Mengubah Spasi Menjadi Ruang Rasa.

  • 7 Tanaman Indor yang bisa jadi inspirasi

    Setelah sebelumnya mencoba untuk membuat posting akuarium lucu, kini dengan tanaman dan bunga kita berkreasi. Gaya Botanical simple menjadi primadona belakangan, dikarenakan perawatanya yang relatif mudah dan catchy di pandang.

  • Laci Unik, Do It Your Self

    Ada beberapa cara cerdas menggunakan barang-barang yang sudah tidak terpakai, laci lemari di rumah Anda misalnya, dari pada habis dimakan rayap atau tak termanfaatkan, lebih baik sediakan waktu diakhir pekan misalnya untuk memanfaatkan kembali nilainya.4 kg/rumah.

  • 7 Desain Lampu unik dan Fungsional

    kini lampu tidak hanya digunakan sebagai alat penerangan namun juga sebagai dekorasi ruangan. mulai dari yang berukuran besar berharga jutaan hingga yang berukuran kecil. berikut adalah beberapa desain lampu yang unik namun tetap fungsional.

  • 7 Tempat Paling Menarik Di Kebun Raya Bogor

    Setiap hari, kebun botani yang memiliki luas 87 hektar dengan koleksi sekitar 15 ribu tanaman ini tak pernah sepi dari kunjungan wisatawan. Namun, luasnya Kebun Raya Bogor kadang membuat kita bingung untuk mengunjungi spot mana yang paling menarik .

  • Tentang SDE dan Gerilya Pemulihan Krisis

    Sebuah krisis berskala global yang sejarahnya bisa ditarik jauh ke masa revolusi industri, saat terjadi peningkatan kebutuhan akan bahan mentah. Di masa awal itu Karl Marx misalnya telah mengenali ada gap yang membesar antara dua jenis metabolisme. Pertama, metabolisme untuk kepentingan reproduksi yang instruksinya genetik.

Tentang SDE dan Gerilya Pemulihan Krisis

Ilustrasi Terbakarnya Hutan di Indonesia
Google.com
Sore itu, di sebuah kafe di kawasan Kemang, ia tidak datang sendirian. Di belakangnya saya lihat dua orang mengikutinya secara perlahan, mengimbangi derap langkahnya yang penuh kehati-hatian. Saya spontan berdiri setelah melihatnya, dan tersenyum lebar. “Halo pak Yoyok”, sambut saya yang dibalas hangat jabat tangannya. Ia kemudian memperkenalkan saya ke kedua rekannya. Dinar, seorang ahli biologi yang saat itu tengah hamil besar, dan Sanca, suaminya, seorang peneliti yang juga aktivis seni rupa.
Mereka bertiga adalah sebagian dari pengurus Sekolah Ekonomika Demokratika (SED), atau juga disebut School of Democratic Economics (SDE). Sekolah yang kiprahnya membuat tim RUANG penasaran, dan kami rasa sangat patut untuk diketahui oleh para sahabat.

Hendro Sangkoyo, atau biasa dipanggil Yoyok, merupakan salah satu pendiri sekolah tersebut. Setelah lulus dari jurusan Arsitektur ITB, ia melanjutkan studi tentang Perencanaan Wilayah dan Kota dan Kajian Asia Tenggara, dan kemudian menyambungnya dengan Planning Theory and Comparative Politics di Universitas Cornell, Amerika Serikat. Sebelum pendirian SED di tahun 2007, ia sempat mengajar di Institut Teknologi Indonesia, menjadi peneliti dan pengajar tamu di Royal Melbourne Institute of Technology, Universitas Melbourne, dan Cornell. Setelah semuanya telah memesan makanan dan minum, pembicaraan pun kami mulai.

Yusni Aziz (YA): Sebelum pertemuan ini, kami sudah berusaha mencari informasi tentang SED di internet. Namun sangat minim sekali data yang kami dapatkan. Apa pak Yoyok bisa menceritakan lebih jauh mengenai sekolah ini?

Hendro Sangkoyo (HS): Ide awalnya muncul sekitar 20 tahun yang lalu, dari rangkaian perjalanan pribadi untuk belajar memahami krisis di kepulauan Indonesia. Ceritanya di mana-mana seperti ini. Di Kalimantan Barat, seorang tetua yang bertahun-tahun merintis gerakan akar-rumput di situ mengajak ikut keluyuran belajar. Suatu ketika saya berdiskusi mendalam dengan sekitar seratus anak muda Dayak, mendengarkan tuturan mereka tentang perubahan di kampung halaman mereka; kapan terakhir kali mereka masuk sungai; kenapa tidak ke sana lagi, dan sebagainya. Ternyata, sungai-sungai yang melekat dengan sejarah sosial dan pembentukan permukiman mereka pelan-pelan terpenggal oleh kegiatan pembalakan, ditimbun untuk jalan-kayu gelondongan, banyak anak sungai akhirnya mati tersumbat. Ruang hidup di pedalaman pulau raksasa itu memang sejak 1970-an diperlakukan sebagai lansekap operasional / operational landscape dari proses perluasan industri dan wilayah perkotaan – suatu aksi membongkar dan mengeruk hasil alam yang seringkali kita tak acuhkan.

Pada tahun 2007, menjelang pembukaan SDE, kawan-kawan yang ikut merintis awal pendiriannya mempertimbangkan berbagai bentuk organisasi dominan sampai akhir abad kedua puluh, seringkali di bawah rubrik “masyarakat sipil”, tidak jarang yang cukup miskin imajinasi sosialnya. Karena moda energetikanya, acapkali gerakan warga terpelajar ini lebih repot dengan urusan manajerial dalam diri dan jaringannya, atau menjadi birokratis seperti komponen-komponen hirarkis dari alur perakitan di pabrik, seperti taylorism.

Untuk menghindari salah paham, perlu dikatakan bahwa menghimpun kesepakatan untuk bertindak menjawab krisis secara kompak (“pengorganisasian”) itu tak tergantikan pentingnya. Tak kalah pentingnya adalah bagaimana membuka ruang-tutur tandingan buat orang biasa untuk mengemukakan dan mempertukarkan pengetahuan akan lintasan perubahan yang dialaminya. Dalam hal ruang bertutur tandingan tersebut, imajinasi rhizomatic learning dari Deleuze dan Guattari atau berbagai pengalaman menyejarah di negara dunia ketiga juga tidak bisa diabaikan. Rizoma artinya perambatan horizontal dari organisme bawah tanah, seperti akar pohon beringin atau sulur-suluran. Dari permukaan nampak tunggal, tetapi di bawahnya jauh lebih rumit. Proses belajar dengan pemahaman macam ini penting, karena membuka ruang bagi semua orang untuk dapat membalik krisis dengan model belajar yang non-hirarkis dan tidak menunggu siapa-siapa. Sebaliknya, kapan sebuah tindakan kolektif harus dilakukan belum tentu perlu mengacu pada tuntutan kemendesakan atau jadwal-jadwal acara dari “organisasi pendamping”, patronnya, atau kantor-kantor pengurus publik.


SDE mengajak menyuburkan ruang bertutur tandingan yang berdimensi kemanusiaan dan ekologis, arena bagi warga biasa untuk mengemukakan cerita-cerita perubahan yang selama ini didominasi oleh representasi sempit bahkan distortif oleh jejaring pembentukan pengetahuan yang mengasingkan pengalaman kolektif. Kata kunci utamanya adalah krisis. Ruang ini akan menjadi arena perlawanan terhadap proses yang membuat krisis ini semakin dalam dan belum pernah mengalami pembalikan. Demikian pula, arena tersebut memungkinkan banyak orang berperan dalam tindakan menyembuhkan/memulihkan kerusakan yang terus meluas.

YA: Krisis seperti apa yang dimaksud bapak ?

HS: Sebuah krisis berskala global yang sejarahnya bisa ditarik jauh ke masa revolusi industri, saat terjadi peningkatan kebutuhan akan bahan mentah. Di masa awal itu Karl Marx misalnya telah mengenali ada gap yang membesar antara dua jenis metabolisme. Pertama, metabolisme untuk kepentingan reproduksi yang instruksinya genetik. Misalnya, kalau kamu makan 10 hari sekali juga tidak akan makin sehat dan sejahtera. Kebutuhanmu kan tetap. Nah, yang kedua ini biang keroknya – teknometabolisme. Dia melayani bukan cuma reproduksi, juga akumulasi dari sistem pendukung kehidupan rakitan/jadi-jadian. Misalnya, kebutuhan akan kota yang lebih fancy meskipun tidak pernah mengatasi masalahnya sendiri—jalan macet memunculkan layanan helikopter bagi yang mampu. Kebutuhan rakitan yang dipicu oleh sektor pasokan tersebut tidak ada batasnya, ad infinitum.


Gedung Raffles Jakarta
Pertumbuhan Kota yang tidak dibatasi secara ketat menjadi sumber krisis ekologis dan sosial.
 Baca Juga Reklamasi Teluk Jakarta Nasibmu Kini

Metabolisme yang pertama bersifat tetap, namun teknometabolisme memperbesar gap di antara metabolisme masyarakat manusia dengan metabolisme reproduksi sistem kehidupan di biosfera. Pembesaran gap itu disebut sebagai metabolic rift, sobekan metabolis, atau ecological rift.
SED mengajukan penglihatan bahwa harus ada imperatif untuk membalik logika pemburukan krisis ini. Kami ajukan agenda belajar tandingan yang ujung tombaknya bersisi tiga. Pertama, harus ada rasionalitas tandingan dari konsumsi ruang, bahan dan energi—termasuk penggunaan tenaga dan waktu kerja orang untuk melayani reproduksinya sendiri. Misalnya, sekarang anak-anak di kampung yang tidak punya pekerjaan layak bersedia menyabung nyawa dengan waktu kerja lebih dari 12 jam sebagai TKI atau TKW di pinggiran kota bahkan di seberang lautan. Berapa juta hektar wilayah daratan pulau yang dikuasai untuk industri ekstraktif? Harus ada rasionalitas tandingan. Apa tandingannya?

Harus ada respons sosial besar-besaran dan sistematis untuk menolak perusakan syarat-syarat keselamatan manusia dan keutuhan biosfera, serta pemulihan ruang-ruang hidup. Ini bukan gagasan abstrak, melainkan sesuatu yang bisa dikerjakan siapa saja di ruang-ruang hidupnya sendiri—yang secara generik kami kodifikasi sebagai historical social-ecological entity, atau kesatuan sosial ekologis menyejarah.

Jadi, kami melihat kampung bukan sebagai penanda tempat, seperti apa yang terjadi pada Kampung Ambon atau Kampung Kebun Kacang di Jakarta sekarang, misalnya. Tetapi kampung dengan subyek sejarah di situ, beserta sejarah sosial ekologisnya. Kenapa suatu kampung berada di lembah, karena kedekatannya dengan aliran air. Jika kita paham konteks reproduksi sosial dari sebuah kesatuan semacam itu, kita bisa mengerti sistem pendukung kehidupan yang harus mati-matian dipertahankan di situ.

Kedua, apa protokol atau framework dari rasionalitas tandingan ini. Mengurus gitu ya, tapi kepengurusan yang seperti apa? Saya lihat pengurus publik saat ini begitu sempitnya melihat apa yang harus dikembangkan dan apa yang justru harus dijaga supaya tidak berubah; sistem kenegaraan untuk memelihara aset bersama terpenting yaitu ruang-ruang hidup bersama dan keselamatan warga-negara, justru sulit sekali dicari dalam kenyataan. Misalnya, apa masih bisa kita biarkan jika menteri atau presiden masih terus berbicara tentang menaikkan pertumbuhan, apalagi sudah masuk dalam klub G20, tanpa pertimbangan sama-sekali mengenai hal-hal tadi? Tunggu dulu… sektor-sektor yang difasilitasi habis-habisan di garis depan pertumbuhan itu, seperti logging, perkebunan sawit, pertambangan ekspor berskala raksasa, jelas merusak jaminan jangka panjang kehidupan di kepulauan Indonesia. Ada tidak yang merespons dengan kritis rencana menaikkan pendapatan domestik brutto yang gegabah seperti itu? Rasionalitasnya harus dikoreksi dulu, baru protokolnya.

Ujung tombak ketiga ini paling sulit, cara belajarnya. Anda arsitek, lalu saya, misalnya, insinyur teknik sipil, dia ahli ekologis, dan kita bersama melihat persoalan yang lebih besar. Belajarnya seperti apa? Bagaimana mengajak lawan-belajar, para manajer negara yang sekarang sedang dipimpin oleh Jokowi ini, untuk mulai mendengar?


Lantas agenda belajarnya apa? Apa yang kita musti pelajari? Sebagai ilustrasi, di tahun 2015 ini kami bersama berbagai regu-regu belajar lainnya menginjak tahun kedua belajar bersama dengan jejaring komunitas dengan ±50.000 warga, di lereng utara Gunung Halimun. Proses perubahan sosial-ekologis selama dua puluh lima tahun terakhir, yang dipicu oleh pembongkaran bentang alam untuk pertambangan, telah menjadi sebuah krisis yang terus memburuk, dan dampak dari cerita pembongkaran di lereng itu meluas sampai dengan kehidupan terumbu karang dan biota laut di kepulauan Seribu. Agenda belajarnya tidak mungkin ditemukan lewat pengkajian, perencanaan atau perumusan anggaran di kota. Dalam tempo kurang dari satu generasi kehidupan warga berubah dramatis. Sebutir tomat harus dibeli seharga 500 rupiah. Penghargaan pada tani-pangan dan tani pekarangan hampir hilang. Siklus kehidupan lereng gunung dihancurkan. Kesadaran akan dimensi melingkar/siklis dari waktu menghilang, juga pada warga usia muda.


Tambang Emas Pongkor di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun, Jawa Barat
Sumber : /warmada.staff.ugm.ac.id/Photos/tambang/images/pongkor1.jpg
Dalam cerita seperti itu, proses belajarnya tidak bisa cepat seperti “ayo sekarang kita berubah!” Kehadiran para pelajar-tamu seperti kami hanyalah sebagai semacam tali penghubung untuk menciptakan ruang bertutur bagi banyak orang biasa, tentang bagaimana perubahan menurut pengalaman batin warga sendiri. Soalnya bukan pengelolaan pengetahuan, tapi pengelolaan proses belajar. Bagaimana melancarkan proses belajar yang rumit, yang melibatkan warga kampung dengan berbagai kecakapan dan keterbatasannya, arsitek, ahli ekonomi, etnografer, dokter, akhli kesehatan masyarakat, akhli geologi tata-lingkungan dan sebagainya—yang juga serba terbatas pengetahuannya—untuk memahami dan mencoba mengatasi krisis ini bersama-sama.

Memahami imajinasi konstruksi politik, atau political construct, yang membuat kita “jauh dari tanah”, juga penting. Misalnya, untuk ngomongin terobosan dalam pemerintah, maka makna dari institusinya itu harus kita lucuti dari konotasi kolonialnya. Kami tidak pernah memakai kata “pemerintah”, kami selalu memakai istilah “pengurus publik” untuk institusi publik. PEMDA gimana? Ya, pengurus daerah. Karena akar kata “pemerintah” itu dalam penggunaan sehari-hari adalah“perintah.” Artinya, di dalam sikap mental kita, kita/warga harus patuh pada sang perintah itu. Kalau kita gunakan kata-kunci “urus”/kepengurusan, para pegawai di berbagai kantor pengurus publik kita tempatkan pada peran utamanya, yaitu pelayan, atau jongos. Sekarang siapa kepala jongosnya? Ya, Jokowi namanya. Jadi dengan sendirinya ada satu proses demokratisasi di dalam pikiran.

Nah sekarang, siapa yang sesungguhnya mengendalikan perubahan? Pengurus publik? Perluasan kapital industrial sekarang berlangsung di bawah koordinasi dan bayang-bayang dari kapital keuangan/perbankan yang mengalami kemajuan pesat dalam proses akumulasi, terutama sejak 1980an. Hal ini juga perlu dimengerti oleh dunia pendidikan dan profesi arsitektur. Akumulasi berlebihan pada saat ini dipicu oleh kapital keuangan, yang lebih memudahkan pencaplokan ruang dan valuasi ekonomik atas infrastruktur sosial-ekologis, seperti pegunungan dan wilayah resapan air di pulau Jawa dan pulau-pulau lainnya. Tapi, kita tidak pernah mempelajarinya selain sebagai peluang bagi profesi, bukan pertimbangan kunci untuk menetapkan persyaratan bagi penciptaan dan perluasan ruang-ruang perkotaan.


Henri Lefebvre juga mengajukan bahwa sekarang kita sebetulnya sudah memasuki era “urbanisasi berskala planeter.” Salah satu pelajar gejala ini, Neil Brenner dari laboratorium perkotaan universitas Harvard, misalnya, mendorong lebih jauh pengamatan Lefebvre, bahwa untuk mempertahankan keberlanjutan proses urbanisasi/industrialisasi tersebut, wilayah-wilayah “bukan urban” berperan vital sebagai “lansekap operasional”. Warga di banyak lansekap operasional urbanisasi/industrialisasi paham mengenai gejala ini, bahkan menjadi korbannya. Wilayah-wilayah pedalaman Kalimantan dibongkar untuk memasok batubara bagi pembangkitan energi dan industri di Jakarta. Sumber-sumber energi primer dari daratan dan perairan kepulauan dikeruk dan diekspor untuk mendukung kehidupan kota/industri di Jepang atau di Guangzhou.

YA: Jadi hanya ada sebagian yang menjadi kota dan sebagian lainnya operational landscape?

HS: “Urbanisasi planeter” dalam fikiran Lefebvre melahirkan bagi-kerja spasial di antara lansekap-operasional dan situs proses urbanisasi/industrialisasi. Kota selalu membesarkan selubung-selubung dari sistem pendukungnya, dalam sebuah proses tak kunjung usai yang disebut sebagai “perusakan kreatif.” Kampung-kampung kota dengan sejarah sosial panjang dalam satu generasi sejak 1980an telah berubah menjadi “segitiga emas” bagi industri properti, dengan kerumunan superblok untuk penghuni barunya. Jadi kota sendiri telah menjadi sebuah lansekap operasional di mana manusia boleh dipindah-pindahkan atau dikorbankan, karena ada kebutuhan perusakan-kreatif tanpa-batas itu tadi. Ini semua bonanza untuk dunia penciptaan arsitektur. Meskipun misalnya hal ini terjadi di masa lalu tanpa campur-tangan generasi baru arsitek yang baru muncul, tetapi seharusnya kita ikut bertanggung jawab atau ikut pening untuk mencegah proses serupa berjalan tanpa kendali.


Nah sekarang, bagaimana kita membayangkan arsitektur dan urbanisme yang mengandung unsur terobosan untuk mengatasi krisis, dan mampu menyuburkan daya cipta gila-gilaan dari anak muda yang sedang belajar arsitektur itu?

YA: Lantas apakah bapak pernah terlibat dalam penggodokan kurikulum studi arsitektur dan apa ada yang harus diubah?


HS: Bukan hanya menghimbau, tetapi sejak dulu mencoba mengintervensi langsung, meski bisa dibilang gagal. Saya mengemukakan tantangan, apakah kearifan dan pengetahuan pokok yang harus disiapkan untuk menghadapi krisis yang membesar dengan cepat ini? Bagaimana pembentukan pengetahuannya? Mungkin mahasiswa semester pertama tidak perlu mengkaji banyak teori. Lihat dulu kenyataan, lalu berpikir sendiri, apa yang sebenarnya berlangsung dulu dan sekarang, bagaimana duduk-perkaranya, dan apa yang harus dilakukan?

Setiap daerah di kepulauan kita mencatat lintasan pembangkitan dan pemburukan krisisnya sendiri-sendiri, menurut kekhasan sejarah sosial-ekologis di situ. Oleh karenanya terobosan atau pemecahan masalah yang muncul dari profesi-profesi keteknikan juga harus “membumi”, bertumpu pada pemahaman yang baik atas lintasan perubahan di situ. Kalau sekarang ini, kita seperti cowok atau cewek panggilan saja. Persis seperti itu. Karena kita tidak mau membicarakan apalagi menjawab masalah krisis yang besar atau genting, kita mirip dengan seseorang yang hanya mencari kesenangan dari daya cipta kita… aku, aku, aku.


Misalnya, keterkaitan arsitektur dengan pengurusan perubahan. Apakah aturan yang memperbolehkan pencaplokan lahan/land grab besar-besaran menjadi gosip politik sehari-hari di antara kita? Menurut berbagai data resmi, sekitar 5,1 juta hektar lahan sawit di Indonesia itu dikuasai oleh 29 orang saja lho! Dari sebuah riset kecil, kami menemukan bahwa ada lima instrumen hukum/perundang-undangan yang secara tidak langsung memperbolehkan monopoli penggunaan dan pencaplokan ruang-ruang daratan hingga 100 tahun lamanya. Saya tidak heran melihat pendidikan kita miskin sekali. Seluruh imajinasi kita tentang pembentukan pengetahuan, konteks zaman, basis krisis, daya dobrak itu miskin. Belum lagi membicarakan cara belajar yang  dikelola oleh kanal-kanal pendidikan resmi.


Pencakupan Hutan untuk lahan Kelapa Sawit, Kalimantan
@Rhett A Butler

Baca Juga Penyalahgunaan Lahan Oleh PKL di Malioboro Jogjakarta

YA: Saya ingin mengaitkan dengan metode penataan kota. Pak Yoyok pernah mengatakan, dalam sebuah wawancara, bahwa modernisme perlu dikritisi lebih lanjut. Lantas apakah sudah terpikirkan alternatif tandingan terhadap modernisme yang dipakai pemerintah kita dalam mengembangkan kota Indonesia?


HS: Saya tidak yakin sebetulnya bahwa beberapa generasi pengurus publik kita selama ini secara kolektif mengerti dan secara sadar memilih ideologi modernisasi. Daya pukau modernisasi itu sendiri sudah lama rontok di negeri-negeri industri maju. Eropa, ujung depan dari modernisasi sendiri, sekarang harus memeriksa jati-diri kolektifnya dan pencapaian pencerahan dari masa lampaunya. Ketika proporsi warga dari negara bekas jajahan di ruang-ruang hidupnya di Afrika, Amerika Tengah dan Amerika Latin yang menetap atau mencoba peruntungan di negara-negara maju membesar, rasisme tumbuh sebagai persoalan kelas.

Ilustrasi lain tentang ilusi modernisasi adalah keyakinan dan petuah bahwa “negara-negara sedang berkembang” seperti Indonesia akan mampu untuk menempuh lintasan modernisasi ekologis/ecological modernization. Memang sekarang kita harus main bongkar, memacu industri keruk. Tapi ketika nilai uang dari produksi dan konsumsi telah mencapai tingkat yang memadai, kita akan menjadi jauh lebih pembersih dan ramah pada alam dan manusia. Salah satu penjelasan formal dari kepercayaan tersebut adalah kurva-lingkungan hidup dari Kuznets, yang menunjukkan korelasi di antara pendapatan dengan moda transaksi dengan alam.Dulu Jerman dan Inggris berkembang lewat industrialisasi yang jorok sekali. Tetapi, ketika GDP-nya sudah menembus angka tertentu, sistem produksi barang di situ menjadi “bersih.” Apa yang tidak dituturkan di sini adalah bahwa dalam rerantai-pasokan barang industrial, komponen-komponen industri yang paling buruk, mencemari, atau paling rendah nilai-tukar yang diciptakannya pindah lokasi ke negara-negara yang jauh lebih lunak regulasi lingkungan hidupnya.

Lalu tepat sepuluh tahun lalu, Mathias Wackernagel dan William Rees mengembangkan kerangka tuturan telapak-ekologis/ecological footprint. Telapak ekologis Tokyo di tahun 2009 sudah lima kali lipat luas seluruh kepulauan Jepang. Ke mana dia dibebankan atau dipindahkan? Antara lain juga ke kita di sini. Pasar industri otomotifnya, ekstraksi logam dasarnya, .

Ironi dalam tuturan modernitas, misalnya, bisa dipelajari dari salah satu pulau terkering di Indonesia timur, yaitu pulau Adonara. Begitu kecilnya lubang lesung yang mereka pakai menumbuk menunjukkan sangat terbatasnya produksi bulir-buliran di situ. Kalau di sekitar April hujan turun, mereka bisa menyimpan jagung. Jika tidak ada hujan, mereka kemungkinan harus membeli sumber zat tepung untuk setahun. Ketika mereka melakukan proses reproduksi di tingkat keluarga, mereka dilatih untuk bersabar, seperti melakukan hibernasi. Tingkat konsumsinya pelan, dan anak-anak dilatih untuk puas dalam berkonsumsi serba terbatas. Sejarah ruang waktu dari sejarah ekologis dan sosial di situ tidak mungkin kita plot pada angan-angan tentang trajektori perubahan menjadi “yang modern.” Kontras sekali dengan citra modernitas di kota-kota besar yang konsumsinya dan penggunaan energinya besar sekali. Kalau warga kepulauan diminta untuk berbagi impian tentang konsumsi ruang, waktu, bahan dan energi seperti di simpul-simpul perkotaan kita, artinya sistem pengurusan publik kita bisa dikatakan buta krisis. Kita bahkan tidak perduli untuk menghancurkan rumah kita sendiri, dengan mempercepat transformasi dalam konsumsi sosial, seperti aksi bunuh diri besar-besaran.


Kembali ke pendidikan, apakah mereka mau kembali berada di tengah atau sedang minggir teratur, decentering? Melakukan divestasi dan melayani pasar saja?

YA: Jadi, SED juga mempelajari sistem hidup beberapa kepulauan Indonesia untuk diolah lebih lanjut guna mencari tandingan terhadap krisis?

HS: Ada satu interaksi yang terus menerus dan tidak ada habisnya untuk ikut dalam proses pembentukan pengetahuan tandingan dan bertindak, bolak-balik. Ada tiga sektor belajar. Pertama, Regu Belajar orang biasa. Bisa sebuah kampung/KSEM, atau beberapa guru-besar, atau jejaring aktivis akar-rumput, misalnya.

Sektor belajar kedua mencakup berbagai regu, badan pendidikan atau riset. Yang paling susah berubah adalah mereka yang mendapat manfaat terbesar dari status quo ini. Misalnya, semua disiplin yang menyangkut penataan keuangan dan ruang binaan. Profesi arsitektur sudah barang tentu secara umum masuk dalam golongan ini secara umum, karena dia terkait erat dengan proses pembesaran lansekap operasional itu tadi.

Yang ketiga adalah gugus belajar pengurus publik, misalnya pengurus lokal seperti kepala desa atau pemimpin komunitas. Kami bisa bergerak dengan siapa saja, tanpa mau sok jago. Pengetahuan itu seharusnya tidak seperti imajinasi korporasi yang bisa dikuasai, bahkan harus dilengkapi dengan copyright.

YA: Lantas pemilihan lokasi belajarnya berdasarkan apa?


HS: Dengan berbagai keterbatasan dan beberapa pertimbangan lain, siasat belajar yang kami pilih tidak sepenuhnya berbeda topologinya dari imajinasi moda belajar rhizomatik yang disinggung tadi. Lansekap belajar utama kami adalah Asia Timur, terutama kepulauan Indonesia. Lokasi belajar bukan hasil pilihan acak, karena permintaan selalu muncul dari garis depan krisis.

Selain riset mandiri kami sendiri, kegiatan kolaboratif kami umumnya berdasarkan undangan belajar bersama. Kami juga belajar bersama dan dari mitra belajar di tempat-tempat lain di Asia daratan, Sebaliknya, berbagi catatan tentang bagaimana menghadapi dinamika krisis di Indonesia juga menjadi penting untuk kawan-kawan di wilayah Bumi lainnya.


Nah, baru-baru ini kami juga sedang belajar bersama teman-teman Maluku. Mungkin Sanca bisa menceritakannya.

Sanca (SP): Bulan Februari kemarin kami diajak teman-teman untuk melihat persoalan di Maluku. Lokasi belajarnya di kampung orang gunung yang sederhana sekali gaya-hidupnya. Mereka hidup tanpa memakai baju, berbalut kain kepala merah. Mereka biasanya berburu dan meramu tanaman. Persoalan pertama yaitu pola hidup berburu dan meramu mereka terbatasi dengan hadirnya taman nasional. Mereka selalu dituduh sebagai perusak. Padahal mereka sudah di sana terlebih dahulu.

Kami melanjutkan ke pulau Buru, tempat tahanan politik dahulu. Di zaman Soekarno, pulau Buru sudah dilihat sebagai pulau yang cocok untuk transmigrasi karena penduduknya masih sedikit dan dataran rendahnya baik untuk pertanian. Namun ide itu tidak jadi dilaksanakan, karena yang dikirim malah para tapol. Setelah itu baru masuk transmigran dari Jawa dan Madura yang menggarap sawahnya sendiri. Saat ini, persoalannya datang dari tambang emas. Aneh, tetapi tambang emas yang kita temukan selalu di tempat-tempat sumber kehidupan seperti sawah, atau di hulu, sumber air. Tambang emasnya gila-gilaan, hingga mengundang kedatangan puluhan ribu penambang luar.

Persoalan lain muncul dari penggunaan merkuri yang berdampak pada pencemaran padi dan ikan-ikan. Kasus bayi cacat juga sudah ada.


Perkampungan Ilegal Penambang Emas di Pulau Buru, Maluku.
Sumber: http://beritaenam.com/view.php?id=20151127045736
YA: Jadi, sebelumnya dilakukan pemetaan terhadap krisis yang terjadi, kemudian belajar bersama masyarakat untuk mencoba menandingi itu?

SP: Iya. Akhirnya, dengan beberapa teman dari pulau Seram, kami mencoba jenis ekonomi yang cocok untuk warga setempat. Melihat keadaan alam dan kemampuan mereka bertani, kami mencoba menanam kopi. Pada tahun 1970-an, masyarakat setempat pernah mendapat bibit kopi dari pemerintah sebagai alternatif dari cengkeh. Ketika harga cengkeh jatuh, mereka mulai menanam kopi. Namun, ketika harga cengkeh naik lagi, kopi mulai ditebang. Akhirnya, kami berdialog dengan keluarga setempat, belajar untuk memilah kopi dan semuanya dimulai dari nol.

YA: Dalam satu kawasan perkampungan?

SP: Operasinya di seluruh pulau Seram. Teman-teman Regu Belajar kesulitan karena transportasi yang kurang memadai. Sehingga, mereka terbiasa membawa motor dari satu ujung ke ujung lain. Kadang motornya dipanggul jika melewati sungai yang tidak ada jembatannya.


YA: Jadi sekarang perkembangannya seperti apa?


SP: Itu mereka sendiri yang atur, jadi tidak ada target. Yang penting mereka dapat memahami logika perubahan sosial ekologis. Itulah yang kami pelajari bersama untuk mencari jalan keluar atau proses belajar berikutnya.


HS: Mungkin saya bisa menambahkan contoh kasus lain. Seluruh belahan utara pulau Flores sedang terancam. Pada awal tahun 1990-an sebuah penelitian dari Jepang yang menemukan bahwa wilayah tersebut sedang mengalami desertifikasi atau penggurunan. Sejak akhir 1990an wilayah tersebut Mangan untuk dikirim ke Tiongkok dengan operasi semut. Padahal tiga kabupaten ini, Manggarai Barat, Manggarai dan Manggarai Timur merupakan bagian gemuk dari pulau Flores. Jadi, daerah yang sumber airnya paling banyak, dihajar selama bertahun-tahun. Padahal mereka terancam akan menjadi gurun juga.

Kami bolak-balik ke sana sebagai pelajar, atas undangan teman-teman yang selalu mengabari jika ada sesuatu yang baru atau krisis baru terjadi. Banyak yang kami temukan. Misalnya, petir di satu tanjung, pertanda alam penting untuk awal musim tanam, tidak datang lagi ketika tanjung dibongkar oleh pertambangan. Semua kami dokumentasikan. Sampai saat ini desa-desa dan institusi pengurus warga utama di situ terus berikhtiar untuk melakukan proses penyembuhan dari kehidupan warga dan ruang-ruang hidupnya.

Sesungguhnya subyek telaah dan urusan dari arsitektur adalah ruang hidup. Akal budi kita kan tidak mencipta, tetapi hanya menggubah.

Kembali ke pemerintah kita yang buta krisis. Karena krisisnya tidak terkodifikasi apalagi terukur, arah perubahan sekarang justru menjadi tawanan dari sektor pasokan. Kantor yang mana yang siap menjawab pertanyaan mengenai duduk perkara dan bangunan krisis untuk pulau Sulawesi atau pulau Taliabu misalnya?

Nah, sekarang kemanusiaan dan biosfera sedang dirusak cepat. Apa benar ada pemampatan waktu perubahan? Ada.


Agenda perlawanan dan pemulihan sekarang bertujuan mengembalikan syarat keselamatan manusia dan keselamatan biosfera dalam perubahan. Kami sebisa-bisanya menuturkan ceritanya dalam berbagai bahasa si pelajar. Kami akan bekerja sama di lapangan bersama rekan-belajar lain untuk mendengarkan dan mempelajari tuturan tandingan mengenai kekhasan lintasan krisis di situ, dari warga yang paling paham tentang ruang hidup mereka sendiri.


Penulis Di Membacaruang.com bersama Hendro Sangkoyo, Dinar dan Sanca. ©RUANG


Catatan Kaki:

[1] Operational Landscape: Zona untuk pengerukan sumber daya, wilayah industri agrikultur, infrastruktur logistik dan komunikasi, turisme dan pembuangan limbah, yang mencakup area tepi kota, daerah terpencil yang juga termasuk “pedesaan” atau “alam terbuka”…. Hal ini merupakan bentuk pemekaran kapitalisme yang mengandalkan pencakupan dan pengoperasian sebuah wilayah dalam skala besar di luar kota untuk mendukung aktivitas sosial ekonomi, siklus metabolik dan kepentingan pertumbuhan kota – (Neil Brenners. Implosions/Explosions : Towards a Study of Planetary Urbanization. 2014)

[2] Taylorism: Teori manajemen yang menganalisa dan mensintesa alur produksi. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan efisiensi secara ekonomi, terutama produktivitas pekerjanya. – (Wikipedia)

[3] Environmental Kuznets Curve: Hipotesa dari sebuah hubungan antara berbagai macam indikasi dari degradasi lingkungan dan pendapatan per kapita. Di tahap awal dari pertumbuhan ekonomi, perusakan lingkungan dan polusi naik. Tetapi setelah pendapatan per kapita mencapai level tertentu, tren menjadi terbalik. Peningkatan ekonomi dalam level yang tinggi juga membawa peningkatan kualitas lingkungan. – (David I. Stern. The Environmental Kuznets Curve. 2003)


[4] Ecological Footprint: sebuah ukuran dari dampak kegiatan manusia terhadap lingkungan – (WWF)




Share:

Little Venice, Wisata kota Ala Venice Italy

Little Venice Italy
Litte Venice, Italy.
Flickr.com
Selain Puncak masih ada satu tempat wisata lagi yang terbilang cukup unik dan sangat sayang untuk dilewatkan, yaitu Little Venice yang terletak di Kota Bunga.  Kota Bunga merupakan suatu kawasan Villa Estate yang dibangun di lahan seluas sekitar 125 Ha.
Little Venice, Italy
Little Venice, Cipanas.
Gimana Sudahkah Mirip?
Apa yang Menarik di Little Venice Cipanas ?
Sedikit berbeda dengan kebanyakan wisata di Cipanas, tempat wisata satu ini mengusung konsep yang cukup unik, Kota Bunga menawarkan sebuah tempat dengan suasana dan pemandangan mirip dengan kota di luar negeri lho, yaitu Venesia di Italia, karena saking miripnya, objek wisata ini juga disebut dengan nama Little Venice Cipanas atau "Miniatur Kota Venesia".

Kota Bunga Little Venice menawarkan sebuah sensasi wisata yang sangat menyenangkan, di kawasan ini kita bisa melihat beraneka ragam bangunan dengan arsitektur mirip di Kota Venesia.


Bukan hanya mengusung konsep "miniatur" Venice saja, melainkan juga terdapat miniatur kota lain di Eropa, Asia hingga miniatur Dufan (dunia fantasi) yang ada di Jakarta lho. Sebenarnya kawasan Kota Bunga Little Venice ini merupakan sebuah tempat penginapan, namun karena kunikannya tersebut, lokasi ini juga sering dijadikan sebagai tempat wisata.

Ada beberapa wahana yang bisa kita coba di kawasan Little Venice, seperti :
Tiket Masuk : Rp 25.000,- per orang.

Tiket Fun : Rp. 35.000,- per orang (tiket masuk, mississipi boat dan gondola)

Harga tiket hari biasa,
Untuk anak-anak : Rp. 20.000,- ; Untuk dewasa : Rp. 25.000,-

Harga tiket hari libur,
Untuk anak-anak : Rp. 30.000,- ; Untuk dewasa : Rp. 40.000,-

– Gondola / perahu = Rp. 15.000,- per orang – Kapasitas 4 orang
– Kapal Mississipi = Rp. 15.000,- per orang – Kapasitas 20 orang
– Perahu bebek kecil = Rp. 40.000,- per orang – Kapasitas 4 orang
– Perahu bebek besar = Rp. 80.000,- per orang – Kapasitas 8 orang
– Perahu bebek motor = Rp. 15.000,- per orang – Kapasitas 9 0rang
– Sepeda air kecil = Rp. 20.000,- per orang – Kapasitas 2 orang
– Sepeda air besar = Rp. 40.000,- per orang – Kapasitas 4 orang
– Banana boat = Rp. 25.000,- per orang – Kapasitas 5 orang
– Perahu naga = Rp. 15.000,- per orang – Kapasitas 9 orang
– Battery car = Rp. 10.000,- per coin
– Sniper = Rp. 15.000,- per 40 butir peluru

Jadwal dan jam buka : Buka hari Sabtu, Minggu dan hari-hari libur dari Pukul 08.00 s/d Pukul 18.00 (khusus libur panjang), untuk hari biasa hanya sampai jam 16.30.
Dari beberapa wahana tersebut, gondola merupakan wahana paling favorit bagi wisatawan karena membuat kita seakan sedang berada di Venesia yang memiliki transportasi utama berupa gondola, selama kurang lebih 15 menit kita akan diajak berkeliling dengan menggunakan gondola tersebut, sepanjang perjalanan kita bisa melihat kerennya arsitektur bangunan yang membuat suasana kian romantis.

Tapi perlu diingat, setiap wahana di kawasan wisata Little Venice memiliki harga tiket masing-masing ya, jadi untuk bisa mencoba wahana-wahana tersebut kita harus mengeluarkan uang lagi untuk membeli tiket (huam, namanya tempat wisata).
Deretan Perahu Siap Mengantarkanmu berkeliling.
Selain miniatur kota luar negeri yang menjadi lokasi favorit wisatawan, Kota Bunga Little Venice Cipanas ini juga menyediakan miniatur Dufan di Arena Fantasi dengan mengusung konsep koboi ala Amerika.

Selain sebagai tempat wisata dan penginapan, Little Venice juga cocok dikunjungi bagi pecinta fotografi, arsitektur bangunan yang unik dari berbagai negara layak kamu abadikan kedalam kameramu, jadi tak perlu jauh-jauh keluar negeri untuk mendapatkan foto keren.
Jawa Barat Memang Luar biasa.
Setiap harinya, terutama di akhir pekan, Little Venice Cipanas selalu ramai oleh pengunjung, bukan hanya yang ingin menginap saja, melainkan juga orang-orang yang penasaran dengan keindahan arsitektur bangunan dikawasan tersebut.

Namun, sesuai namanya, "little", kawasan wisata ini terbilang cukup kecil, jadi bagi kamu yang ingin berfoto ria di spot-spot keren harus antre dengan pengunjung lainnya, walaupun begitu, pengunjung tetap antusias untuk menunggu gilirannya.

Apabila Dirasa Little Venice masih belum cukup, berikut beberapa tempat yang berdekatan dengan Little Venice.

Taman Safari Indonesia (1 jam)

Taman Safari Indonesia, adalah salah satu kebun binatang paling populer di Jawa Barat, tak hanya di Jawa Barat saja, tapi Taman Safari Indonesia juga sudah terkenal di seluruh Indonesia.


Taman Safari Cisarua.
Taman Bunga Nusantara (24 menit)

Taman Bunga Nusantara adalah sebuah taman dengan menawarkan pemandangan bunga-bunga cantik yang membuat taman ini terlihat sangat indah, Taman Bunga Nusantara sangat cocok dijadikan tempat wisata bersama keluarga dan salah satu wisata romantis di Jawa Barat.
Taman Bunga Nusantara
Taman Bunga Nusantara

Curug Cibeureum (42 menit)

Curug Cibeureum adalah sebuah air terjun yang terletak di lereng gunung Gede Pangrango, curug ini sudah cukup populer dikalangan traveler, terutama para pendaki gunung.


Curug Cibeureum.

”Sebagai Rahmat dari Tuhanmu sesungguhnya Dia lah yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui Tuhan yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya, jika kamu adalah orang yang meyakini.” (QS. Ad-Dukhan : 6-7)
Bersyukur Atas keindahan alam dan karunianya, sehingga kita dapat menikmati segala kebaikan dari alam.

Semoga Bermanfaat. 
Share:

Islam Pernah Berkuasa Di Spanyol (Baca, Peninggalan Islam Di Spanyol)

Bismillahirrahmanirrahim
.
Al-Andalus (bahasa Arab) merupakan nama dari bagian Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal) yang dikomandoi oleh umat muslim, atau bangsa Moor kala itu, dalam berbagai waktu antara tahun 711 dan 1492. Al-Andalus juga sering disebut Andalusia, namun penggunaan pemaknaan ini tentu saja memiliki keambiguan dengan wilayah administratif di Spanyol modern Andalusia.
Ilustrasi Peradaban Islam Dahulu
Flickr.com

The Battle Of Higueruela Spain, 1 Juli 1431, Pertempuran Antara Juan II dari Kastila Pimpinan Alvaro de Luna Melawan Pasukan yang setia kepada Muhammad IX
flickr.com
Read More...
Share:

7 Tips Memilih AC yang Baik (Efisien dan Efektif)

Pahami Sebelum Membeli

Indonesia merupakan salah satu negara tropis yang terletak di khatulistiwa sehingga suhu pada saat siang hari sekitar 27°C – 34°C. Oleh karena itu, kebutuhan air conditioner (AC ) sangat diperlukan untuk membuat suhu di dalam rumah menjadi lebih dingin dan sejuk.

Istilah AC (Air Conditioner) lebih banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia daripada kata asli bahasa Indonesia untuk AC tersebut yaitu penyejuk udara atau pendingin ruangan. pengertian AC yaitu sistem atau mesin yang khusus dirancang untuk menstabilkan suhu udara dan kelembapan pada suatu area seperti kamar, rumah, kantor, ruang pertemuan, dan lainnya.

Read More...
Share:

Reklamasi Teluk Jakarta Nasib Mu Kini (Arogansi Pemodal?)

Kebutuhan akan hadirnya tempat tinggal yang dapat dikatakan layak di indonesia sangat besar, terutama percepatan pertumbuhan masyarakat kelas menengah dan para profesional muda di kota-kota besar di indonesia, seperti medan, surabaya dan jakarta. maka dari itu para pengusaha besar khususnya di bidang property berfikir dan menjadikan ini sebagai target market yang besar dan dapat dimanfaatkan untuk memperoleh keuntungan yang semaksimal mungkin, tentu saja hal tersebut wajar dan tidak menjadi masalah, karena memang sewajarnya sebuah korporasi bergerak dan berputar untuk memperoleh keuntungan, namun sampai dimana batasnya? apakah ada kaidah-kaidah yang seharunya mereka penuhi? seperti dampak sosial, ekonomi, bahkan hingga politik? di pembahasan ini saya akan membahas mega proyek yang bernilai triliunan Rupiah yang sekarang sedang dan masih terus berlangsung proses pembangunan #Reklamasi teluk Jakarta.

ada 3 pihak yang secara langsung maupun tidak langsung bersinggungan dengan Mega Proyek tersebut, Pertama adalah Pemerintah, Kemudian yang kedua adalah Pengembang, dan yang terakhir adalah masyarakat.

dipembahasan ini pula akan di bagi menjadi 3 topik utama Reklamasi pertama adalah apa itu reklamasi, dan apakah perlu reklamasi. yang kedua adalah mengenai dampak positif yang terjadi (Kemungkinan terjadi) dan dampak negatifnya. yang terakhir adalah perbandingan proyek-proyek reklamasi di Indonesia dan dunia.


Apa Itu Reklamasi?

- Reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan dengan tujuan menambah luasan daratan untuk suatu aktivitas yang sesuai di wilayah tersebut dan juga dimanfaatkan untuk keperluan konservasi wilayah pantai. Reklamasi ini dilakukan bilamana suatu wilayah sudah tererosi atau terabrasi cukup parah sehingga perlu dikembalikan seperti kondisi semula, karena lahan tersebut mempunyai arti penting bagi negara.

- Peraturan Menteri Perhubungan No PM 52 Tahun 2011 menyebutkan bahwa, reklamasi adalah pekerjaan timbunan di perairan atau pesisir yang mengubah garis pantai dan atau kontur kedalaman perairan.

- Berdasarkan Modul Pedoman Perencanaan Tata Ruang Kawasan Reklamasi (2007) adalah suatu pekerjaan/usaha memanfaatkan kawasan atau lahan yang relatif tidak berguna atau masih kosong dan berair menjadi lahan berguna dengan cara dikeringkan. Misalnya di kawasan pantai, daerah rawa-rawa, di lepas pantai/di laut, di tengah sungai yang lebar, atau pun di danau.

- Menurut Perencanaan Kota (2013), reklamasi sendiri mempunyai pengertian yaitu usaha pengembangan daerah yang tidak atau kurang produktif (seperti rawa, baik rawa pasang surut maupun rawa pasang surut gambut maupun pantai) menjadi daerah produktif (perkebunan, pertanian, permukiman, perluasan pelabuhan) dengan jalan menurunkan muka air genangan dengan membuat kanal – kanal, membuat tanggul/ polder dan memompa air keluar maupun dengan pengurugan

berdasar keterangan-keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa reklamasi merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan guna mengoptimalkan sebuah kawasan yang kurang produktif dan tidak memiliki nilai ekonomi menjadi kawasan yang memiliki nilai ekonomi dan komoditi khusus dengan cara menurunkan muka air dan atau menimbun pasir kedalam sebuah rawa atau perairan sehingga lahan dapat dimanfaatkan dengan Optimal.

Apakah Reklamasi kegiatan yang Dibutuhkan dijakarta?

Reklamasi jika dilihat sepintas tentu merupakan sebuah keniscayaan melihat kepadatan penduduk jakarta yang kian hari kian bertambah, yang kini tahun 2017 angkanya nyaris menyentuh 10 juta penduduk dengan luasan jakarta yang hanya 664.01 km2, tentu akan dibutuhkan sebuah perencanaan yang matang untuk tempat tinggal misalnya, dan reklamasi teluk merupakan salah satu solusi yang dapat diambil. pertanyaanya kemudian adalah apakah me-reklamasi teluk menjadi sebuah keharusan? melihat masih banyak masalah yang terdapat dijakarta?

ataukah reklamasi hanya dapat dinikmati oleh kelompok masyarakat tertentu saja?


“Antara mencari untung dan melayani masyarakat tidak bisa seiring-sejalan." Yann Martel, life Of Pi


 Menakar Untung Rugi Kegiatan Reklamasi


melihat untung rugi sebuah kegiatan tentu dilihat dari berbagai sudut pandang, agar objektif, dalam kegiatan kegiatan reklamasi ini, masalah mengemuka ketika para nelayan menyangsikan kegiatan reklamasi ini, karena mereka secara langsung terdampak dalam perolehan ikan yang cenderung menurun, dikarenakan habitatnya yang rusak serta air laut yang menjadi keruh dan sulit mendapatkan ikan, ini tentu masalah yang serius karena ribuan nelayan tentu harus melanjutkan kehidupan mereka karena bagaimanapun keluarga dirumah harus di nafkahi, efeknya menjadi domino tentu saja.

Tanah reklamasi juga sangat rentan terhadap likuifaksi (pencairan tanah, tanah kurang solid) selama gempa bumi yang tentu saja dapat memperkuat jumlah kerusakan yang terjadi pada bangunan dan infrastruktur. 

Dampak lingkungan lainnya dari proyek ini adalah meningkatkan potensi banjir. Hal itu dikarenakan proyek tersebut dapat mengubah bentang alam (geomorfologi) dan aliran air (hidrologi) di kawasan reklamasi tersebut. Perubahan itu antara lain berupa tingkat kelandaian, komposisi sedimen sungai, pola pasang surut, pola arus laut sepanjang pantai dan merusak kawasan tata air. potensi banjir yang ada dikawasan yang terdampak langsung akan semakin di perparah dengan kondisi pemanasan global yang kian hari kian mengkhawatirkan.

Ruang publik untuk kawasan tersebut tentu menjadi terbatas apabila telah dilakukan reklamasi, hanya orang-orang yang benar-benar memiliki kemampuan untuk mengakses ruang tersebut yang dapat dengan mudah menempati atau sekedar menikmati alamnya.


Reklamasi Lain Tempat

Reklamasi Teluk Benoa




Rencana reklamasi Teluk Benoa ini dulunya melanggar Perpres No. 45 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan SARBAGITA.


Pemandangan menakjubkan di "Pulau Dewata", tempat yang dikenal banyak wisatawan asing sebagai sorga damai, dengan banyaknya bangunan kuil Hindu dimana-mana. Di kartu pos, dan tag line Wonderful Indonesia, Bali memang selalu tampak indah, ramah dan sentosa. 

Tapi belakangan sebuah megaproyek di Teluk Benoa yang diperkirakan akan menghabiskan dana 15 miliar dolar AS sejak era Presiden #SBY, belum lama memicu gerakan protes terbesar di pulau wisata yang tersohor itu. Reklamasi Teluk Benoa rencananya akan menjadikan kawasan itu resor wisata mewah bertaraf internasional.
Tahun 2014, tepat sebelum meninggalkan jabatannya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan Perpres No 51 Thn 2014 yang mengkonversi status kawasan ini dari "wilayah konservasi" menjadi "wilayah revitalisasi". Perusahaan Developer Tirta Wahana Bali Internasional, bagian dari Artha Graha milik pengusaha Tomy Winata, kemudian mengumumkan megaproyek Reklamasi Teluk Benoa.

Pihak developer menerangkan bahwa megaproyek ini akan membuka lapangan kerja bagi 200.000 orang dan akan menjadi penopang penting perekonomian Bali secara umum. akan tetapi para aktivis yang tergabung dalam Bali Forum Against Reklamasi #ForBali menolak klaim itu. 



Reklamasi Dubai Dan Singapura

"Kedua negara tersebut melakukan #Reklamasi dikarenakan kebutuhan yang mendasar atas lahan, namun ironis apabila indonesia yang memiliki puluhan ribu pulau kemudian harus melakukan reklamasi dengan mengesampingkan dampak lingkungan, sosial, dan juga ekonomi" 

Palm Jumaira, Dubai

Memciptakan reklamasi untuk menarik wisatawan asing kesebuah negara tentu sebuah keputusan yang bijak apabila memang tidak ada cara lain untuk membantu meningkatkan pendapatan negara melalui pendapatan negara non pajak, namun apabila hanya alasan itu yang digunakan pemerintah untuk mencipatakan lingkungan binaan berupa reklamasi di negara kepulauan ini sangat disayangkan

Reklamasi Singapura
Mengapa pemerintahan kita seolah-olah takut untuk menghentikan proyek-proyek reklamasi yang ada, apakah memang kajian yang telah dilakukan untuk proyek reklamasi ini sudah begitu mendalam dan dapat dipastikan memiliki lebih banyak dampak positif?


Share:

Restorasi Masjid Al Manshur Wonosobo (Sebuah Upaya Untuk Mengembalikan Arsitektur Islam Nusantara)

Munculnya revolosi industri di Eropa telah merubah cara-cara manusia melakukan produksi, yaitu dari penggunaan tenaga manusia dan hewan menjadi mesin. Dengan kredonya rasionalisasi, optimalisasi, minimalisasi, dan maksimalisasi, menyebabkan perubahan yang luar biasa dalam kehidupan masyarakat perkotaan.Perubahan tersebut melahirkan surplus dan pertumbuhan perkotaan yang tidak terduga. Kota-kota yang dibangun pada masa sebelumnya pada akhirnya tidak siap dan tidak mampu menerima pertumbuhan dan surplus yang luar biasa tersebut (Gurrel, 1992; dalam Sudaryono, 2012).

Kota yang awalnya dirancang menjadi ruang hunian, berubah fungsi menjadi ruang produksi, pergudangan sekaligus pemasaran. Semua limbah produksi yang terdiri dari limbah cair, padat dan gas memenuhi udara dan tanah-tanah hunian perkotaan. Kesehatan manusia dikorbankan atas nama surplus dan pertumbuhan kota. Kota-kota menjadi kumuh, penuh polusi dan tidak lagi nyaman dihuni.

Modern planning menjadi penyelamat kehancuran involatif yang mematikan kota-kota di Eropa di akhir abad 19 dan awal abad 20.Modern planning dengan kredo engineering telah berhasil memandu, merubah, dan memberi solusi terhadap masalah-masalah urbanisasi di kotakota besar di dunia pada saat itu. Perencanaan kota modern (modern planning) yang menjadi anak kandung paradigma positivisme dan menganut filosofi physical determinism, telah menikmati kejayaan selama kurang lebih 100 tahun (Sudaryono, 2012).

Di Indonesia, di era 1990 puncak pemikiran modern planning yang telah bersenyawa dengan Procedural Planning Theory (Faludi, 1973) diterjemahkan ke dalam kontek perencanaan di Indonesia dalam bentuk Rencana Umum Tata Ruang Wilayah (RTRW) atau Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK). Pada perkembangannya, modern planningkemudian dianggap telah mengabaikan kepentingan dan eksistensi masyarakat. Modern planning lebih berpihak kepada market dan kapitalis besar. Kondisi tersebut kemudian digambarkan dengan sangat mengesankan oleh Sudaryono (2008);

“ Sebagaisingle strategy….market berusaha membangun single market dan single konsumsi, yang membawa dampak dekstruktif berupa keserakahan ruang melalui apa yang disebut Lefebvre(1993) sebagai “ Consumption of space”. Melalui produksi ruang semacam itu, manusia-manusia kota hidup dan berkehidupan dalam kendali modal. Manusia-manusia kota “digerakkan” dan bukannya “bergerak” dalam ruang-ruang perkotaan. Dampak meluas dari “ Single strategy” ini adalah pada munculnya kondisi yang dia sebut sebagai “spatial chaos”, yakni situasi ketika market hanya perduli pada ruang-ruang serta lahan-lahan yang dikontrolnya saja, sehingga ruang ruang perkotaan lainnya menjadi “ruang-ruang sisa” atau menjadi “anak tiri kota” yang dipinggirkan dan tidak diperhatikan atau dalam konsepsi Trancik (1986) disebutnya sebagai lost space. Situasi seperti ini oleh Habermes (1989) disebut sebagai “exclusion”, ruang yang dibuang yang pada akhirnya justru berbalik arah memberikan “karma”nya berupa banjir, kemacetan lalulintas, konflik ruang, dan kecemburuan sosial dan spasial yang memicu fenomena kriminal perkotaan. Spatial chaos yang terjadi pada terutama kota-kota besar merupakan produk dari apa yang disebut Lefebvre (1993) sebagai kontradiksi ruang atau “contradictory space”. Menurutnya, kota telah membangun kontradiksi-kontradiksi dalam dirinya sendiri, dan fenomena ini telah membawa manusia-manusia kota tanpa disadari telah digerakkan oleh kontradiksi-kontradiksi ini. Manusia-manusia kota menjadi bingung dan terasing di kotanya sendiri. Kota-kota telah dibangun menjadi kota-kota yang tidak “appropriate”. Kota-kota semacam ini menurutnya tidak akan mampu memberikan kontribusi pada perubahan manusia-manusia yang beradab mulia, seperti disampaikannya “ change life, change society…mean nothing without the production of an appropriate space” (Sudaryono, 2008,4-5).

Pada  saat ini,  gambaran kondisi tersebut sudah sangat terasa dan terlihat dengan jelas pada kota-kota besar di Indonesia, seperti; Jakarta, Surabaya, dan Semarang. Banjir, permukiman kumuh, pengangguran, kesenjangan sosial, dan kriminalitas menjadi berita yang selalu menghiasi media cetak dan televisi. Terjadinya konflik antara kepentingan masyarakat, dengan kepentingan pemodal besar, serta kepentingan masyarakat dengan kepentingan pemerintah sering kali dijumpai. Seperti misalnya; konflik antara warga yang menolak penggusuran makam Mbah Priok dengan PT. Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II (Kompas.com, 14-4-2010). Penolakan warga Kecamatan Sumarorong, Mamasa, Sulawesi Barat terhadap rencana pembangunan bandara (Kompas.com, 15-9-2010), dan yang terbaru, konflik antara masyarakat Kampung Pulo dengan Pemda DKI, terkait dengan pemindahan warga Kampung Pulo ke Rusunawa (Kompas com, 2015).Kasus tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara pikiran dan kenyataan, kesenjangan antara pikiran pemerintah dan pikiran masyarakat. Kesenjangan antara perencanaan dan pelaksanaan.

Tumbuhnya hotel, apartemen, hypermarket, bangunan mix-use, dan fasilitas perkantoran dan perdagangan lainnya, yang hanya sedikit menyisakan ruang untuk beribadah kepada Allah SWT (Masjid atau mushola). Perencanaan sistem transportasi dan moda transportasi hanya menekankan pada aspek assebilitas dan effisiensi, terbukti belum berhasil mengatasi kemacetan. Berapa banyak masyarakat yang waktunya terbuang sia-sia ketika di jalan. Suami-isteri berangkat kerja sebelum subuh, pulang setelah Isya, sehingga tidak ada waktu yang tersisa bagi keluarga, anak-anaknya, dan masyarakat. Banyak orang mengabaikan bahkan meninggalkan kewajiban sholat karena tidak ada ruang dan waktu yang direncanakan oleh sistem transportasi perkotaan. Dibangunnya Masjid-masjid yang megah dengan biaya tinggi, hanya digunakan untuk tempat berwisata dan perdagangan, fenomena tersebut sudah sangat jauh menyimpang dari fungsi dan peran masjid di jaman Rasulullah.

Kota-kota tersebut mungkin sehat secara jasmani, tetapi rohaninya sakit. Kota yang rohaninya sakit akan memberikan dampak yang buruk terhadap penghuninya. Masyarakat menjadi cepat stress karena rutinitas pekerjaan, beban ekonomi, dan kondisi lingkungan yang tidak sehat. Kehidupan di Café dan pub yang penuh dengan kemaksiatan menjadi gaya hidupmasyarakat kelas atas dan menengah. Tidak tersedianya lapangan kerja, menyebabkan sebagaian masyarakat mencari jalan pintas dengan berbagai tindakan kriminalyang bertentangan dengan agama dan hukum.Kota-kota yang dibangun belum memberikan kontribusi kepada peningkatan kualitas kehidupan dan akhlak masyarakat. Sehingga terwujudnya kota yang toyyibatun warobbun ghofur masih jauh dari harapan.

Melihat kondisi tersebut, posisi Modern planningsaat ini dianggap telah terpelanting jauh. Dari tangga tertinggi ilmu peradaban menjadi menjadi sekedar ilmu kewirausahaan; sedangkan pada dataran praksis, peran arsitek meluncur dari ketinggian. Sebagai duta peradaban menjadi hanya sekedar teknisi saja, meminjam termininologi sinis dari Fainstein (1988), arsitek hanya sekedar menjadi “deal maker“ saja (Sudaryono, 2012).

Tentunya kegagalan tersebut tidak hanya dibebankan kepada arsitek, pendidikan Arsitektur di Indonesia juga memiliki andil besar. Kritik yang sangat tajam disampaikan oleh Joseph (2015);

“ enam puluh tahun sekolah arsitektur Indonesia, apa yang sudah dibuat?. Apa yang sudah dilakukan peneliti arsitektur di sini dengan Indonesianya ini ?.Betapa bodohnya kita, karena pendidikan arsitektur di Amerika-Eropa pun tidak mengajarkan arsitektur tradisional kita. Kenapa kita yang mau belajar sejarah mereka.Arsitektur Indonesia seharusnya berkontribusi global, dan tidak sebaliknya. Arsitektur Indonesia dapat mengambil posisi setara dengan peradaban lain”.

Melihat fenomena tersebut diatas, adalah merupakan tantangan yang berat bagi civitas akademika Universitas Sains Al Qur’an (UNSIQ), khususnya prodi Arsitektur untuk berusaha merumuskan kembali epistemologis atau pendekatan dan metode dalam membangun substansi pengetahuan perencanaan pada pendidikan Arsitektur. Sehingga pengetahuan yang diperoleh dihasilkan dan digunakan dalam perencanaan sejalan dengan visi Universitas Transformative, Humanis, dan Qur’ani dan merupakan suatu bangunan pengetahuan yang teranyam, menerus dan sesuai dengan problema empiris yang dihadapi. Bukan pengetahuan yang deduktif, linier, deterministik, dan hegemonik yang asing dan melahirkan kesenjangan antara premis preskriptif dengan realitas empiris yang ditatapnya (Sudaryono, 2012).

Setidaknya ada 3 kopetensi yang harus dimiliki oleh sarjana Arsitektur UNSIQ, yaitu; 1) Sarjana yang mampu merancang dan  menguasai ilmu arsitektur pada tingkat dasar. 2) Mampu mengaplikasikan bidang keahliannya dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, dan 3) Menguasai konsep teoritis bidang pengetahuan tertentu secara umum dan konsep teoritis bagaian khusus bidang tersebut secara mendalam.

Sejarah Peradaban Islam dengan pendalaman kajian Arsitektur Islam dan Ornamentasi dalam Islam serta konsep-konsep tentang Arsitektur Islam Indonesia, menjadi bidang pengetahuan umum dan khusus yang harus dikuasai secara mendalam oleh sarjana Arsitektur UNSIQ.

ARSITEKTUR ISLAM

Arsitektur Islam yang merupakan bagaian dari peradaban Islam harus dipahami sebagai karya arsitektur yang mengekspresikan pandangan hidup kaum muslim. Arsitektur Islam tidak terbatas pada karya arsitektur yang dibuat untuk melayani fungsi keagamaan, seperti, masjid, makam, dan madrasah tetapi juga dibangun untuk melayani fungsi-fungsi sekuler, seperti istana, pasar, karavanserai (Noer, 2005). Senada dengan itu, Sukada mendefinisikan Arsitektur Islam adalah merupakan bangunan dan karya Arsitektur yang dibuat untuk masyarakat Islam, atau dipakai mereka atau dimiliki mereka, terlepas dari apapun fungsinya sebelum itu dan arsiteknya (Hermanto, 2009)Asal-usul kebangsaan atau keyakinan sebuah karya arsitektur menjadi kurang penting, hasil akhir justru lebih penting (Noer, 2005).

Islam tidaklah memberi batasan atau definisi yang tegas mengenai aspek fisik (being reality) dalam produk arsitekturnya, tetapi memberi batasan yang tegas tentang aspek makna (meaning reality). Seperti yang tercantum dalam Al Qur’an Surat At-Taubah ayat 108, yang artinya;

“……sesungguhnya Masjid yang didirikan atas dasar Taqwa (Masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya ada orang yang ingin membersihkan diri dan Allah menyukai orang-orang yang bersih”.

Masjid Quba adalah arsitektur Islam yang pertama kali dibangun, yaitu pada hari Senin 8 Rabi’ul awal tahun 1 Hijriah, ketika Nabi Muhammad tiba di Quba,  sebuah tempat kira-kira 10 km jauhnya dari Yatsrib, Nabi mendirikan Masjid, inilah Masjid yang pertama kali didirikan dalam Sejarah Islam. Di dalam Masjid itulah Nabi Muhammad SAW menyatukan umat dan menyusun kekuatan mereka lahir batin, untuk membina masyarakat Islam dan Daulah Islamiyah berlandaskan semangat Tauhid.

Perkembangan Arsitektur Islam tidaklah terlepas dari proses perkembangan peradaban Islam yang merupakan hasil akulturasi dan asimilasi kebudayaan Yunani, Persia, dan India. Pengaruh tradisi arsitektur Bizantium dan warisan geometric Yunani, memberikan kontribusi pada pembentukan arsitektur Islam. Sehingga Arsitektur Islam menemukan bentuknya pada jaman dinasti Umayyah dan Abasiyyah. Seperti, Masjid besar Cairo, Masjid besar Cordoba, dan Masjid Hispano-Moresque di Afrika (Al Faruqi, 2003).

Beberapa konsep dasar Arsitektur Islam yang berbeda dengan Arsitektur Barat dan diharapkan dapat diterapkan pada kegiatan perencanaan dan perancangan lingkungan binaan adalah sebagai berikut;

Ornamentasi dalam Arsitektur Islam.
Bagi sarjana Barat, seni bersifat universal dalam seluruh kebudayaan dan peradaban. Ornamentasi hanyalah tambahan superfisial pada entitas estetis.Maka tidak heran apabila ditemukan karya seni baik berupa patung ataupun lukisan yang memperlihatkan keindahan tubuh manusia (khususnya wanita). Karya seni tersebut tidak hanya dijumpai pada lingkungan sekuler seperti, istana, pasar, rumah tinggal, tetapi juga lingkungan profane seperti gereja.

Berbeda dengan ornamentasi Islam, Ornamentasi dalam Islam merupakan upaya estetis nyata kaum muslim untuk menciptakan produk seni yang membuat pemandangnya dapat merasakan transendensi Tuhan. Karena kebutuhan akan pengingat ideologi Islam atau pengingat tauhid, maka ornamentasi Islam dapat dijumpai dimana-mana. Tidak hanya terdapat di setiap halaman kitab Al Qur’an yang suci, syair-syair atau kumpulan kisah khalifah juga diberi dekorasi. Ornamentasi Islam tidak hanya dijumpai di masjid, tetapi juga di karavanserai (hotel), madrasah, atau rumah tinggal. Bukan hanya dudukan kitab Al Qur’an saja yang dihiasi, tetapipedang, pakaian, kain penutup kepala, bahkan piring makan muslimjuga dihiasi dengan cara serupa. Ornamentasi bukan komponen yang ditambahkan secara superfisial pada karya seni atau arsitektur. Ornamentasi Islam justru merupakan inti dari peningkatan spiritualisasi kreasi artistik Islam dan lingkungan Muslim (Al Faruqi, 2003).

Ketiadaan bentuk arsitektural yang spesifik untuk fungsi yang spesifik.
Bentuk Arsitektur Islam dapat disesuaikan dengan berbagai fungsi dan tujuan. Sebaliknya, sebuah bangunan Islam yang melayani suatu fungsi spesifik dapat menerima berbagai bentuk. Contohnya adalah bangunan berhalaman dalam dengan empat iwanatau ruang beratap atau berkubah  yang terbuka pada salah satu pinggirnya yang ditemukan di Asia Tengah dan Iran dan di bagaian lain dunia Islam. Bangunan tersebut dapat berfungsi dengan baik sebagai istana, madrasah, karavanserai, pemandian, maupun tempat tinggal pribadi. Pada tempat dan masa yang berbeda bangunan tersebut dibangun untuk melayani semua fungsi (Noer, 2005).

Transfigurasi fungsi.
Berkaitan dengan transfigurasi fungsi , adalah fakta bahwa dalam konteks Islam, sedikit keinginan untuk memberikan lingkungan terpisah bagi aktivitas manusia.Kehidupan muslim sesungguhnya merupakan perbauran secara terus menerus aktivitas relegius dengan tuntutan sekuler.

Lingkungan yang dibangun secara Islami mencirikan pemanfaatan bersama ruang publikdan ruang pribadi. Contohnya pasar, kendati pasar merupakan bagaian utama kota tempat berlangsungnya aktivitas perdagangan di kota Islam, namun pasar tidak terisolasi dari aktivitas dan kehidupan lain. Selain toko, bank, dan gudang yang diperlukan untuk perdagangan, toko dan masjid mudah dijangkau oleh konsumen dan pembeli. Fasilitas permukiman, karavanserai, sering saling menghuni pada ruang pasar, dan menjadi bangunan atau kompleks multifungsi.

Masjid sendiri sering diapit dengan ruang komersial, masjid sering digabungkan dengan area untuk kepentingan pendidikan, tempat tinggal dan permukiman. Agama Islam berperan dalam setiap kehidupan dan sebagai akibatnya semua segi kehidupan masyarakat bernafaskan keagamaan, Penerapan konsep transfigurasi fungsi terlihat pada bangunan;  Rumah sakit Qolawun Kairo (abad ke-13), Istana Alhambra, Granada (abad ke 13-14), dan Kompleks Sulaimaniyyah, Istambul (1550-1557). Konsep tersebut sangat berbeda dengan modern planning yang memisahkan antara aktivitas sekuler dan religius, bahkan menghilangkan ruang-ruang religious (Al Faruqi, 2003; Noer, 2005).



ARSITEKTUR ISLAM NUSANTARA

Suatu kenyataan yang tak dapat dibantah bahwa Arsitektur lokal tradisional yang tersebar di Nusantara tercinta ini cenderung relegius, relegius di sini tentu saja diartikan sebagai sikap yang taat terhadap Penciptanya, bahkan banyak Arsitektur lokal tradisional yang justru berangkat dari ajaran agamanya.

Salah satu contoh Arsitektur yang berangkat dari Ajaran Agama Islam adalah Arsitektur Tanean Lanjang sebuah pola perumahan tradisional di Madura.Masyarakat Madura dikenal sebagai penganut Islam yang taat. Islam merupakan sistem nilai yang sangat kuat mengikat komunitasnya (Sanyoto,1981; dalam Fathoni, 2009). Kyai adalah orang yang sangat disegani dan dihormati. Komplek rumah Kyai terdiri dari masjid, pesantren, dan rumah Kyai. Komplek rumah kyai menjadi pusat orientasi dan kegiatan masyarakat pada skala desa, terutama berkaitan dengan kegiatan keagamaan, seperti Khataman Qur’an, pendidikan dan pernikahan.

Pada skala messo, pola ruang permukiman tradisional Madura berbentuk kluster. Kluster dihuni satu kerabat yang terdiri dari empat sampai 5 rumah, dengan tambahan bangunan langgar, rumah dapur dan kandang. Ketiga bangunan tambahan tersebut  berorientasi dan diikat oleh tanean lanjhang. Tanean lanjhangjuga menjadi ruang multifungsi seperti,fungsi ekonomi, sosial, agama, dan kekerabatan. Di dalamnya terkandung nilai-nilai Islam.

Seluruh konsepsi, langgar, kamar mandi dan orientasinya didasarkan pada ajaran Hablum minallah. Pola sirkulasi dan zoning untuk lelaki dan perempuan sesuai dengan normamahrom serta disediakannya ruang luar bersama yang merupakan common space atau ruang bersama merupakan cerminan ajaran Hablum minannas (Hermanto, 2009).Tanean lanjhang adalah pusat kosmis. Proses pembangunan bergerak dari arah barat ke timur, dengan orientasi rumah ke selatan. Arah barat dianggap akhirat sedangkan timur dunia. Utara lambang suci atau akhirat, selatan lambang dunia.

Permukiman di Pegunungan Dieng, merupakan contoh arsitektur Islam Indonesia yang merupakanhasil asimilasi dan akulturasi tradisi Jawa, Hindu, dan Islam. Melalui penelitian yang mendalam, Hermanto (2015) dalam Disertasinya menemukan bahwa;

Permukiman di Pegunungan Dieng merupakan hasil karya dari masyarakat yang direncanakan dengan penuh kesadaran berdasarkan kedalaman wawasan pemikiran yang telah dimiliki sejak dari dulu hingga sekarang. Prinsip hidup masyarakat Pegunungan Dieng adalah menjalin hubungan dengan sesama manusia dengan sebaik baiknya agar terbentuk kehidupan yang penuh rasa kekeluargaan, rukun dan guyub, dengan cara membangun permukiman yang mengacu pada konsep ”tunggal begenen-botolan”. ”Tunggal begenen-botolan”bermakna kemenyatuan dalam wadah yang saling terhubung.

Permukiman di pegunungan Dieng  dibangun atas dasar hubungan sesama manusia yang berlangsung secara terus menerus. Konsep ”Tunggal bagenen-botolan” awalnya seolah olah hanya mengatur hubungan antar manusia, kemudian menjadi landasan berfikir yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Pegunungan Dieng. Nilai-nilai lokal yang merupakan substansi tunggal bagenen-botolan berubah menjadi pengetahuan yang terus tersimpan dalam kognisi masyarakat sehingga terwujud dalam bentuk aktivitas yang menciptakan ruang.

Tunggal bagenen–botolan” adalah kesadaran transendental yang membentuk permukiman di Pegunungan Dieng, di dalamnya terkandungkonsep brayan. Konsep tersebut kemungkinan besar merupakan bagian dari pandangan hidup masyarakat Jawa tentang papan atau rumah tinggal yang dianut oleh masyarakat di Pegunungan Dieng, sebelum dakwah Islam masuk ke Dieng. Setelah Dakwah Islam masuk, konsep yang berasal dari tradisi Jawa ini kemudian semakin berkembang karena memang konsep tersebut sejalan dan merupakan bagian dari ajaran agama Islam. Ajaran agama Islam yang berkaitan dengan nilai brayan yang sudah dimasukkan kedalam tradisi masyarakat di Pegunungan Dieng yang pertama adalah sodaqoh. Ajaran sodaqoh ditemukan dalam tradisi riyoyo atau memberikan makanan atau bebungah, monjong ketika menjelang Hari Raya Idulfitri. Sodaqoh adalah konsep berbagi dalam Islam, yaitu dengan memberikan sesuatu yang bermanfaat  kepada keluarga dekat, jauh, maupun sesama muslim. Pemberian tersebut merupakan bentuk komunikasi atau media untuk mempererat persaudaraan. Yang kedua silaturahmi. Konsep silaturahmi ditemukan dalam bentuk tradisi endong–endongan, mengunjungi orang tua atau birrolwalidain, cicip-cicipan tembakau di latar ombo, takziah, menengok orang sakit, selamatan kelahiran, perkawinan dan sunatan. Ajaran silaturahmi merupakan bagian dari ajaran Islam yang menjadi  sarana untuk mempererat persaudaraan antara keluarga dekat, jauh, maupun sesama umat Islam. Tradisi wilujengan ketika sadranan, bersih makam, nyelameti kali, atau wilujengan mauludan di dalamnya juga mengandung ajaran Islam tentang sodaqoh, silaturahmi dan konsep egaliter Islam yang merupakan bagian dari pengamalan nilai brayan  dalam skala makro.

Dalam konteks perencanaan permukiman desa-desa di pegunungan Dieng. Konsep ”tunggal”dapat digunakan untuk setiap kegiatan pembangunandi Pegunungan Dieng, yaitu dengan cara menyatukan dan merangkul berbagai kepentingan yang terlibat dalam proses pembangunan. Kemenyatuan tersebut tidak terikat oleh wilayah desa, gender, kedudukan, golongan, dan kekerabatan.

Penggunaan konsep pertalian untuk penataan atau pembangunan permukiman baru. Yaitu adanya sistem sirkulasi yang dapat menjangkau seluruh fasilitas permukiman dengan mempertimbangkan aspek kemudahan, kedekatan dan kecepatan. Konsep-konsep perumahan tanpa pagar halaman perlu tetap dipertahankan untuk menjalin tetap terhubungnya rasa persaudaraan (ngraketake paseduluran) dan kebersamaan (konsep nyepetno lakudan brayan) Sirkulasi permukiaman dibuat untuk menghubungkan antara blok yang satu dengan lainnyadengan fasilitas ibadah, fasilitas ruang terbuka, rekreasi, dan lingkungan sekitarnya.

PENUTUP

Setiap upaya untuk menggali nilai-nilai atau konsep Arsitektur Islam dan Arsitektur Islam Indonesia, betapa kecilnya adalah sesuatu yang sangat berharga bagi pengembangan Ilmu Pengetahuan. Ke depan hasilnya dapat dipergunakan sebagai landasan nilai bagi langkah preskriptif perencanaan. Tidaklah mustahil akan terwujud lingkungan binaan yang dilandasi oleh ajaran Islam yang dihasilkan oleh Sarjana Arsitektur UNSIQ. Semoga Allah meridhoiNya, aamin.

( Orasi Ilmiah disampaikan pada Wisuda Wisuda UniversitasSains Al Qur’an ke-29 2 September 2015)

  

DAFTAR RUJUKAN

Al Faruqi Ismail; Al Faruqi Lois Lamya, 2003, Atlas Budaya; Menjelajah Khazanah Peradaban Gemilang, Mizan, Bandung.

Fainstein, Susan S (1988), “ Urban transformation and Economic Development Policy”, quated by Beauregard, RA (1989) in Fainstein,SS & Campbell,S.(1996), et.seq.

Faludi, A (1973), Planning Theory, Pergamon Press, Oxford.

Fatony, Budi, 2009, Pola Permukiman Masyarakat Madura di Pegunungan Buring, Intermedia, Malang.

Hermanto, Heri,ed, 2009, Bunga Rampai Arsitektur Islam, LP3M UNSIQ, Wonosobo.

Hermanto, Heri, 2010, Kultur dan Tata Ruang Arsitektur Dusun Plemburan, Dieng Wonosobo, LP3M UNSIQ, Wonosobo

Hermanto, Heri, 2015, “Tunggal bagenen-botolan” Sebagai Kesadaran Transendental Pada Permukiman di Pegunungan Dieng, Disertasi Program Pascasarjana Teknik Arsitektur, Universitas Gadjah mada, Yogyakarta.

Mukhlisah, Antariksa, Wijayanto, Tunjung, 2011, Pola Permukiman Tradisional Madura Desa Ellak Daya Kabupaten Sumenep, Seminar Nasional “ Teritorialitas, Pariwisata, dan Pembangunan Daerah, Program Magister Arsitektur Universitas Udayana, Bali

Noer, Kautsar Azhari, 2005, Pemikiran dan Peradaban: Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, PT Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta.

Sudaryono (2001). “Inductive Planning”: Paradigma Baru Pendidikan Perencanaan, paper seminar, Asosiasi Sekolah Perencanaan Indonesia (ASPI), Kampus UNDIP, Semarang, 31 Maret 2001.

Sudaryono, (2008), Perencanaan Kota Berbasis Kontradiksi: Relevansi Pemikiran H.Lefebvre dalam produksi Ruang Perkotaan Saat ini, Jurnal Perencanaan Wilayah kota,Vol.19, No.1, April 2008.

Sudaryono (2012), Fenomenologi Sebagai Epistimologi Baru Dalam Perencanaan Kota dan Permukiman, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas Teknik Gadjah Mada, Yogyakarta.

Sumber Tulisan :arsitekturislamnusantara.com
Share:

Pageviews