Mengubah Spasi Menjadi Ruang Rasa.

Penyalahgunaan lahan Oleh PKL di Malioboro, Jogjakarta



Latar Belakang

Malioboro merupakan salah satu tempat perbelanjaan terkenal di Jogjakarta, disana terdapat berbagai macam souvenir Dan juga pusat oleh-oleh, wisatawan domestik maupun mancanegara biasanya terlihat hilir mudik di kawasan ini.
Namun belakangan terkadang para pedagang kurang tertib dalam berdagang, maupun menjajakan barang daganganya, Hal tersebut apabila dibiarkan akan merugikan kota jogjakarta sendiri, lantas kemudian Hal itulah yang melatari penulis untuk menulis tulisan dengan judul "penyalahgunaan lahan oleh PKL"

Gambaran Umum

Poros sentral sebuah kawasan wisata tentu tidak terlepas dari tingkat kenyamanan kotanya, salah satu indikator berhasil tidaknya suatu kawasan wisata adalah tumbuh dan berkembangnya pusat perbelanjaan yang sesuai dengan culture Dan tourism setempat. Transaksi yang terdapat dikawasan harus mengalir atau biasa disebut cashflow dengan lancar, dalam proses transaksi ini ada pembeli Dan penjual ditempat (transaksi langsung) Hal ini jika dimanagemen dengan baik akan menghasilkan sebuah karakteristik yang unik, dan khas dimasing-masing lokasi, dalam hal ini adalah malioboro, malioboro berlokasi ditempat yang sangat strategis, berdekatan dengan keraton jogjakarta dan memiliki aksesibilitas yang mudah dicapai dari seluruh kota jogja, bisa menggunakan becak, atau angkot, dan juga delman.
Karena memiliki lokasi yang sangat strategis di malioboro yang hanya memiliki paniang 1,4km dan jalanan yang hanya satu arah sehingga jumlah pedagang yang dapat ditampung tidak banyak, Hal tersebut kemudian menjadi persoalan tersendiri, yang lantas kemudian menjadi permasalahan bersama karena yang datang dimalioboro tidak hanya wisatawan domestik, tetapi juga mancanegara yang tentunya akan baik apabila citra positif yang sudah ada ditumbuh Dan kembangkan untuk kemudian menjadi keuntungan tersendiri untuk indonesia, dan khususnya masyarakat jogjakarta.

Analisa
Pedagang kaki lima umumnya bukanlah kaum yang memiliki pendidikan tinggi, mereka biasanya cenderung berfikir taktis Dan berfikir untuk jangka pendek yang pada intinya agar barang daganganya segera laku terjual yang terkadang tidak memperhatikan aspek-aspek lain dalam berdagang atau tidak berfikir untuk bagaimana caranya agar si pembeli merasa puas dan terpuaskan yang pada akhirnya menimbulkan kekecewaan pada customer atau pembeli. Lokasi berdagang juga terkadang menjadi penting, apalagi dikota wisata, dimalioboro secara umum menurut data dari UPT(unit pelayanan teknis) malioboro tahun 2014 ada sekitar 2400 pedagang yang terdaftar Dan dari 1,4km kawasan malioboro hanya 900m yang diperuntukan untuk pedagang, itu belum dikurangi lainya termasuk adanya lokasi hotel dan mall yang ada di kawasan ini.
Jika mengacu pada perda no. 26 tahun 2002 dan perwal jogja no 30 tahun 2010 tentang penataan PKl yang berbunyi "setiap pedagang dibatasi gerobag atau lapak dagangannya dengan ketentuan panjang 1,5m lebar 1,5m Dan tinggi 1,25m" maka tidak sedikit yang melanggar, terutama pada hari libur, dan sabtu minggu dimana lokasi malioboro menjadi tempat tongkrongan menarik untuk kaum muda mudi. Urgensi penyalahgunaan yang dilakukan oleh PKL sesungguhnya tidak teramat terlihat secara langsung dampaknya karena jenis pelanggaran ini akan berefek domino terhadap menurunya kualitas kota wisata, kepuasan wisatawan Dan berefek pada kebersihan lingkungan yang merembet kepada kenyamanan pengunjung yang secara langsung memberikan efek psikologis baik secara tiba-tiba atau teringat didalam ingatan Bahkan ketika pengunjung sudah berada dirumahnya.
Pelanggaran penggunaan trotoar pejalan kaki yang digunakan berdagang ada di malioboro merupakan satu dari banyak variabel yang menjadi indikator layak tidaknya suatu kota wisata dikunjungi.
Sangat tidak elok apabila ketika di keramaian pengunjung kemudian ada sidak dari para penegak unit pelayanan teknis atau satpol PP, kemudian para PKL ini berlarian kesana kemari dengan tujuan mengamankan barang bawaanya, Dari sisi etika sangat tidak pantas.

Kesimpulan Dan Saran
Didalam sebuah kota yang nyaman untuk ditinggali terdapat beberapa aspek yang harus dipenuhi Mulai dari sisi fisik seperti infrastruktur utama seperti jalan raya, penginapan, permukiman, dan utilitas, sampai infrastruktur pendukung yang pada akhirnya berimplikasi pada tingkat kenyamanan, tingkat keamanan dan lain sebagainya, Pedagang kaki lima memang tidak hanya permasalahan yang terdapat di D.I.Y saja melainkan juga di kota-kota besar lainya. Mereka manusia manusia yang harus diperlakukan secara manusiawj, tidak bokeh diskriminatif terhadap mereka. Namun keberadaan mereka juga harus harus diamini apabila terkadang mengganggu para wisatawan di malioboro. Kebutuhan mereka sudah harus Dan barang tentu harus dipikirkan oleh pemda solusinya, harus segera diambil jalan tengah dan kesepakatan bersama antara para pemangku kepentingan. Sudah seharusnya pemkot memiliki solusi-solusi nyata dalam bentuk implikasi secara langsung misalnya, melakukan pembagian shift malam dan siang, melakukan pembagian zoning area pedagang dengan konsep yang berbeda-beda namun tetap selaras dan sesuai dengan konsep lingkungan sekitarnya, mlakukan konservasi terhadap bangunan lama dan restorasi terhadap bangunan baru secara vertikal Dan tetap sesuai dengan culture masyarakat sekitarnya, dan tetap menyatu dengan bangunan-bangunan keraton baik secara historis ataupun rekaan yang sesuai dengan kondisinya. Pemda Sering-sering melakukan sosialisasi terhadap pentingya menjaga kenyamanan pengunjung agar mereka nyaman Dan ingin terus kembali lagi Dan menjadikan jl. Malioboro tidak hanya sekedar tempat berjualan tetapi menjadi satu kesatuan terhadap keraton ngayogkarta sebagai porosnya dan provinsi D.I.Y pada umumnya.

SUDARYONO 28311263 4TB01
Share: