Mengubah Spasi Menjadi Ruang Rasa.

  • kota bersih tanpa sampah, mungkinkah

    Mengacu pada data dari Bank Dunia, satu orang rata-rata menghasilkan 0,6 kg sampah setiap harinya. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 250 juta jiwa (berdasarkan data dari Biro Pusat Statistik, 2014), maka produksi sampah Indonesia bisa mencapai lebih dari 151.298 ton per harinya. Sementara hasil pengamatan sampah di Camar sendiri dapat mencapai 3-4 kg/rumah.

  • Feminimisme Dalam Lingkungan Perkotaan

    Feminisme diawali dengan suatu pergerakan sosial yang muncul di dunia Barat pada tahun 1800-an dengan tuntutan kesamaan hak dan keadilan bagi perempuan.

  • Rekonstruksi ruang klasik perbelanjaan

    Imajinasi kita bisa bergerak mundur ke masa 1940-an dan 1950-an. Murid-murid di Indonesia mendapat buku bacaan berjudul Matahari Terbit susunan J. Lameijn dibantu Oesman, terbitan J.B. Wolters-Groningen, Jakarta, 1950, cetakan ketiga. Gambar-gambar di buku adalah persembahan dari Menno Meeteren Brouwer. Di halaman 103-109, ada bacaan berjudul Serikat Dagang (Koperasi). Cerita tentang kampung.

  • 7 Tempat Paling Menarik Di Kebun Raya Bogor

    Setiap hari, kebun botani yang memiliki luas 87 hektar dengan koleksi sekitar 15 ribu tanaman ini tak pernah sepi dari kunjungan wisatawan. Namun, luasnya Kebun Raya Bogor kadang membuat kita bingung untuk mengunjungi spot mana yang paling menarik .

  • Tentang SDE dan Gerilya Pemulihan Krisis

    Sebuah krisis berskala global yang sejarahnya bisa ditarik jauh ke masa revolusi industri, saat terjadi peningkatan kebutuhan akan bahan mentah. Di masa awal itu Karl Marx misalnya telah mengenali ada gap yang membesar antara dua jenis metabolisme. Pertama, metabolisme untuk kepentingan reproduksi yang instruksinya genetik.

Pencarian Jati Diri Arsitektur Indonesia

Sumber menginspirasi
alice in wonderland

Semasa kuliah, saya diajarkan menggambar secara arsitektural. Satu hal yang ditekankan adalah gambar tersebut harus informatif. Ada slogan Satu gambar bernilai seribu kata yang muncul pertama kali pada tahun 1911 pada sebuah artikel koran ("Speakers Give Sound Advice". Syracuse Post Standard (page 18). March 28, 1911) yang sedang mendiskusikan topik jurnalisme dan penerbitan.

Sudah seabad berlalu, namun kalimat itu masih terus didengungkan. Dari slogan itu muncul guyonan bahwa buku arsitektur harus banyak gambarnya, karena arsitek jagonya baca gambar, bukan tulisan.

Kenapa bidang arsitektur identik dengan keahlian menggambar? Saya jadi bertanya-tanya, mengapa seseorang merasa terpanggil menjadi arsitek? Karena memiliki keahlian menggambar indah dan memvisualkan sebuah mimpi dan harapan? Karena memiliki keahlian berkomunikasi menggunakan gambar? Karena dapat menyakinkan klien untuk mendanai dan mewujudkan mimpi yang belum kesampaian? Karena memiliki pemahaman teknis dalam pelaksanaan pembangunan? Karena memiliki keahlian dalam menggali kepribadian dan merealisasikan mimpi alam bawah sadar sang klien? Ataukah karena kita memiliki keahlian dalam berasumsi, menyimulasikan, dan pada akhirnya memproyeksikan masa depan? Apa bedanya arsitek dengan nabi yang bernubuat maka segalanya akan terjadi? Bagaimana arsitek bisa begitu yakin, mana karya terbaiknya untuk mereka tawarkan kepada masyarakat umum yang mereka layani?

Ketika bekerja sebagai praktisi, sudut pandang saya terhadap arsitektur melebar. Pelebaran sudut pandang ini berpengaruh pada tingkat toleransi saya dalam mempertahankan desain atau gambar. Sampai saat ini saya masih mencari tahu sejauh mana batas tolerensi tersebut bisa diterima. Satu hal yang saya yakini saat ini, arsitektur adalah persoalan tentang visi, bukan hanya persoalan tentang  desain atau gambar.

Dalam pandangan saya, sebuah visi pasti bicara soal mimpi, cita-cita, serta nilai-nilai yang ingin dicapai dan disetujui bersama oleh arsitek dan masyarakat. Kemampuan berarsitektur menjadi kemampuan untuk melihat, menyadari, dan menemukan apa yang ingin kita capai bersama di masa depan, melalui realisasi visi itu sendiri.

Dalam perjalanan, saya meraba-raba visi tersebut. Saya menemukan bahwa kita sebagai manusia memiliki kemampuan yang sangat bervariasi dalam mengapresiasi dan menikmati arsitektur. Secara umum, saya coba membaginya menjadi dua macam. Pertama, sebagai pembuat bangunan dan kedua, sebagai pengguna bangunan. Kedua tipe penikmat arsitektur tersebut, ternyata ,bisa memiliki pengelihatan dan pencerapan yang sangat berbeda saat melihat objek yang sama. Hal ini didukung oleh pernyataan V. S. Ramachandran, seorang ilmuwan neurosains yang dikenal akan karyanya dalam bidang neurologi perilaku dan psikofisika (kajian yang menghubungkan sifat-sifat fisik stimulus dengan pengalaman seseorang terhadap stimulus tersebut,“Eyes are not unique to us, but vision does not occur in the eye. It occurs in the brain.”

Apa yang kita “lihat” bukan yang sebenarnya kita lihat, namun merupakan produk-hasil-akhir dari proses kerja otak yang secara efektif-efisien telah menerima-mengirim-mengolah input data sensori (dalam jumlah yang besar) dalam waktu yang sangat singkat. Produk-hasil-akhir ini jelas sangat dipengaruhi oleh ragam vocabulary memori dan ekspektasi kita. Ragam memori dan ekspektasi ini juga ditentukan oleh ragam pengalaman dan pengetahuan kita masing-masing, yang juga dipengaruhi oleh konteks di mana kita bertumbuh, cara kita dibesarkan dan berbudaya, serta bawaan sifat genetis. Bila demikian, jelaslah bahwa masing-masing dari kita bisa “melihat” hal yang berbeda walaupun sedang melihat objek visual yang sama.

Perlu disadari bahwa perbedaan “pengelihatan” antara sang pembuat dan pengguna arsitektur mungkin saja menjadi sangat signifikan. Kita yang dididik menjadi seorang arsitek, dilatih untuk melihat lingkungan di sekitar kita dengan “mata arsitektural”.  Beberapa prinsip desain pasti sudah mendarah daging dalam setiap keputusan desain yang kita lakukan dan bahkan dalam setiap tarikan garis tangan.  Pada titik ekstrem, kita sebagai pembuat bangunan bisa melihat apa yang para pengguna bangunan tidak bisa lihat, namun juga sebaliknya. Perlu disadari bahwa sangat mungkin kita sebagai pembuat bangunan tidak bisa melihat apa yang dilihat oleh pengguna bangunan. Apalagi melihat apa yang ingin dilihat oleh pengguna bangunan dengan yang latar belakang dan kompetensinya berbeda . Di sisi lain, satu hal yang pasti adalah kita lebih mudah menerka apa yang bisa dilihat oleh sesama kolega dari karya kita, daripada apa yang bisa dilihat oleh pengguna bangunan.  Kita lebih mudah untuk menerka karya seperti apa yang akan dipuji oleh kolega kita, daripada oleh pengguna bangunan. Nah!

Saat saya menyadari hal tersebut, saya menjadi ragu serta tidak percaya diri dalam menebak-nebak kebutuhan dan keinginan klien. Menebak-nebak karya mana yang terbaik untuk saya tawarkan. Menebak-nebak tanpa bekal informasi dan waktu yang cukup untuk benar-benar memahami secara sadar alasan rasional dari setiap pilihan yang harus saya buat dalam mendesain. Bagaimana saya yakin bahwa ini bukan semata-mata atas nama kepuasan diri dan ego? Bagaimana saya bisa membedakan apakah saya sedang melayani kebutuhan klien ataukah memanipulasi klien demi mimpi idealisme saya pribadi? Ah terlalu jauh, toh saya kerjanya hanya menebak-nebak dari hari ke hari, lalu merevisi berkali-kali dari hasil tebakan baru itu. Kalau sedang kesal dan tidak bisa menebak, saya menyalahkan klien yang tidak jelas kemauannya. Loh, bukannya saya yang salah atau tidak bisa melihat kebutuhan klien?

Lelah menebak-nebak, saya menginvestigasi. Mungkin tidak sekeren itu. Saya hanya  mencoba untuk menyadari apa yang dilihat oleh pikiran saya sendiri. Berusaha menyelami pikiran saya pribadi,baik sebagai pembuat bangunan maupun sebagai pengguna bangunan. Mencoba menggali kesadaran diri saya pribadi sebagai bekal untuk menyadari apa yang orang lain sadari dan tidak sadari (baik orang tersebut melihat dirinya sebagai pembuat maupun pengguna bangunan). Dan tentu saja pada akhirnya untuk menyadari apa yang sebelumnya tidak saya sadari. Dengan melakukan hal tersebut,  saya harap saya bisa menyempurnakan tebakan saya kan. Semoga.

*hanya untuk guyonan*

Profesi arsitek: profesi tebak-menebak.

Bila anda beruntung, anda benar.

Bila anda sial, anda salah. Namun akan selalu ada pihak yang bisa melihat anda benar: kolega dan fans anda.

Bila anda hebat, walaupun anda salah, anda selalu bisa membenarkan diri anda sendiri dengan kemampuan meyakinkan & berlogika anda yang di atas rata-rata masyarakat awam. hehehe

Bila saya mengawali tulisan dengan slogan “Satu gambar bernilai seribu kata”, maka saya akan mengakhiri sepotong kisah pencarian  ini dengan sebuah slogan yang masih terus saya sadari dalam penglihatan saya pribadi. Bahwa dengan membuka hati dan pikiran untuk menempatkan diri di luar diri kita sebagai sang pembuat bangunan, saya justru mulai menyadari kedalaman dan kekayaan dari sebuah karya bangunan. Karena…

Satu bangunan bernilai seribu intensi dan seribu impresi.

Satu bangunan bernilai seribu sensasi. dan seribu persepsi.
Share:

Kota bersih Tanpa Sampah, Mungkinkah?

Sumber Menginspirasi.

mengolah sampah
Kreatifitas Mengolah Sampah.

Pada 30 Mei 2015, LabTanya, sebuah lab riset dan eksperimen pada studio arsitektur AWD, mengadakan diskusi bertajuk “Buka Studio: Kota Tanpa Sampah” bersama warga RW 08 di kawasan Camar, Bintaro Sektor 3. Acara ini bertujuan untuk memamerkan dan mensosialisasikan gagasan dari inisiatif “Bagaimana Jika: Kota Tanpa Sampah”.

Proyek “Bagaimana Jika?” merupakan rangkaian dari lima subproyek inisitaif untuk mempelajari lebih jauh berbagai alternatif keseharian yang lebih relevan di antara tumpukan persoalan di sekitar kita. Melalui inisiatif tersebut, para mahasiswa arsitektur dan beberapa freshgraduate yang tergabung dalam LabTanya menggali berbagai peluang mengaplikasikan pengetahuan mereka untuk menanggapi dinamika sehari-hari.

Perjalanan Menuju Kota Tanpa Sampah

Proyek ini mengambil kawasan Camar di Bintaro, tempat LabTanya dan studio arsitektur AWD berada. Sejak tahun lalu, kawasan Camar menjuarai lomba K3 (Kebersihan, Ketertiban, dan Keamanan). Namun rupanya di balik keberhasilan menjadi lingkungan yang bersih, kawasan Camar masih merupakan salah satu penyetor sampah ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Rawa Kucing di Cengkareng. Sampah yang dihasilkan oleh rumah-rumah dibersihkan dari lingkungannya, lalu dipindahkan ke TPA Rawa Kucing sehingga lingkungan Camar menjadi bersih. Namun TPA Rawa Kucing justru mendapatkan beban sampah kiriman. Tanpa sadar, saat membersihkan sampah, kita hanya memindahkannya dari lingkungan kita ke tempat lain.

Mengacu pada data dari Bank Dunia, satu orang rata-rata menghasilkan 0,6 kg sampah setiap harinya. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 250 juta jiwa (berdasarkan data dari Biro Pusat Statistik, 2014), maka produksi sampah Indonesia bisa mencapai lebih dari 151.298 ton per harinya. Sementara hasil pengamatan sampah di Camar sendiri dapat mencapai 3-4 kg/rumah. Dengan 840 kepala keluarga yang ada di Camar, maka produksi sampah di lingkungan Camar sendiri dapat mencapai 2.940 kg per hari. Lalu mampukah lahan-lahan TPA itu terus menampung produksi sampah kita? Sampai kapankah TPA harus selalu memperluas lahannya agar mampu menampung sampah dari konsumsi kita?

Kegiatan riset dan eksperimen Kota Tanpa Sampah dilakukan selama 4 bulan secara bertahap. Tahapan pertama kegiatan ini berupaya membongkar paradigma yang ada dalam masyarakat selama ini. LabTanya menunjukkan fakta serta problematika yang muncul karena sampah. LabTanya  juga mengundang warga Camar, Bintaro, untuk melihat kontrasnya keadaan di Camar dan di TPA Rawa Kucing. Bincang santai tersebut rupanya berhasil memberikan sudut pandang yang berbeda mengenai akibat yang muncul dari kegiatan konsumsi sehari-hari., sehingga warga yang datang pun tertarik untuk berperan serta dalam proyek Kota Tanpa Sampah.

Pada tahapan kedua, tim Kota Tanpa Sampah menggali data kegiatan konsumsi di rumah-rumah para relawan. Mulai dari mendata jumlah anggota keluarga, kebiasaan berbelanja, hingga sampah hasil konsumsi oleh rumah tangga tersebut. Data-data tersebut kemudian diolah untuk memetakan pola alur konsumsi dan aktor-aktor yang berperan dalam proses terbentuknya sampah dalam lingkup rumah tangga. Mulai dari produk dibeli oleh salah satu orang di rumah, dikonsumsi, hingga akhirnya menghasilkan sisa sampah yang kemudian dibuang ke tempat sampah di rumah.

Pada tahapan ketiga, setelah memahami siapakah aktor-aktor yang berperan penting dalam alur sampah rumah tangga, mulailah tim LabTanya bersama dengan para relawan mencari alternatif-alternatif untuk mengurangi produksi sampah dalam skala rumah tangga. Secara garis besar, ada dua strategi yang bisa diaplikasikan. Pertama, strategi ‘pintu belakang’, yaitu mencoba mengurangi sampah yang pada akhirnya dikirim menuju TPA. Ada dua cara yang dapat dilakukan dalam strategi ini, yaitu dengan cara reuse dan recycle. Reuse berarti menggunakan ulang barang-barang bekas sisa, misalnya menggunakan bekas kaleng susu bayi menjadi pot-pot bunga. Recycle adalah memperpanjang daur hidup suatu barang. Untuk sisa-sisa organik, daur hidupnya bisa diperpanjang dengan menggunakan komposter, yang mengubahnya menjadi kompos sebagai penyubur tanaman. Untuk sisa-sisa yang tidak membusuk, bisa dikelompokkan dalam penampungan-penampungan sementara sesuai jenisnya untuk kemudian disalurkan ke pengepul dan dikirim ke pihak pendaur ulang. Penting untuk kemudian mengenali, meneliti, serta memetakan jaringan pengepul di sekitar tempat tinggal: Apa-apa saja yang diterima? Bagaimana dan ke mana proses daur berikutnya? Di sekitar Camar, tim LabTanya juga memetakan beberapa jaringan pengepul yang berada dalam radius kurang lebih 1.000 meter, serta jenis-jenis barang yang mereka terima. Dalam simulasi ini, strategi ‘pintu belakang’ saja mampu mengurangi sampah rumah tangga hingga 80%.

Strategi selanjutnya, adalah ‘pintu depan’, yaitu dengan cara reduce dan replace. Reduce, yaitu mengurangi penggunaan benda-benda yang memiliki risiko sampah tinggi, misalnya mengurangi konsumsi minuman kemasan, atau mengurangi konsumsi camilan yang dikemas dengan kemasan plastik berlebih. Sedangkan replace, dalam hal ini adalah mengganti konsumsi barang-barang tertentu dengan alternatifnya yang lebih ramah lingkungan. Misalnya dengan mengganti penggunaan kresek dengan tas belanja yang bisa digunakan berulangkali. Kombinasi strategi pintu belakang dan strategi pintu depan, dalam simulasi yang dilakukan oleh tim LabTanya, rupanya mampu mengurangi jumlah sampah hingga 98%. Salah satu relawan bahkan berhasil mengurangi sampah rumah tangganya dari 2,4kg menjadi 0,05kg di akhir program. “Sekarang udah dikit sampahnya, tadi pagi saya gak buang sampah sama sekali ke depan,” ujar Mbak Elis, seorang asisten rumah tangga dari salah satu relawan.


Masih ada banyak tantangan yang muncul saat melakukan simulasi bersama warga, seperti kurangnya minat para relawan untuk menggunakan drum-drum komposter, yang dianggap bau dan tidak indah. Namun rupanya hal ini tidak mengurangi semangat para relawan untuk mencoba mengurangi sampah rumah tangga mereka. Muncul berbagai alternatif untuk mengomposkan sisa-sisa organik. Salah satu relawan misalnya, mengomposkan sisa makanan rumahnya dengan cara membuat sebuah lubang kecil di halamannya untuk membuang sisa makanan dan sampah-sampah lain yang membusuk. 

Kota Tanpa Sampah, Mungkin!
Mengolah Sampah
Mengolah Sampah
Tentu inisiatif baik sebaiknya disebarluaskan. Maka dari itu, sebagai tahap akhir (atau justru awal) dari proyek Kota Tanpa Sampah ini, diadakanlah acara “BukaStudio: Kota Tanpa Sampah”. Acara ini merupakan upaya sosialisasi hasil riset dan eksperimen ini. Arsitek biasanya melakukan pameran dengan berbagai media arsitektur seperti gambar-gambar ortografis, ilustrasi 3D, maupun maket. Justru kali ini tim Kota Tanpa Sampah memamerkan konsepnya melalui media-media yang berbeda seperti video, simulasi teatrikal, serta penyajian prototipe ide dalam skala 1:1.

Riset  ini menjadi sebuah ruang bagi para arsitek di LabTanya untuk mentransformasi pengetahuan arsitekturnya dan bereksperimen mengenai praktik arsitektur yang relevan dan dekat dengan keseharian masyarakat. Proyek ini menjelajahi sudut pandang yang lain mengenai problematika sampah di sekitar kawasan Camar. Sampah yang tadinya hanya dilihat sebagai barang-barang atau sisa-sisa yang kotor dan harus dibersihkan, kini mulai didefinisikan ulang. Sampah merupakan sisa-sisa konsumsi yang memang sudah tidak ada manfaatnya sama sekali, dan tidak bisa didaur ulang. Cara kita menyikapi sampah lalu bukan lagi “Buanglah sampah pada tempatnya” melainkan “Tempatkan sisa konsumsi untuk masuk ke daur hidup berikutnya”.

Diskusi BukaStudio ini mengajak kita semua untuk bisa lebih sadar mengenai risiko sampah yang muncul dari perilaku konsumsi sehari-hari dan membeirkan kita pilihan langkah yang lebih relevan. Dimulai dari yang dekat, kegiatan sehari-hari dan langkah-langkah kecil bisa mengantarkan kita menuju sebuah visi kota yang terbebas dari persoalan sampah.

Dalam kegiatan Buka Studio juga terdapat penjelasan tentang problematika sampah serta sharing pengalaman dari relawan yang terlibat. Tim Greeneration Foundation memaparkan strategi menajemen persampahan rumah tangga. Tim LabTanya menyiapkan display untuk menjelaskan konsep Kota Tanpa Sampah dalam skala 1:1, antara lain melalui display mengenai Toko Tanpa Sampah yang kemasan produknya tidak berisiko sampah setelah konsumsi. Tidak hanya itu, para tamu juga dijamu dengan sajian makanan dan minuman dengan kemasan yang telah dirancang mendukung konsep Kota Tanpa Sampah, yaitu beragam makanan dengan kemasan berisiko sampah yang rendah, serta minuman sehat dan menyegarkan yang bisa diisi ulang dengan gelas maupun tempat minum milik audiens.

Baca Juga Jati Diri Arsitektur

“Ternyata cara membuat kota menjadi bersih dari sampah itu gampang,” ujar Faradika, salah satu pengunjung yang datang. Antusiasme masyarakat yang cukup tinggi terhadap kegiatan ini, menunjukkan bahwa proyek Kota Tanpa Sampah justru merupakan awal dari pergerakan yang lebih besar lagi. Masih ada banyak tantangan dan peluang yang menanti untuk dibongkar dan ditaklukkan bersama. Sebuah harapan dan perspektif yang berbeda: bahwa Kota Tanpa Sampah itu mungkin!

Share:

Rekonstruksi Ruang Klasik Perbelanjaan Beserta Cerita-Cerita Yang Mengiringinya

Sumber Menginspirasi
Pasar Tradisional
Sebuah Ilustrasi Mengenai Kondisi Tempo Dahulu, Dimana Interaksi antar warga terasa lebih "Hidup"

Peristiwa mendatangi pasar, toko, mal, dan pusat perbelanjaan memberi pengalaman lahir dan batin. Kehadiran raga tentu dibarengi kesanggupan untuk bernalar dan berimajinasi. Tatapan mata dan gerak tangan memungkinkan pemunculan sensasi dan pesan. Adegan melihat barang mengandung pengertian mutu, harga, bentuk, warna, dan merek. Adegan memegang cenderung mengantar ke urusan-urusan kesepakatan penjual-pembeli setelah mengajukan pelbagai pertimbangan. Tubuh di ruang belanja melakukan pendefinisian diri bertaut dengan pelbagai benda dan orang. Ruang belanja pun merangsang orang untuk merasa adaptif, represif, konfrontatif. Pelbagai hal berlangsung di ruang belanja.

Pengetahuan dan pengalaman di ruang belanja pernah menjadi materi pembelajaran di sekolah. Kita bisa membuka kembali halaman-halaman buku pelajaran dan buku bacaan terbitan masa Orde Lama sampai Orde Baru. Para penulis buku menghadirkan bacaan mengenai segala hal berkaitan belanja. Cerita-cerita digenapi dengan gambar-gambar. Kita bakal menemukan propaganda dan tata cara pemaknaan identitas,  ruang belanja, pesona benda, harga, kepuasan, keindonesiaan, dan ekspresi kultural. Kehadiran materi mengenai ruang belanja tentu menjadi awalan pembentukan pengetahuan dan udar pengalaman bagi bocah atau remaja sesuai situasi zaman. Kita ingin melakukan lacakan acak untuk mengerti agenda imajinasi dan “rekonstruksi” masa lalu.

* * *

Imajinasi kita bisa bergerak mundur ke masa 1940-an dan 1950-an. Murid-murid di Indonesia mendapat buku bacaan berjudul Matahari Terbit susunan J. Lameijn dibantu Oesman, terbitan J.B. Wolters-Groningen, Jakarta, 1950, cetakan ketiga. Gambar-gambar di buku adalah persembahan dari Menno Meeteren Brouwer. Di halaman 103-109, ada bacaan berjudul Serikat Dagang (Koperasi). Cerita tentang kampung.

Adalah sebuah kampung jang djauh letaknja dari kota. Kampung itu ketjil, rumahnja hanja 30 buah dan penduduknjapun tiada kaja. Sawahnja ketjil-ketjil dan hanja dalam musim penghudjan sadja dapat ditanami, karena ta’ ada pengairannja. Tetapi sungguhpun demikian, orang kampung itu senang djuga hatinja. Betul mereka itu tidak menjimpan uang, tetapi hasil sawah dan kebunnja tjukup untuk dimakannja dan membeli pakaian serta keperluannja jang lain-lain.

Kita diajak mengimajinasikan kampung bersahaja. Deskripsi apik mengundang memori suasana kampung di masa silam. Deskripsi mengesankan “oposisi” dengan situasi kota. Kampung tak selalu mendapat definisi miskin. Kesanggupan bertani memberi “jaminan” menjalankan hidup secara beradab dan pantas. Kita pun mulai diajak masuk ke pengertian-pengertian tatanan hidup warga kampung berupa pembentukan serikat dagang atau koperasi.

Di kampung, agenda belanja memiliki pelbagai persoalan mengacu ke peran-peran ekonomi. Dulu, para pedagang keturunan Tionghoa biasa masuk kampung untuk menjajakan pelbagai dagangan.. Kita ajukan kutipan kecil: “Ada djuga seorang-orang Tionghoa jang berdjaja kekampung itu, tetapi tiada tentu datangnja. Kadang-kadang ketika ada jang perlu benar, ia tidak datang.” Warga kampung mesti memiliki siasat agar pengadaan kebutuhan hidup keseharian tidak tersendat atau tegantung pada pedagang Tionghoa. Mereka pun beranggapan bahwa “barang-barang orang Tionghoa itu amat mahal, karena ia tahu, bahwa ia seorang sadja jang berdjualan kesitu dan lagi ia mesti membawa barang itu dari djauh.”

Warga kampung memutuskan membuat serikat dagang, bermaksud melancarkan pemenuhan kebutuhan hidup. Mereka iuran dan menjalankan sistem koperasi. Pengelolaan dan keuntungan disepakati sejak awal bermisi kesejahteraan para anggota. Keputusan mewujud dengan pembangunan serikat dagang bernama Kedai Sepakat. Kita diperkenankan berimajinasi mengenai Kedai Sepakat melalui gambar. Lihat, Kedai Sepakat ada di pinggir jalan kampung! Kita bisa melihat tatanan dagangan meski tak utuh. Di jalan, ada pedagang pikulan, perempuan berjalan, dan dokar. Suasana kampung tampak indah dan bersih.

Pasar Tempo dahulu
Kedai-Kedai Rakyat Dengan Segala Kegiatanya.

Cerita tentang koperasi muncul di buku berjudul Bahasa Indonesia: Bacaan Jilid 3 C terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1980. Buku pelajaran untuk kelas 3 di sekolah dasar. Murid-murid tampil sebagai tokoh mengelola koperasi sekolah. Cerita mengajak anak menjadi orang berani berusaha dan bertanggung jawab. Cerita berjudul Koperasi Sekolah menampilkan tokoh bernama Ima, Ratna, Ridwan, Gunawan, dan Pak Guru.

Bermacam-macam barang dijual di koperasi sekolah itu. Makanan, minuman, dan alat tulis-menulis. Harganya murah. Yang melayani murid-murid sendiri. Mereka ditugaskan bergiliran. Kepala sekolah datang juga di koperasi dan menghampiri mereka. “Anak-anak, berbelanja di koperasi sekolah harus tertib. Koperasi ini milik kamu. Oleh karena itu peliharalah baik-baik! Semua akan mendapat giliran untuk melayani. Jagalah kebersihan! Bicaralah dengan sopan!

Kita bisa mengartikan pesan kepala sekolah bahwa ruangan koperasi harus bersih. Dagangan mesti ditata rapi. Kesadaran ruang untuk belanja membuat pengelola dan pembeli merasa senang. Cerita ini ajakan pada anak untuk mengerti urusan menjaga kebersihan dan kerapian ruangan. Mereka bisa membandingkan pengelolaan ruangan dengan toko-toko umum. Informasi dan imajinasi koperasi sekolah menjadi bekal bagi murid membuat tasfir saat hadir secara ragawi di toko-toko atau koperasi.

Koperasi Sekolah, Tidak melulu tentang aktifitas jual beli, namun juga aktifitas sosialisasi antar siswa agar terjalin komunikasi secara personal.
Kita beralih ke bacaan berbeda di buku berjudul Tjahaja karangan Johan van Hulzen, disadur oleh Mahju’ddin dan A. Muchtar, terbitan Noordhoff-Kolff N.V., Jakarta, 1951, cetakan ke-8. Gambar-gambar dibuat oleh Sajuti Karim. Kita mendapat pengertian rekreasi dalam pengalaman bocah benama Djus saat diajak bapak dan ibu pergi ke pekan. Djus berpakaian bagus, bepergian ke pekan bersama ibu dan bapak. Mereka tampak keluarga mapan, mengacu ke penampilan. Pergi ke pekan untuk melihat dan belanja. Deskripsi perjalanan ke pekan melalui mata Djus: “Ramai benar didjalan raja. Orang berdjalan beriring-iring dan ada jang dahulu-mendahului. Semuanja hendak kepekan membawa djualannja. Pedati dan bendipun tidak kurang…”

Aktifitas Harian Menuju dan Dari Rumah Merupakan Kegiatan yang saling terkait.
Pengalaman melihat dan masuk ke toko: “Wah, alangkah ramainja! Pelbagai barang didjual orang. Bagus-bagus kain jang didjual ditoko-toko.” Pengalaman Djus mengajak kita berimajinasi ada perbedaan situasi di pekan. Para pedagang buah dan makanan ada di pinggir djalan. Pedagang dan tatanan dagangan tak memerlukan lahan luas. Situasi berbeda ada di toko. Kita mengandaikan di toko ada tatanan rapi dagangan kain. Pembeli memiliki hak untuk melihat ruangan dan dagangan sambil membuat keputusan membeli. Toko sebagai ruang belanja tentu memiliki tata sajian berbeda dengan para pedagang di luar toko. Pengalaman di pekan masih tersimpan di diri Djus. Pulang ke rumah, Djus masih mengenang: “Terbajang-bajang dimatanja segala jang dilihatnja siang hari tadi. Kain jang bagus-bagus, seterup es, kedai nasi…” Pergi ke pekan adalah rekreasi bagi bocah. Ruang belanja adalah ruang pelesiran.

Pengalaman pergi ke pekan atau pasar juga hadir di buku berjudul Jitno dan Jatni karangan M. Sofian, terbitan Ganaco, Bandung-Jakarta-Amsterdam, 1957. Buku ini bacaan di sekolah rendah. Bacaan berjudul Mengikuti Ibu Kepasar dan Dipasar tampak memuat keterangan gamblang mengenai situasi di pasar. Jitno dan Jatni ikut ibu ke pasar, melihat keramaian. Deskripsi mengenai situasi dan ruang di pasar: “Bermatjam-matjam didjual orang dipasar itu. Disini tempat orang berdjual kain. Disana kedai tjawan pinggan. Sebelah sana lagi daging, ikan dan sajur-sajuran. Buah-buahan lain pula tempatnja. Tiap-tiap tempat ada tempatnja masing-masing.” Kita mendapat informasi pembagian tempat berdagang sesuai dagangan. Barangkali posisi para pedagang dan dagangan tampak rapi. Pasar tak selalu dimengerti berantakan atau amburadul. Di pasar, orang memiliki  pilihan untuk mendatangi tempat pedagang.

Ilustrasi mengenai Ibu Menemani aktifitas anaknya dengan suka cita.

Cerita tentang bocah ikut ibu pergi ke pasar juga dimuat di buku berjudul Bahasa Kita karangan Baidillah Halian, terbitan Remadja Karja, Bandung, 1970, cetakan ke-16.  Buku bacaan bagi murid sekolah dasar kelas IV. Cerita berjudul Ikut Ibu Kepasar mengesankan ada kegembiraan bocah saat ada di pasar. Suasana pasar tampak dalam gambar. Kutipan kalimat-kalimat dalam cerita semakin menjelaskan tentang kenaifan bocah menikmati suasana pasar: “Ramai orang dipasar. Banjak sekali berdjual beli. Pasar Sukasari baru selesai dibangun. Tempat orang berdjualan sudah teratur. Dekat pintu masuk berderat orang berdjual buah-buahan. Tempat itu terbuka. Bermatjam-matjam buah-buahan didjual orang disana. Pepaja, pisang, tomat. 


Kalau musim durian, tentu banjak durian didjuak orang.” Bacaan dan gambar menjadi acuan informasi bagi pembaca-bocah untuk mengerti pasar.
Pembagian lokasi penjualan membuat pasar jadi rapi, bersih, dan tertib. Di lokasi lain, kita dapatkan keterangan penjual daging: “Ibu menundju kelos tempat orang mendjual daging. Los itu tertutup. Mendjaga supaja lalat djangan masuk. Banjak orang mendjual daging didalam los itu. Jang banjak didjual daging sapi. Daging kerbau dan daging kambingpun ada didjual orang.” Deskripsi-deskripsi itu menerangkan bahwa si bocah bernama Toto memiliki pengalaman penting: hadir di pasar dan melihat pembagian tempat untuk para pedagang. Bacaan ini memungkinan murid-murid memiliki informasi sebelum pergi ke pasar. Informasi bercampur imajinasi dan diejawantahkan dengan kehadiran di pasar.

Karwapi menerbitkan buku berjudul Mari Bersajak, terbitan Pelita Masa, Bandung, 1977. Buku berisi 18 puisi untuk murid sekolah dasar kelas IV, V, VI. Usia pembaca bisa menjelaskan kemampuan membaca puisi dan memberi tafsir. Di halaman 42-43, Karwapi suguhkan puisi berjudul Desa dan Kota. Di atas judul puisi, ada gambar kesibukan orang-orang di pasar.

Kota, desa, sama saja
Masing-masing bergantungan
Jika desa tidak ada
Kota akan kesulitan

Bayangkanlah kota besar
Penduduknya amat banyak
Orang desa tak ke pasar
Mengirim barang berarak

Pasti orang kelaparan
Meski pun uang di saku
Bertumpuk jenis bilangan
Pasar kosong hidup beku
Pasar adalah ruang belanja. Pasar menjadi ruang pertemuan orang-orang desa dan kota. Di pasar, pelbagai komoditas dihadirkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan hidup. Pedagang dan pembeli bertemu demi transaksi melalui kesepakatan. Pasar biasa ramai oleh gairah komunikasi antara pedagang dan pembeli. Gairah itu mengandung argumentasi dan pengharapan untuk mendapat barang atau mendapat keuntungan. Tatanan acak para pedagang di pasar membuat komunikasi dan interaksi tak bersekat. Keramaian tentu mencirikan pasar. Orang-orang datang dan pergi. Para Pedagang menata dagangan sambil berharap mendapat rezeki. Di pasar, ruang berkisah kesibukan dan memuat pesan-pesan mengenai identitas orang. Pasar sebagai ruang belanja semakin mengesahkan pertemuan orang desa dan orang kota.

Ilustrasi Kegiatan Pasar pada ruang yang sedikit " Modern "
Orangtua meminta anak untuk belanja ke toko atau kedai adalah kelaziman. Si bocah berangkat ke toko dengan harapan mendapat barang dan merasakan pengalaman “membeli”. Buku berjudul Bendera Berkibar karangan Djohar, terbitan Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan Republik Indonesia, 1951 memuat cerita bocah belanja ke kedai atau toko. Garapan gambar oleh Sajuti Karim. Buku ini bacaan untuk murid-murid di “sekolah rakjat”. Cerita berjudul Kekedai menampilkan gambar apik. Lihat, si pemilik kedai tampak berjalan di belakang si bocah perempuan! Kita bisa melihat di dalam toko ada tatanan dagangan, ditaruh di lemari. Di bagian luar, kotak-kota berisi dagangan. Kedai sederhana di kampung memang biasa menjual kebutuhan harian: kopi, gula, sabun, beras, jajanan, bumbu masakan. Si bocah perempuan itu ke kedai untuk membeli kopi dan gula. Pengalaman bocah hadir di toko mengartikan ada keberanian membeli sesuai dengan perintah orangtua. Di toko, bocah melihat pelbagai dagangan tapi tak tergoda untuk membeli jajanan.

Ilustrasi Jual Beli Antara Pembeli anak-anak dan pedagang.
Ketakjuban di toko diceritakan dalam buku berjudul Bahasaku karangan B.M. Nur dan W.J.S. Purwadarminta, terbitan Tiara, Bandung, 1968, cetakan ke-22. Buku bacaan untuk murid sekolah dasar kelas V. Amir ingin sepeda baru. Keinginan Amir dituruti sang bapak. Berdua pergi ke Toko Madju untuk membeli sepeda. Deskripsi ketakjuban Amir di dalam toko: “Wah, bukan main banjaknja sepeda disitu! Bingung Amir memilihnja, sehingga harus ditolong oleh jang empunja toko. Achirnja terpilih djuga olehnja sebuah. Sepeda itu masih baru tampaknja, lengkap dengan tempat bagasi, pompa, dan lampu berkonja.” Amir girang dengan peristiwa kunjungan ke toko.

Budi Membeli Sepeda Dengan Girangnya.
Girang juga dirasakan oleh Budi. Kita simak cerita berjudul Baju Baru 5 cm Kain, dimuat di buku berjudul Indonesia Membangun karangan Sunarya, terbitan Tiga Serangkai, Solo, 1976. Buku ditujukan ke murid-murid sekolah dasar kelas IV. Budi pergi ke toko sandang untuk membeli kain. Di gambar, kita lihat pedagang dan Budi sedang bertransaksi. Ruangan toko tampak rapi, berlatar kain digantung dan tatanan kain di atas lemari. Kita menduga Budi merasa senang di dalam toko. Adegan melihat dan memegang kain menjadi urusan mengesankan. Proses transaksi pun memberi pengalaman berbahasa-berkomukasi dan menuruti misi membeli melalui kesepakatan.

Budi Beli Kain.
Hari ini sekolah libur
Budi dan bapak pergi ke kota
Mereka naik oplet
Jalannya sangat cepat
Sampai di kota masih pagi

Bapak dan Budi berbelanja di toko
Mereka membeli sepatu dan buku
Mereka pulang naik kereta api
Sampai di rumah masih siang.
 Cerita seolah diberikan ke bocah-bocah asal desa. Peristiwa pergi ke kota untuk belanja mengesankan tak ada toko di desa atau kampung. Perjalanan ke kota memerlukan alat tranportasi. Belanja sepatu dan buku tentu peristiwa penting bagi Budi. Cerita memang tidak rinci dan utuh. Kita cuma mengandaikan Budi kagum dan senang saat ada di dalam toko: memilih sepatu dan buku. Di toko, mata budi tentu ingin melihat pelbagai hal. Tangan pun tergoda untuk memegang barang-barang. Toko di kota adalah representasi kemodernan ketimbang suasana di desa. Kehadiran di toko tentu peristiwa tak terlupakan.


Pilihan membuka ulang halaman-halaman buku pelajaran dan bacaan pada masa silam memang mengesankan nostalgia. Cerita dan gambar tampil apik dan sederhana. Di halaman-halaman cerita dan gambar, kita bisa mengandaikan diri sebagai bocah dengan imajinasi kehadiran di ruang belanja. Imajinasi sebagai pembaca juga memberi  rangsangan untuk mengerti perbedaan pebagai ruang belanja. Cerita dan gambar menjadi representasi  perkembangan zaman dan pengisahan Indonesia, dari masa ke masa. Begitu. 

Share:

Kekayaan Raja Saudi Salman Bin Abdulaziz Al-Saud hingga tempat-tempat menarik yang layak di kunjungi di Arab Saudi.

King Salman, Saudi Arabia

Kedatangan Raja Salman ini menjadi momen bersejarah bagi Indonesia dan Arab Saudi, mengingat kunjungan Raja Arab terakhir dilakukan 46 tahun lalu.


Berbagai persiapan telah dilakukan tengah menyambut kedatangan Raja Salman dan keluarga kerajaan. Lahir dan besar di keluarga bangsawan, tentu membuat Raja Salman lekat dengan gaya hidupnya yang mewah.

Pria Yang gemar beramal ini memiliki kekayaan total sebanyak 400 Triliun Rupiah, itu merupakan kekayaan pribadi, sedangkan untuk kekayaan keluarganya di taksir sebesar 18.620 Triliun Rupiah, Sebuah angka yang sekiranya wajar apabila menilik jumlah lini usaha keluarga yang sangat besar, terutama dalam bidang Minyak dan Properti.

Raja Salman merupakan raja Arab Saudi ketujuh. Ia lahir pada 31 Desember 1935 di Riyadh. Ayahnya adalah Raja Abdulaziz bin Abdulrahman al- Saud dan ibunya adalah Hassa binti Ahmad al-Sudairi.

Sebelum menjadi raja menggantikan saudara tirinya, Raja Abdullah bin Abdulaziz al-Saud yang wafat pada 23 Januari 2015, penerus gelar penjaga dua kota suci ini sempat menjabat sebagai Gubernur di Riyadh era 1955-1960 dan era 1963-2011.

Hafal Alquran di Usia 10 Tahun

Raja Salman hidup di lingkungan keluarga yang disipiln. Dia sudah hafal Alquran di usia 10 tahun.

Adil dalam menegakkan hukum dan gencar memerangi korupsi.

Tidak ada kata diskriminasi dalam penegakan hukum di Arab Saudi. Jika ada yang melanggar hukum, ia mesti dihukum sesuai dengan peraturan yang berlaku. Itu berlaku bahkan untuk keluarga kerajaan tanpa terkecuali.

Raja Salman mengumumkan bahwa tidak ada perlakuan khusus yang akan diberikan kepada Pangeran dan keluarganya, dimata hukum semua itu sama. Ia juga dikenal gencar memerangi korupsi.

Tinggalkan Obama demi Salat

Pada 27 Januari 2015, Presiden AS Barack Obama dan sang istri, Michelle Obama menemui Raja Salman di istana kerajaan. Kunjungan Obama dan Michelle saat itu juga jadi pemberitaan utama media-media internasional. Sebab, Obama dan Ibu Negara AS itu tiba-tiba ditinggalkan Raja Salman setelah suara azan terdengar. Raja Salman “permisi” untuk menjalankan salat.

Bagi-bagi uang kepada rakyatnya

Sesuai tradisi, raja baru diwajibkan membagikan sebagian hartanya ke seluruh penduduk Arab Saudi. Setiap penduduk mendapatkan uang tunai sebesar Rp. 62 juta.

Tempat-Tempat Menarik yang wajib di kunjungi di Arab Saudi

Masjidil Haram.
Haram Masjidil
Masjidil Haram.
Selain menjadi lokasi untuk melakukan ibadah haji dan umrah, Masjidil Haram juga merupakan daya tarik tertentu bagi wisatawan dunia. Masjid yang berada di Kota Mekkah ini dipandang sebagai tempat tersuci bagi umat Islam. Masjid ini dibangun mengelilingi Ka’bah yang menjadi arah kiblat bagi umat Islam di seluruh dunia dalam mengerjakan ibadah salat. Masjid yang merupakan masjid terbesar di dunia ini tentu saja tidak pernah sepi. Berjuta-juta umat muslim datang ke masjid ini untuk beribadah setiap tahunnya. Menurut sebuah hadits, apabila seorang Muslim melakukan satu kali salat di masjid ini, maka pahalanya setara dengan melakukan 100.000 salat di masjid lain.

Gua Hira.

Tempat turunnya wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril as. Surat Al-Alaq ayat 1-5.

Karena memiliki nilai historis yang tinggi, gua ini selalu dikunjungi oleh jamaah haji dan umroh dari berbagai negara.

Gua Hira ini terletak di jabal Nur 3,2 km dari Mekkah dengan panjang 3,7 m dan lebar 1,6 m dan tinggi 2 m. Ada sekitar 600 anak tangga yang harus dilewati untuk mendaki gua tersebut.

Karena letaknya di tebing yang curam (tidak terlalu tinggi) dengan lereng lereng jabal Nur yang kering dan berbatu, maka Anda memerlukan fisik dan mental yang prima untuk bisa mencapai gua ini.

Selain melihat lihat keadaan gua hira, para wisatawan biasanya juga melakukan shalat di tempat ini.

Padang Arafah
Padang Arafah.
Padang Arafah adalah padang pasir yang luas di mana bagian belakangnya dikelilingi dengan bukit bukit batu.

Di tempat inilah jutaan ummat Muslim melaksanakan rukun haji, yaitu wuquf di padang Arafah setiap tanggal 9 Djulhijjah.

Wuquf sendiri berarti berhenti. Menyiratkan makna bahwa manusia sejenak berhenti dari segala aktivitas keduniaannya dan mulai mendekatkan diri kepada Tuhan semesta alam yaitu Allah SWT.

Wuquf di sini bisa diisi dengan berdzikir, berdo’a dan juga beribadah. Semuanya diniatkan untuk mendapatkan ridha dan rahmat dari Allah SWT.

Wuquf di Padang Arafah juga dijadikan momentum untuk melakukan instropeksi diri dan menimbang amal kebaikan dan keburukan yang pernah dilakukan.

Padang Arafah ini terletak di sebelah timur 25 km dari kota suci Mekkah. Di tempat ini terdapat jabal Rahmah yang diyakini sebagai tempat bertemunya Nabi Adam as dengan Siti Hawa setelah dipisahkan selama bertahun tahun lamanya.


Inilah tempat wisata di Arab Saudi yang hanya dipenuhi pada saat musim haji tiba.

Masjid Nabawi
Masjid Nabawi
Masjid ini merupakan salah satu masjid terpenting yang ada di Arab Saudi, tepatnya di Kota Madinah.

Masjid ini dibangun oleh Nabi Muhammad dan menjadi masjid terbesar kedua di dunia setelah Masjidil Haram. Menurut hadits, apabila umat Muslim mengerjakan satu kali salat di masjid ini, pahalanya lebih besar dari seribu kali salat di masjid lain. Salah satu bagian Masjid Nabawi yang terkenal adalah Raudlah atau taman surga. Raudlah terletak di antara mimbar dan makam—yang dulunya merupakan rumah—Nabi Muhammad.

Madain Saleh
Saleh Madain
Madain Saleh
Nama lainnya adalah al-Hijr, ada juga yang menyebutnya Hegra.

Adalah situs arkeologi di mana ada banyak peninggalan sisa peradaban Nabatean. Letaknya sendiri berada pada 22 km arah timur laut dari kotamadya Al Ula provinsi Madinah.

Madain Saleh menjadi kebanggaan tersendiri bagi kerajaan Arab Saudi, karena ia dinobatkan sebagai salah satu dari World Heritage Site atau situs warisan dunia,

Di Madain Saleh yang luasnya mencapai 4,010 hektar ini, pernah ditemukan batu-bata yang diperkirakan dari bangunan rumah warga, dan para arkeolog pun menganggapnya sebagai peninggalan dari umat Nabi Saleh.

Ada juga beberapa batu karang yang ditemukan oleh para arkeolog yang merupakan hasil budaya kaum Tsamud, 131 monumen pemakaman yang terbuat dari batu, dan juga tembikar dan lain sebagainya di Jabal Athlab.

Gunung Uhud
Mountain Uhud
Gunung Uhud
Gunung Uhud di Arab Saudi adalah situs Pertempuran Uhud terkenal yang berjuang pada tanggal 23 Maret, 625 CE. Wilayah eksotis ini merupakan bagian intrinsik dari Arab Saudi Panduan Wisata. Membentang dari Timur ke barat gunung memiliki kemiringan ke arah utara dan mencakup total tujuh kilometer panjangnya dan tiga kilometer napas.


Pasar Kurma Madinah
Kurma Madinah
Pasar Kurma Madinah
Tempat wisata di Arab Saudi yang berupa pasar adalah Pasar Kurma Madinah.
Di Pasar Kurma Madinah dijual berbagai jenis kurma yang harganya bervariasi, mulai dari 30 Riyal sampai 90 Riyal. Selain kurma, Anda juga dapat menemukan biskuit-biskuit yang terbuat dari bahan dasar kurma di pasar ini. Pasar Kurma Madinah terletak sekitar 600 meter di sebelah selatan Masjid Nabawi. Pasar yang dibangun tahun 1982 ini dibuka sejak pukul 7 hingga 23 malam waktu setempat bila pada musim haji. Untuk itu, berkunjunglah ke pasar ini bila Anda termasuk pecinta kurma.

Air Mancur King Fadh
Water Fountain King Fadh
Water Fountain King Fadh

Ini adalah air mancur tertinggi di dunia. Nama lainnya adalah fountain Jeddah, dan nafura king fahd.

Dinamakan demikian karena air mancur ini dibuat atas perintah Raja Fahd dan disumbangkan ke kota Jeddah.

Terletak di pantai Jeddah, pantai barat Arab Saudi dengan ketinggian 312 meter sehingga air mancur ini dapat terlihat di seluruh kawasan sekitar Jeddah.

Air mancur ini menggunakan 3 pompa jet raksasa yang dapat menembakkan 625 liter air/detik dengan kecepatan 375 km/jam dan massa udara yang dapat melebihi 18 ton.

Dan adapun airnya adalah air asin yang langsung diambil dari laut merah dan bukan air tawar.

Pada malam hari pemandangannya akan jauh lebih indah karena air mancur ini menggunakan lebih dari 500 lampu sorot untuk meneranginya. 

Akan tetapi jangan terlalu berharap banyak akan melihat atraksi air di Nafura King Fahd ini.

Air mancur ini hanya air dari Laut Merah yang dipancurkan dengan ketinggian luar biasa yang dibantu dengan pencahayaan saja.

Meskipun begitu, air mancur yang pernah tercatat di guinness book of world records ini tetap ramai dikunjungi banyak wisatawan.

Air mancur ini dibangun antara tahun 1980 dan tahun 1983 dan mulai beroperasi pada tahun 1985.


Keberadaannya tidak jauh dengan resto-resto yang menyediakan makanan enak. Sehingga setelah selesai makan, jamaah atau wisatawan bisa berkeliling melihat pertunjukkan air mancur.

Jamarat Bridge
Bridge Jamarat
Jamarat Bridge
Jamarat Bridge di Arab Saudi adalah tempat yang harus dilihat tidak hanya untuk umat Islam tetapi juga bagi mereka yang termasuk agama lain karena memiliki tempat yang sangat signifikan dalam di antara tempat-tempat wisata menarik di Arab Saudi. Panduan Wisata Anda di Arab Saudi tidak bisa tanpa nama Jamarat Bridge.

Jannat al-baqi
Jannat Al-Baqi

Wisata religi dan sejarah akan lebih luar biasa sensasinya apabila berkunjung juga ke Jannat al-Baqi atau yang dikenal juga dengan sebutan Tree Garden of Heaven ini. Di Arab Saudi, ini merupakan lokasi sakral bagi umat muslim sebab merupakan tanah pemakaman dengan sejarah besar.


Isi dari tempat ini adalah sisa-sisa peninggalan dari keluarga, kerabat serta sahabat Nabi Muhammad, bahkan juga termasuk kakek dan ibu mertuanya. Maka bagi yang berkesempatan berkunjung, boleh berziarah juga di tempat ini dan bisa mengetahui dimana letak berbagai sisa-sisa peninggalah dari keluarga, serta sahabat Nabi Muhammad.


Jabbal Magnet
Magnet Jabal
Jabal Magnet

Jabal Magnet atau yang juga dikenal sebagai Lembah Jin merupakan sebuah lembah yang menjadi lokasi “atraksi pariwisata”. Fenomena yang terkenal dari lokasi ini adalah adanya “pertentangan gravitasi”. Jabal Magnet berada di luar daerah haram sehingga bebas untuk dikunjungi warga non muslim. Kawasan perbukitan ini diyakini memiliki daya dorong. Apabila Anda mengunjungi tempat ini, sebaiknya Anda membawa atau menyewa mobil. Kemudian Anda dapat membuat persneling mobil Anda dalam keadaan netral. Mobil Anda akan secara perlahan-lahan “tertarik” dan berjalan dengan sendirinya dan lama-kelamaan mobil Anda akan melaju semakin cepat, bahkan bisa melebihi 120 kilometer per jam.

Jabal al-Lawz 



al-Lawz Jabal
Jabal al-Lawz 

Wisata Jabal al-Lawz tidak boleh dilewatkan begitu saja oleh para pecinta alam dan gunung. Obyek wisata berupa sebuah gunung dengan tinggi 2.580 meter di atas permukaan laut ini bila ada di sebelah barat laut Arab Saudi. Gunung yang akan menyuguhkan beragam flora dan fauna cantik nan unik ini memiliki arti gunung almond.


Jika ingin hal yang lebih menantang dari sekadar menonton berbagai keindahan alamnya, trekking adalah aktivitas yang membuat pengalaman Anda bertambah di arena ini yang akan menambah adrenalin anda dalam perjalanan wisata anda.

Masjid Quba'
Quba Mosque

Paling suci-suci di antara masjid di Madinah, The suci-suci di antara masjid di Madinah, Masjid Quba di Arab Saudi merupakan masjid tertua di dunia. Didatangi para peziarah di seluruh dunia, masjid kuno adalah salah satu terkemuka Tempat Wisata Arab Saudi dan merupakan bagian dari setiap Arab Saudi Panduan Wisata. di Arab Saudi merupakan masjid tertua di dunia. Didatangi para peziarah di seluruh dunia, masjid kuno adalah salah satu terkemuka Tempat Wisata Arab Saudi dan merupakan bagian dari setiap Arab Saudi Panduan Wisata.

Tayma

Arabia saudi tayma
Tayma 

Tayma terletak di bagian timur laut dari Arab Saudi dan catatan sejarah menunjukkan bahwa tempat ini telah menjadi permukiman Yahudi makmur, terdiri dari bangunan-bangunan megah dan banyak sumur dan sumber air lainnya. Pada abad ke-7 SM, Tayma di Arab Saudi telah menjadi tempat yang sangat menonjol dan kami memiliki namanya disebutkan dalam Perjanjian Lama dalam kitab Yeremia.

“Sejarah manusia adalah sejarah sepatu. Sejarah tentang tempat dimana ia pernah berpijak dan menjejak.” 
Share:

Tokoh Pembangun yang Berperan di Awal Kemerdekaan

Sumber menginspirasi
Arsitek itu untuk siapa? 

Usulan Rancangan Monas karya Silaban ©Rifandi Septiawan Nugroho

Pertanyaan ini sepantasnya terus dilontarkan; sebagai pengingat, catatan, dan juga refleksi tentang kontribusi yang telah diberikan oleh para arsitek di Indonesia. Beberapa catatan tentang sebagian dari mereka―arsitek di era kemerdekaan―memberi gambaran akan pahit dan manisnya bersinergi bersama pemerintah.

Mereka pernah berjaya, kebanjiran proyek di tengah gemuruh pembangunan nasional pada satu-per-empat periode setelah Indonesia merdeka. Semuanya merupakan bagian dari usaha presiden pertama, Soekarno, untuk mengatasi dilema dirinya atas keberagaman demografis yang dimiliki Indonesia. Saat itu kondisi politik belum begitu stabil, konflik dan perpecahan antar etnis sangat rentan terjadi. Menjadikan satu etnis tertentu sebagai jati diri bangsa dianggap sesuatu yang berbahaya. Modernisme ditempuh sebagai jalan pintas pencarian jati diri baru bangsa Indonesia, dianggap sebagai sesuatu yang paling netral dalam menyampaikan ideologi dirinya.

Karya-karya arsitektur saat itu tidak cukup terdefinisikan dengan kata modern, tapi juga monumental. Apa yang dilakukan oleh Soekarno bertujuan untuk mencapai efek sublim, membuat orang lain takjub dan tenggelam ke dalam pesona sublimisme tersebut. Dalam kondisi tersebut sudah pasti arsitek menjadi profesi yang sangat dibutuhkan pemerintah untuk mewujudkan mimpinya. Namun kejayaan tidak pernah mutlak, ada pula titik dimana para arsitek harus mengalah pada kenyataan yang pahit. Pasang surut perjalanan tiga arsitek Indonesia ini merupakan potongan kecil dari mozaik sejarah arsitektur yang lebih besar.

Bertepatan di tahun 1959, muncul perkumpulan anak muda yang mendirikan Ikatan Arsitek Indonesia yang berganti dari nama sebelumnya NIAK. Upaya ini dilakukan sebagai pembebasan diri dari ingatan kolonial. Mereka berusaha mewujudkan “pembangunan nasional” melalui identitas.

Lakon pertama diwakilkan Frederich Silaban, arsitek yang sudah sering terdengar namanya bagi sejarah arsitek modern Indonesia. Silaban memiliki tendensi karya yang monumentalis dan modern. Latar belakang kesukaannya terhadap musik klasik mempengaruhi karya-karyanya. Hal ini tercermin pada usahanya menggubah bangunan dengan sangat memperhatikan skala, proporsi, ritme, dan harmoni seperti yang tertera pada teori estetika klasik. Kecenderungan dirinya yang seperti itu menjadikan ia sosok yang tepat bagi mimpi Soekarno.

Di tahun 1955, ia terlibat pada proyek sayembara monumen nasional yang digagas Soekarno. Meskipun hanya menjadi pemenang kedua tapi ia menjadi yang terbaik karena tidak ada pemenang pertama. Pada tahun itu tidak didapatkan rancangan yang diharapkan Soekarno. Hingga Soekarno  menunjuk kembali Silaban dan Soedarsono untuk bekerjasama membuat rancangan baru pada tahun 1961. Karena idealisme dirinya yang cukup kuat, Silaban memilih untuk menolak tawaran itu. Kemudian ia meminta untuk membuat rancangan sendiri-sendiri saja. Akhirnya, rancangan Silaban pun tidak jadi dibangun karena skala bangunan yang dirancangnya terlalu besar sedangkan dana anggaran tidak memadai. Kedekatan dirinya dengan Soekarno membuat dirinya menjadi arsitek “laris” dan dipilih untuk membangun beberapa bangunan lainnya di ibu kota. Selain proyek ini, ia juga merupakan perancang dari Masjid Istiqlal, Bank Indonesia, Markas Besar AURI, dan Hotel Banteng.


Kedua adalah  Soejoedi Wirjoatmodjo, seorang arsitek kelahiran Rembang, 27 Desember 1928, hari yang bertepatan dengan pengakuan kedaulatan negara Indonesia. Soejoedi berjuang menyelesaikan masa studinya dengan berpindah-pindah di tiga kampus dari tiga negara yang berbeda. Setelah belajar di L’ecole des Beaux-Arts, Paris, 1954 dan Technische Hoogeschool Delft, 1955. Akhirnya ia menyelesaikan tahapan akhir pendidikannya di Technische Universitat, Berlin Barat. Dirinya harus berpindah-pindah kampus karena pengaruh dari nasionalisasi perusahaan asing di Indonesia yang pada saat itu sangat gencar dilakukan oleh pemerintah. Hubungan antara pemerintah Indonesia dan Belanda pun memanas. Akibat dari retaknya hubungan kedua negara ini banyak pelajar Indonesia di Belanda yang memutuskan untuk pindah negara meskipun tanpa disuruh, begitu pula dengan Soejoedi.

Soejoedi kembali ke Indonesia untuk menggantikan Profesor Insinyur Van Rommondt sebagai Ketua Jurusan Arsitektur di Institut Teknologi Bandung, karena profesor tersebut juga ingin kembali ke Negara asalnya di Belanda. Selama empat tahun Soejoedi menjabat sebagai Ketua Jurusan Arsitektur di ITB. Memiliki titel insinyur muda yang pernah mengenyam pendidikan di Eropa nyatanya bukan jaminan hidup nyaman. Soejoedi hidup sebagai orang yang perekonomiannya tergolong susah. Pada tahun 1960, selain menjadi kepala jurusan arsitektur ITB, ia mencari tambahan sehari-hari dengan bergabung bersama biro arsitek Estetika, mengepalai kantor cabang Bandung yang berkantor di garasi kediamannya sendiri. Kemudian ia juga membentuk bironya sendiri yang bernama Prakarsa. Selain berbagai jabatan tersebut, Soejoedi diangkat menjadi staf ahli bidang arsitektur di pemerintahan. Di situlah ia mengerjakan dan memenangkan proyek sayembara Gedung Conefo yang kemudian mengangkat dirinya dalam wacana arsitektur modern.

Pengerjaan Gedung Conefo tergolong ambisius dan sangat menguras tenaga arsitek. Sampai-sampai jurusan arsitektur ITB mengirimkan para mahasiswa terbaiknya untuk proyek tersebut. Mereka ditampung di Wisma Hasta dan bekerja penuh waktu. Bahkan agar para mahasiswa tersebut dapat mengikuti ujian dan kuliah, para dosen didatangkan dari Bandung ke Jakarta. Perlakuan khusus tersebut menimbulkan reaksi pro dan kontra di lingkungan kampus ITB khususnya jurusan arsitektur. Namun komando presiden Soekarno bukanlah sesuatu yang dapat ditawar.

Mereka diberi waktu untuk menyelesaikan proyek setahun saja semenjak pemancangan gedung dilaksanakan tanggal 19 April 1965. Saat itu sebagian besar tenaga ahli bidang bangunan gedung Indonesia berada di Senayan untuk menyelesaikan pekerjaan monumental sebelum tanggal 17 Agustus 1966.Untuk itu semua perusahaan bangunan negara dikerahkan dalam pekerjaan yang berlainan. PN Hutama Karya mengerjakan gedung sidang, PN Adhi Karja melaksanakan gedung sekretariat, PN Nindja Karja bertanggung jawab mengerjakan auditorium dan gedung resepsi. PN Waskita Karja, di lain pihak, mengerjakan pembangunan danau buatan, plaza, dan mengerjakan semua fasilitas elektrikal; sementara PN Peprida melaksanakan pekerjaan mekanikal.

Pekerjaan ini memberi pelajaran banyak bagi Soejoedi. Berkelut dengan proyek yang ambisius membuat dirinya rela melakukan apapun mulai dari awal hingga tuntas. Ia menjadi arsitek yang cukup tangguh untuk mewujudkan mimpi sang Presiden. Setelah itu Soejoedi mendirikan konsultan PT Gubahlaras. Di bawah bendera ini Soejoedi mulai menangani berbagai proyek yang mengangkatnya sebagai salah satu arsitek Indonesia yang patut diperhitungkan.


Usulan Rancangan Monas karya Silaban ©Rifandi Septiawan Nugroho

Di Surabaya, ada seorang arsitek muda bernama Harjono Sigit. Selepas lulus sarjana pada bulan Maret tahun 1964, Harjono lekas kembali ke Jawa Timur. Kebutuhan akan profesi arsitek di Surabaya pada saat itu cukup tinggi, menurutnya arsitek dicari-cari oleh proyek bukan arsitek yang mencari-cari proyek. Terbukti, ia langsung mendapat tawaran untuk merancang bangunan Gedung Aula PPS Semen Gresik yang dikerjakannya sendirian. Kesempatan ini digunakan olehnya semaksimal mungkin, eksperimentasi struktur busur menggantung dua buah balok auditorium dengan meminimalisasi penggunaan kolom konvensional di bawahnya.

Rancangan busur beton yang diterapkan pada bangunan tersebut terinspirasi dari Palace of the Soviets, sebuah konsep arsitektur yang diajukan Le Corbusier saat mengunjungi Uni Soviet pada tahun 1928, namun gagal terbangun. Sebagai seorang penggemar Corbu, Harjono Sigit menerapkan gagasan serupa ketika ia diberi kesempatan berkarya di masa muda. Setelah keberhasilannya pada proyek pertama ini, proyek-proyek berikutnya pun berdatangan. Seperti Gedung Laboratorium Penelitian Kimia, Jagir (1967); Kantor Penggilingan Padi PT Mentras, Pasuruan (1967); hingga Guest House Perhutani di Jatirogo (1972); Taman Kanak-kanak Randu Belatung; Pasar Atum; dan Gedung Direksi Perhutani. Perlahan demi perlahan, di umurnya yang tergolong muda, ia terus menerus mendapatkan kesempatan berkarya. 

Kenyataan tidak selamanya indah. Politik Indonesia tidak pula selamanya stabil. Di sela-sela tahun 60 hingga 70an, terjadi kembali pergolakan politik di dalam negeri yang berakhir hingga pergantian presiden. Rezim berganti, begitu pula kendali dari penguasa. Di era kepemimpinan Soeharto yang dikenal dengan Orde Baru, pola pikir nasionalismenya sangat berbeda jauh dengan dengan rezim sebelumnya. Imbasnya, arsitek yang sebelumnya lancar mendapatkan proyek pun perlu sedikit bersabar.

Rezim Orde Baru yang lebih pro-Barat mencoba untuk menghapuskan semua hal yang terkait dengan rezim Soekarno. Silaban menjadi satu orang yang diasosiasikan dengan Soekarno. Faktor ini yang diduga menyebabkan keterlambatan dalam pembayaran jasa desain Silaban untuk Hotel Banteng (sekarang Hotel Borobudur). Kemungkinan hal ini juga yang menyebabkan posisi Silaban sebagai arsitek tersisihkan. Cukup ironis, dalam fase hidup terakhirnya, ketika ia pensiun dari Departemen Pekerjaan Umum, beliau sangat haus akan pekerjaan dan penghasilan. Upah pensiunannya tidak cukup untuk menghidupi keluarganya yang besar. Kedekatannya dengan Soekarno telah menyebabkan kejatuhan bagi karirnya pada rezim Orde Baru Soeharto. Beliau harus mencari pekerjaan baru yang sesuai dengan keahliannya dengan mencoba melamar pekerjaan ke PBB.

Serupa dengan dua arsitek pendahulunya, Harjono Sigit menjadi yang paling muda dalam melewati tiga fase berbeda: mulai dari Orde Lama, Orde Baru, hingga Reformasi. Di zaman Orde Baru, beliau yang sebelumnya sangat semangat mengikuti arus internasional, karyanya perlahan-lahan semakin melembut mengikuti keinginan Presiden Soeharto untuk menginjeksikan unsur “lokalitas” Indonesia pada tiap bangunan pemerintah. Gejala ini terlihat pada bangunan sekolahan yang dibangun pada sekitar tahun 90-an. Tipologinya mirip dengan bangunan sebayanya, dengan balok masa bangunan modern sesuai fungsi dipasangkan dengan atap miring bertumpuk seperti atap meru Gedung Rektorat UI karya Gunawan Tjahjono.

Ia pun mengungkapkan bahwa di zaman itu, menangani proyek pemerintah cukup melelahkan. Pihak yang terlibat ke dalam proyek semakin banyak, ia tidak lagi sebebas dirinya saat baru lulus kuliah. Bahkan pasca keruntuhan rezim Soeharto yang digantikan oleh era Reformasi, ia mengaku sudah tidak begitu bersemangat mengerjakan proyek pemerintah. “Yang campur tangan makin banyak,” ujarnya. Arsitek, menjadi sosok yang dijauhkan dari kliennya, dari fungsinya sebagai tempat berkonsultasi. Bukan lagi menjadi sosok yang personal dengan calon pengguna bangunan.

“Sejarah perlu diproduksi melalui proses pelupaan dan pengingatan (forgetting and rememberance). Istilah “pelupaan dan pengingatan” berarti kita menentukan sendiri bagaimana sejarah kita akan diceritakan. Dan ini penting untuk menunjukan jati diri si pemilik sejarah.” 

Rezim silih berganti, pembangunan pastinya bergantung pada kebijakan pemerintah dan pasang surut investasi. Dalam sebuah garis sejarah, selalu ada usaha keras untuk pembangunan yang berujung pada pembangunan identitas. Namun pada tiap titik pergantian rezim, usaha keras itu seperti berusaha menghilangkan ingatan lama. Mulai dari rezim Soekarno yang ingin melepaskan diri dari ingatan Kolonial, rezim Soeharto yang ingin melepaskan diri dari ingatan Orde Lama, dan rezim pasca Reformasi yang masih mencari jati dirinya. Campur aduk dunia politik selalu berimbas pada nasib arsitek yang terlibat pada proyek pemerintah. Kisah-kisah ini membentuk sebuah narasi arsitektural di Indonesia. Sebuah narasi modernis tentang pencitraan diri yang dihasratkan.

Rezim terkadang berusaha melupakan yang sebelumnya. Namun karya pasti selalu tercatat untuk generasi selanjutnya. Ruang-ruang dan bangunan yang hadir di era kemerdekaan ini bukanlah tempat memberi pesan, tetapi ruang itu sendiri adalah pesan; yang kalau sudah dimengerti silakan beraksi dan masuk ke dimensi berikutnya. Bangunan-bangunan itu hanyalah titik berangkat atau batu loncat ke masa depan, untuk memulai era yang baru. Bangunan-bangunan itu adalah gertakan awal yang diperlukan untuk gertakan berikutnya dan seterusnya sehingga “revolusi” terus berjalan.

Setidaknya tiga arsitek di atas mewakili beberapa arsitek lain yang cukup tangguh menanggung beban kebetulan demi kebetulan yang mereka dapatkan. Peristiwa-peristiwa yang mereka lewati menjadi tempaan bagi mereka. Ini semua mengingatkan kita bahwa arsitek tidak hidup sendirian, bukan sosok yang serba bisa menyelesaikan segala persoalan. Dengan begitu arsitek menjadi sosok yang rendah hati dan menyadari bahwa kita terkait pada siapa yang sekarang berpihak kepada kita. Sekaligus mengingatkan kita, sebagai arsitek, kita ini untuk siapa?

Tulisan ini pun hanya untuk membantu penulis mengingat kembali peran mereka, sebagai rangkuman kecil buku-buku yang telah menuliskan mereka.



Referensi

[1] Sopandi, Setiadi, dkk. 2008. Rumah Silaban. Jakarta: mAAN Publishing Indonesia.

[2] Riset Setiadi Sopandi untuk Pameran Triennale Arsitektur UPH “Waktu Adalah Ruang”.

[3] Tanggal 27 Desember 1949 adalah peristiwa soevereiniteitsoverdracht (penyerahan kedaulatan) kepada Indonesia yang ditandatangani di Istana Dam, Amsterdam. Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Pengakuan_tanggal_kemerdekaan_Indonesia_oleh_Belanda (red).

[4] Sukada, Budi A. Membuka Selubung Cakrawala Arsitek Soejoedi. Jakarta: Gubahlaras Arsitek & Perencana, 2011. Print.

[5] http://ayorek.org/harjonosigit

[6] Sidharta, Amir, Nadia Purwestri, M. Nanda Widyarta, dkk. Tegang Bentang: Seratus Tahun Perspektif Arsitektural di Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2012. Print.

Share:

onopo.id