu relawan.


Masih ada banyak tantangan yang muncul saat melakukan simulasi bersama warga, seperti kurangnya minat para relawan untuk menggunakan drum-drum komposter, yang dianggap bau dan tidak indah. Namun rupanya hal ini tidak mengurangi semangat para relawan untuk mencoba mengurangi sampah rumah tangga mereka. Muncul berbagai alternatif untuk mengomposkan sisa-sisa organik. Salah satu relawan misalnya, mengomposkan sisa makanan rumahnya dengan cara membuat sebuah lubang kecil di halamannya untuk membuang sisa makanan dan sampah-sampah lain yang membusuk. 

Kota Tanpa Sampah, Mungkin!
Mengolah Sampah
Mengolah Sampah
Tentu inisiatif baik sebaiknya disebarluaskan. Maka dari itu, sebagai tahap akhir (atau justru awal) dari proyek Kota Tanpa Sampah ini, diadakanlah acara “BukaStudio: Kota Tanpa Sampah”. Acara ini merupakan upaya sosialisasi hasil riset dan eksperimen ini. Arsitek biasanya melakukan pameran dengan berbagai media arsitektur seperti gambar-gambar ortografis, ilustrasi 3D, maupun maket. Justru kali ini tim Kota Tanpa Sampah memamerkan konsepnya melalui media-media yang berbeda seperti video, simulasi teatrikal, serta penyajian prototipe ide dalam skala 1:1.

Riset  ini menjadi sebuah ruang bagi para arsitek di LabTanya untuk mentransformasi pengetahuan arsitekturnya dan bereksperimen mengenai praktik arsitektur yang relevan dan dekat dengan keseharian masyarakat. Proyek ini menjelajahi sudut pandang yang lain mengenai problematika sampah di sekitar kawasan Camar. Sampah yang tadinya hanya dilihat sebagai barang-barang atau sisa-sisa yang kotor dan harus dibersihkan, kini mulai didefinisikan ulang. Sampah merupakan sisa-sisa konsumsi yang memang sudah tidak ada manfaatnya sama sekali, dan tidak bisa didaur ulang. Cara kita menyikapi sampah lalu bukan lagi “Buanglah sampah pada tempatnya” melainkan “Tempatkan sisa konsumsi untuk masuk ke daur hidup berikutnya”.

Diskusi BukaStudio ini mengajak kita semua untuk bisa lebih sadar mengenai risiko sampah yang muncul dari perilaku konsumsi sehari-hari dan membeirkan kita pilihan langkah yang lebih relevan. Dimulai dari yang dekat, kegiatan sehari-hari dan langkah-langkah kecil bisa mengantarkan kita menuju sebuah visi kota yang terbebas dari persoalan sampah.

Dalam kegiatan Buka Studio juga terdapat penjelasan tentang problematika sampah serta sharing pengalaman dari relawan yang terlibat. Tim Greeneration Foundation memaparkan strategi menajemen persampahan rumah tangga. Tim LabTanya menyiapkan display untuk menjelaskan konsep Kota Tanpa Sampah dalam skala 1:1, antara lain melalui display mengenai Toko Tanpa Sampah yang kemasan produknya tidak berisiko sampah setelah konsumsi. Tidak hanya itu, para tamu juga dijamu dengan sajian makanan dan minuman dengan kemasan yang telah dirancang mendukung konsep Kota Tanpa Sampah, yaitu beragam makanan dengan kemasan berisiko sampah yang rendah, serta minuman sehat dan menyegarkan yang bisa diisi ulang dengan gelas maupun tempat minum milik audiens.

Baca Juga Jati Diri Arsitektur

“Ternyata cara membuat kota menjadi bersih dari sampah itu gampang,” ujar Faradika, salah satu pengunjung yang datang. Antusiasme masyarakat yang cukup tinggi terhadap kegiatan ini, menunjukkan bahwa proyek Kota Tanpa Sampah justru merupakan awal dari pergerakan yang lebih besar lagi. Masih ada banyak tantangan dan peluang yang menanti untuk dibongkar dan ditaklukkan bersama. Sebuah harapan dan perspektif yang berbeda: bahwa Kota Tanpa Sampah itu mungkin!

Share:

Rekonstruksi Ruang Klasik Perbelanjaan Beserta Cerita-Cerita Yang Mengiringinya

Sumber Menginspirasi
Pasar Tradisional
Sebuah Ilustrasi Mengenai Kondisi Tempo Dahulu, Dimana Interaksi antar warga terasa lebih "Hidup"

Peristiwa mendatangi pasar, toko, mal, dan pusat perbelanjaan memberi pengalaman lahir dan batin. Kehadiran raga tentu dibarengi kesanggupan untuk bernalar dan berimajinasi. Tatapan mata dan gerak tangan memungkinkan pemunculan sensasi dan pesan. Adegan melihat barang mengandung pengertian mutu, harga, bentuk, warna, dan merek. Adegan memegang cenderung mengantar ke urusan-urusan kesepakatan penjual-pembeli setelah mengajukan pelbagai pertimbangan. Tubuh di ruang belanja melakukan pendefinisian diri bertaut dengan pelbagai benda dan orang. Ruang belanja pun merangsang orang untuk merasa adaptif, represif, konfrontatif. Pelbagai hal berlangsung di ruang belanja.

Pengetahuan dan pengalaman di ruang belanja pernah menjadi materi pembelajaran di sekolah. Kita bisa membuka kembali halaman-halaman buku pelajaran dan buku bacaan terbitan masa Orde Lama sampai Orde Baru. Para penulis buku menghadirkan bacaan mengenai segala hal berkaitan belanja. Cerita-cerita digenapi dengan gambar-gambar. Kita bakal menemukan propaganda dan tata cara pemaknaan identitas,  ruang belanja, pesona benda, harga, kepuasan, keindonesiaan, dan ekspresi kultural. Kehadiran materi mengenai ruang belanja tentu menjadi awalan pembentukan pengetahuan dan udar pengalaman bagi bocah atau remaja sesuai situasi zaman. Kita ingin melakukan lacakan acak untuk mengerti agenda imajinasi dan “rekonstruksi” masa lalu.

* * *

Imajinasi kita bisa bergerak mundur ke masa 1940-an dan 1950-an. Murid-murid di Indonesia mendapat buku bacaan berjudul Matahari Terbit susunan J. Lameijn dibantu Oesman, terbitan J.B. Wolters-Groningen, Jakarta, 1950, cetakan ketiga. Gambar-gambar di buku adalah persembahan dari Menno Meeteren Brouwer. Di halaman 103-109, ada bacaan berjudul Serikat Dagang (Koperasi). Cerita tentang kampung.

Adalah sebuah kampung jang djauh letaknja dari kota. Kampung itu ketjil, rumahnja hanja 30 buah dan penduduknjapun tiada kaja. Sawahnja ketjil-ketjil dan hanja dalam musim penghudjan sadja dapat ditanami, karena ta’ ada pengairannja. Tetapi sungguhpun demikian, orang kampung itu senang djuga hatinja. Betul mereka itu tidak menjimpan uang, tetapi hasil sawah dan kebunnja tjukup untuk dimakannja dan membeli pakaian serta keperluannja jang lain-lain.

Kita diajak mengimajinasikan kampung bersahaja. Deskripsi apik mengundang memori suasana kampung di masa silam. Deskripsi mengesankan “oposisi” dengan situasi kota. Kampung tak selalu mendapat definisi miskin. Kesanggupan bertani memberi “jaminan” menjalankan hidup secara beradab dan pantas. Kita pun mulai diajak masuk ke pengertian-pengertian tatanan hidup warga kampung berupa pembentukan serikat dagang atau koperasi.

Di kampung, agenda belanja memiliki pelbagai persoalan mengacu ke peran-peran ekonomi. Dulu, para pedagang keturunan Tionghoa biasa masuk kampung untuk menjajakan pelbagai dagangan.. Kita ajukan kutipan kecil: “Ada djuga seorang-orang Tionghoa jang berdjaja kekampung itu, tetapi tiada tentu datangnja. Kadang-kadang ketika ada jang perlu benar, ia tidak datang.” Warga kampung mesti memiliki siasat agar pengadaan kebutuhan hidup keseharian tidak tersendat atau tegantung pada pedagang Tionghoa. Mereka pun beranggapan bahwa “barang-barang orang Tionghoa itu amat mahal, karena ia tahu, bahwa ia seorang sadja jang berdjualan kesitu dan lagi ia mesti membawa barang itu dari djauh.”

Warga kampung memutuskan membuat serikat dagang, bermaksud melancarkan pemenuhan kebutuhan hidup. Mereka iuran dan menjalankan sistem koperasi. Pengelolaan dan keuntungan disepakati sejak awal bermisi kesejahteraan para anggota. Keputusan mewujud dengan pembangunan serikat dagang bernama Kedai Sepakat. Kita diperkenankan berimajinasi mengenai Kedai Sepakat melalui gambar. Lihat, Kedai Sepakat ada di pinggir jalan kampung! Kita bisa melihat tatanan dagangan meski tak utuh. Di jalan, ada pedagang pikulan, perempuan berjalan, dan dokar. Suasana kampung tampak indah dan bersih.

Pasar Tempo dahulu
Kedai-Kedai Rakyat Dengan Segala Kegiatanya.

Cerita tentang koperasi muncul di buku berjudul Bahasa Indonesia: Bacaan Jilid 3 C terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1980. Buku pelajaran untuk kelas 3 di sekolah dasar. Murid-murid tampil sebagai tokoh mengelola koperasi sekolah. Cerita mengajak anak menjadi orang berani berusaha dan bertanggung jawab. Cerita berjudul Koperasi Sekolah menampilkan tokoh bernama Ima, Ratna, Ridwan, Gunawan, dan Pak Guru.

Bermacam-macam barang dijual di koperasi sekolah itu. Makanan, minuman, dan alat tulis-menulis. Harganya murah. Yang melayani murid-murid sendiri. Mereka ditugaskan bergiliran. Kepala sekolah datang juga di koperasi dan menghampiri mereka. “Anak-anak, berbelanja di koperasi sekolah harus tertib. Koperasi ini milik kamu. Oleh karena itu peliharalah baik-baik! Semua akan mendapat giliran untuk melayani. Jagalah kebersihan! Bicaralah dengan sopan!

Kita bisa mengartikan pesan kepala sekolah bahwa ruangan koperasi harus bersih. Dagangan mesti ditata rapi. Kesadaran ruang untuk belanja membuat pengelola dan pembeli merasa senang. Cerita ini ajakan pada anak untuk mengerti urusan menjaga kebersihan dan kerapian ruangan. Mereka bisa membandingkan pengelolaan ruangan dengan toko-toko umum. Informasi dan imajinasi koperasi sekolah menjadi bekal bagi murid membuat tasfir saat hadir secara ragawi di toko-toko atau koperasi.

Koperasi Sekolah, Tidak melulu tentang aktifitas jual beli, namun juga aktifitas sosialisasi antar siswa agar terjalin komunikasi secara personal.
Kita beralih ke bacaan berbeda di buku berjudul Tjahaja karangan Johan van Hulzen, disadur oleh Mahju’ddin dan A. Muchtar, terbitan Noordhoff-Kolff N.V., Jakarta, 1951, cetakan ke-8. Gambar-gambar dibuat oleh Sajuti Karim. Kita mendapat pengertian rekreasi dalam pengalaman bocah benama Djus saat diajak bapak dan ibu pergi ke pekan. Djus berpakaian bagus, bepergian ke pekan bersama ibu dan bapak. Mereka tampak keluarga mapan, mengacu ke penampilan. Pergi ke pekan untuk melihat dan belanja. Deskripsi perjalanan ke pekan melalui mata Djus: “Ramai benar didjalan raja. Orang berdjalan beriring-iring dan ada jang dahulu-mendahului. Semuanja hendak kepekan membawa djualannja. Pedati dan bendipun tidak kurang…”

Aktifitas Harian Menuju dan Dari Rumah Merupakan Kegiatan yang saling terkait.
Pengalaman melihat dan masuk ke toko: “Wah, alangkah ramainja! Pelbagai barang didjual orang. Bagus-bagus kain jang didjual ditoko-toko.” Pengalaman Djus mengajak kita berimajinasi ada perbedaan situasi di pekan. Para pedagang buah dan makanan ada di pinggir djalan. Pedagang dan tatanan dagangan tak memerlukan lahan luas. Situasi berbeda ada di toko. Kita mengandaikan di toko ada tatanan rapi dagangan kain. Pembeli memiliki hak untuk melihat ruangan dan dagangan sambil membuat keputusan membeli. Toko sebagai ruang belanja tentu memiliki tata sajian berbeda dengan para pedagang di luar toko. Pengalaman di pekan masih tersimpan di diri Djus. Pulang ke rumah, Djus masih mengenang: “Terbajang-bajang dimatanja segala jang dilihatnja siang hari tadi. Kain jang bagus-bagus, seterup es, kedai nasi…” Pergi ke pekan adalah rekreasi bagi bocah. Ruang belanja adalah ruang pelesiran.

Pengalaman pergi ke pekan atau pasar juga hadir di buku berjudul Jitno dan Jatni karangan M. Sofian, terbitan Ganaco, Bandung-Jakarta-Amsterdam, 1957. Buku ini bacaan di sekolah rendah. Bacaan berjudul Mengikuti Ibu Kepasar dan Dipasar tampak memuat keterangan gamblang mengenai situasi di pasar. Jitno dan Jatni ikut ibu ke pasar, melihat keramaian. Deskripsi mengenai situasi dan ruang di pasar: “Bermatjam-matjam didjual orang dipasar itu. Disini tempat orang berdjual kain. Disana kedai tjawan pinggan. Sebelah sana lagi daging, ikan dan sajur-sajuran. Buah-buahan lain pula tempatnja. Tiap-tiap tempat ada tempatnja masing-masing.” Kita mendapat informasi pembagian tempat berdagang sesuai dagangan. Barangkali posisi para pedagang dan dagangan tampak rapi. Pasar tak selalu dimengerti berantakan atau amburadul. Di pasar, orang memiliki  pilihan untuk mendatangi tempat pedagang.

Ilustrasi mengenai Ibu Menemani aktifitas anaknya dengan suka cita.

Cerita tentang bocah ikut ibu pergi ke pasar juga dimuat di buku berjudul Bahasa Kita karangan Baidillah Halian, terbitan Remadja Karja, Bandung, 1970, cetakan ke-16.  Buku bacaan bagi murid sekolah dasar kelas IV. Cerita berjudul Ikut Ibu Kepasar mengesankan ada kegembiraan bocah saat ada di pasar. Suasana pasar tampak dalam gambar. Kutipan kalimat-kalimat dalam cerita semakin menjelaskan tentang kenaifan bocah menikmati suasana pasar: “Ramai orang dipasar. Banjak sekali berdjual beli. Pasar Sukasari baru selesai dibangun. Tempat orang berdjualan sudah teratur. Dekat pintu masuk berderat orang berdjual buah-buahan. Tempat itu terbuka. Bermatjam-matjam buah-buahan didjual orang disana. Pepaja, pisang, tomat. 


Kalau musim durian, tentu banjak durian didjuak orang.” Bacaan dan gambar menjadi acuan informasi bagi pembaca-bocah untuk mengerti pasar.
Pembagian lokasi penjualan membuat pasar jadi rapi, bersih, dan tertib. Di lokasi lain, kita dapatkan keterangan penjual daging: “Ibu menundju kelos tempat orang mendjual daging. Los itu tertutup. Mendjaga supaja lalat djangan masuk. Banjak orang mendjual daging didalam los itu. Jang banjak didjual daging sapi. Daging kerbau dan daging kambingpun ada didjual orang.” Deskripsi-deskripsi itu menerangkan bahwa si bocah bernama Toto memiliki pengalaman penting: hadir di pasar dan melihat pembagian tempat untuk para pedagang. Bacaan ini memungkinan murid-murid memiliki informasi sebelum pergi ke pasar. Informasi bercampur imajinasi dan diejawantahkan dengan kehadiran di pasar.

Karwapi menerbitkan buku berjudul Mari Bersajak, terbitan Pelita Masa, Bandung, 1977. Buku berisi 18 puisi untuk murid sekolah dasar kelas IV, V, VI. Usia pembaca bisa menjelaskan kemampuan membaca puisi dan memberi tafsir. Di halaman 42-43, Karwapi suguhkan puisi berjudul Desa dan Kota. Di atas judul puisi, ada gambar kesibukan orang-orang di pasar.

Kota, desa, sama saja
Masing-masing bergantungan
Jika desa tidak ada
Kota akan kesulitan

Bayangkanlah kota besar
Penduduknya amat banyak
Orang desa tak ke pasar
Mengirim barang berarak

Pasti orang kelaparan
Meski pun uang di saku
Bertumpuk jenis bilangan
Pasar kosong hidup beku
Pasar adalah ruang belanja. Pasar menjadi ruang pertemuan orang-orang desa dan kota. Di pasar, pelbagai komoditas dihadirkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan hidup. Pedagang dan pembeli bertemu demi transaksi melalui kesepakatan. Pasar biasa ramai oleh gairah komunikasi antara pedagang dan pembeli. Gairah itu mengandung argumentasi dan pengharapan untuk mendapat barang atau mendapat keuntungan. Tatanan acak para pedagang di pasar membuat komunikasi dan interaksi tak bersekat. Keramaian tentu mencirikan pasar. Orang-orang datang dan pergi. Para Pedagang menata dagangan sambil berharap mendapat rezeki. Di pasar, ruang berkisah kesibukan dan memuat pesan-pesan mengenai identitas orang. Pasar sebagai ruang belanja semakin mengesahkan pertemuan orang desa dan orang kota.

Ilustrasi Kegiatan Pasar pada ruang yang sedikit " Modern "
Orangtua meminta anak untuk belanja ke toko atau kedai adalah kelaziman. Si bocah berangkat ke toko dengan harapan mendapat barang dan merasakan pengalaman “membeli”. Buku berjudul Bendera Berkibar karangan Djohar, terbitan Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan Republik Indonesia, 1951 memuat cerita bocah belanja ke kedai atau toko. Garapan gambar oleh Sajuti Karim. Buku ini bacaan untuk murid-murid di “sekolah rakjat”. Cerita berjudul Kekedai menampilkan gambar apik. Lihat, si pemilik kedai tampak berjalan di belakang si bocah perempuan! Kita bisa melihat di dalam toko ada tatanan dagangan, ditaruh di lemari. Di bagian luar, kotak-kota berisi dagangan. Kedai sederhana di kampung memang biasa menjual kebutuhan harian: kopi, gula, sabun, beras, jajanan, bumbu masakan. Si bocah perempuan itu ke kedai untuk membeli kopi dan gula. Pengalaman bocah hadir di toko mengartikan ada keberanian membeli sesuai dengan perintah orangtua. Di toko, bocah melihat pelbagai dagangan tapi tak tergoda untuk membeli jajanan.

Ilustrasi Jual Beli Antara Pembeli anak-anak dan pedagang.
Ketakjuban di toko diceritakan dalam buku berjudul Bahasaku karangan B.M. Nur dan W.J.S. Purwadarminta, terbitan Tiara, Bandung, 1968, cetakan ke-22. Buku bacaan untuk murid sekolah dasar kelas V. Amir ingin sepeda baru. Keinginan Amir dituruti sang bapak. Berdua pergi ke Toko Madju untuk membeli sepeda. Deskripsi ketakjuban Amir di dalam toko: “Wah, bukan main banjaknja sepeda disitu! Bingung Amir memilihnja, sehingga harus ditolong oleh jang empunja toko. Achirnja terpilih djuga olehnja sebuah. Sepeda itu masih baru tampaknja, lengkap dengan tempat bagasi, pompa, dan lampu berkonja.” Amir girang dengan peristiwa kunjungan ke toko.

Budi Membeli Sepeda Dengan Girangnya.
Girang juga dirasakan oleh Budi. Kita simak cerita berjudul Baju Baru 5 cm Kain, dimuat di buku berjudul Indonesia Membangun karangan Sunarya, terbitan Tiga Serangkai, Solo, 1976. Buku ditujukan ke murid-murid sekolah dasar kelas IV. Budi pergi ke toko sandang untuk membeli kain. Di gambar, kita lihat pedagang dan Budi sedang bertransaksi. Ruangan toko tampak rapi, berlatar kain digantung dan tatanan kain di atas lemari. Kita menduga Budi merasa senang di dalam toko. Adegan melihat dan memegang kain menjadi urusan mengesankan. Proses transaksi pun memberi pengalaman berbahasa-berkomukasi dan menuruti misi membeli melalui kesepakatan.

Budi Beli Kain.
Hari ini sekolah libur
Budi dan bapak pergi ke kota
Mereka naik oplet
Jalannya sangat cepat
Sampai di kota masih pagi

Bapak dan Budi berbelanja di toko
Mereka membeli sepatu dan buku
Mereka pulang naik kereta api
Sampai di rumah masih siang.
 Cerita seolah diberikan ke bocah-bocah asal desa. Peristiwa pergi ke kota untuk belanja mengesankan tak ada toko di desa atau kampung. Perjalanan ke kota memerlukan alat tranportasi. Belanja sepatu dan buku tentu peristiwa penting bagi Budi. Cerita memang tidak rinci dan utuh. Kita cuma mengandaikan Budi kagum dan senang saat ada di dalam toko: memilih sepatu dan buku. Di toko, mata budi tentu ingin melihat pelbagai hal. Tangan pun tergoda untuk memegang barang-barang. Toko di kota adalah representasi kemodernan ketimbang suasana di desa. Kehadiran di toko tentu peristiwa tak terlupakan.


Pilihan membuka ulang halaman-halaman buku pelajaran dan bacaan pada masa silam memang mengesankan nostalgia. Cerita dan gambar tampil apik dan sederhana. Di halaman-halaman cerita dan gambar, kita bisa mengandaikan diri sebagai bocah dengan imajinasi kehadiran di ruang belanja. Imajinasi sebagai pembaca juga memberi  rangsangan untuk mengerti perbedaan pebagai ruang belanja. Cerita dan gambar menjadi representasi  perkembangan zaman dan pengisahan Indonesia, dari masa ke masa. Begitu. 

Share:

onopo.id