Mengubah Spasi Menjadi Ruang Rasa.

Pesan - Pesan Untuk Mahasiswa Dan Arsitek Indonesia Sendiri

Prof. Dr. Ir. Parmono Atmadi

             Arsitektur dan perkembanganya di Indonesia

             Perkenankanlah saya kini menyampaikan sepatah dua patah kata kepada para mahasiswa jurusan Teknik Arsitektur.

Pengertian dan pengetahuan tentang perkembangan arsitektur merupakan pembinaan seorang calon Arsitek. Umumnya mata kuliah semacam ini sangat menarik mahasiswa tetapi kemudian dilupakan.  pendidikan arsitektur sangat memerlukan pembinaan kemampuan menalar dan kreativitas yang tinggi, kemampuan melihat ke depan dan pandangan yang selalu obyektif.
Besar minat para calon mahasiswa arsitektur tiap tahunya naik dengan meyakinkan. Hal tersebut merupakan gejala yang sangat menggembirakan, karena dengan demikian pembangunan dan pengembangan arsitektur di Indonesia tidak akan terputus. Sebagai calon Arsitek, saudara harus sadar bahwa peran saudara tidak terbatas pada perancangan satu bangunan saja, tetapi saudara akan menentukan perkembangan arsitektur di kemudian hari dan keputusan saudara akan menentukan atau paling sedikit mempengaruhi kehidupan manusia. Karenanya apapun motivasi saudara punyai pada waktu saudara masuk dalam pendidikan arsitektur, seyogyanya saudara arahkan pada tugas dan peran Arsitek yang sebenarnya, karena pada dasarnya Arsitek itu adalah abdi masyarakat, bangsa dan Negara.
Sehubungan dengan hal tersebut saya sangat terkesan pada kata-kata Prof. Ir. F. Dicke salah seorang guru besar perintis dan Pembina pendidikan arsitektur di Indonesia yang mengatakan bahwa :
arsitektur tidak mempunyai tujuan pribadi, tetapi bertujuan mengabdi pada manusia, kemanusiaan, masyarakat Raya dan jika ada kepercayaan, mengabdi kepada tuhan Sambutan KMA ITB “ Guna Dharma (1956).
Akhirnya saya rasa perlu untuk menyampaikan selamat kepada saudara, karena saudara telah memilih suatu bidang ilmu yang merupakan salah satu bidang yang penuh tantangan, menarik dan mulia.


Prof. Ir. Sidharta

Saya Ingin Menujukan Kata-kata saya berikut ini kepada para mahasiswa Jurusan Arsitektur
Seseorang akan menjadi Arsitek karena suatu motivasi. Ada yang menganggap bahwa lewat profesi ini dimungkinkan memperoleh kekayaan materiil yang memadai kemudian hari. Ada yang cita-citanya samar-samar saja muncul dalam benak hatinya, tetapi ada juga betul-betul terpanggil jiwanya untuk menjadi Arsitek. Seorang Arsitek harus berusaha dalam batas kemampuanaya memberikan bimbingan dalam arsitektur sebagai orang kepercayaan dan penasehat ahli serta penuh itikad sebaik-baiknya. Minat terhadap profesi ini tahun demi tahun meningkat. Ada kemungkinan kelak saudara memperoleh sedikit kesempatan untuk menjalani profesi perancangan murni. Mungkin saudara akan berkecimpung dalam pembinaan lingkungan pemukiman masyarakat kecil yang miskin dan sangat banyak, itupun tugas Arsitek. Namun, tugas apapun yang akan saudara pikul kemudian, seorang Arsitek harus jujur, berdedikasi penuh dan dengan tanggung jawab. Terhadap kawan profesi saudara, saudara harus bersikap loyal dan menghargai. Saya ingin mengulangi ucapan Vitruvius bagi saudara-saudara sebagai berikut :

“I have not studied with the view of making money by my profession; rather I have held that a slight fortune with good repute is to be persuit more than abounding wealth accompanied by disgrace “


Prof. Dipl. Ing. Suswondo Bismo Sutedjo


Perancangan arsitektur dan pembentukan lingkungan fisik
Tanpa saudara saya tidak berdiri di sini. Bagi seorang mahasiswa arsitektur, sangat penting untuk mengemukakan dasar-dasar pemikiran suatu rancangan dengan jelas, tepat, singkat, dan lengkap dengan menggunakan sketsa dan model secara efisien dan efektif. Merancang adalah kegiatan mencari dalam segala kebebasan, kemandirian, dan menyusun strategi melawan keterbatasan dan kelangkaan.
Saya ingin bertemu dengan Arsitek-arsitek muda yang sedang bergulat, bukan para pemimpin profesi dan mereka yang sukses, kecuali sebagai guru-guru besar luar biasa. Saya harus belajar banyak dan saya pasti akan membuat kesalahan-kesalahan.
Perlu diingat bahwa orang yang tidak pernah berbuat salah berarti tidak pernah melakukan sesuatu yang benar, yang bermanfaat bagi masyarakat luas.



Prof. Ir. Eko Budihardjo, M.sc


Kepekaan sosio-kultural Arsitek
Arsitek Kaki telanjang
Perkenankanlah saya sekarang menyampaikan sepatah dua patah kata kepada para mahasiswa arsitektur yang tercinta, yang merupakan tumpuan kita di masa depan.
Para mahasiswa arsitektur yang saya cintai.
Untuk menangani masalah arsitektur dan lingkungan binaan, di butuhkan ribuan Arsitek yang penuh dedilkasi, itikad baik, pengertian dan kecintaan terhadap masyarakat.
Kita tidak terlalu membutuhkan kehadiran Seorang Arsitek yang genius, atau pendeta Arsitek yang agung, yang sarat dengan doktrin-doktrin. Arsitek yang genius dalam penciptaan bentuk, ternyata tidak secara otomatis genius dalam perekayasaan sosial. Kita lebih memerlukan Arsitek kaki-telanjang yang kepekaan sosio-kulturalnya mampu menghasilkan karya arsitektur yang biarpun barangkali sederhana namun puitis, menyentuh jiwa dan memperkaya kehidupan manusia.
Kepedulian dan komitmen anda terhadap masyarakat, perlu diikuti dengan minat untuk meneliti dan kebranian untuk menyampaikan hasil-hasilnya secara terbuka, menguak tabir kebenaran, yang pada hakikatnya merupakan esensi dari tugas cendikiawan.
Sejarah telah membuktikan bahwa manusisa bisa mencapai apa yang semula dianggap tidak bisa diraih. Cobalah untuk selalu mencoba memenuhi pesan Goethe: “to make visible the invisible and express the inexpressible”.
Merancang sesuatu yang nir-teraga, atau designing the intangibles dengan melihat arsitektur sebagai proses, melalui komunikasi dan advocacy, merupakan perkara yang luarbiasa peliknya tetapi bukanya tidak mungkin untuk dilakukan.
Marilah kita bersama-sama melihat segala sesuatu tidak hanya melalui kaca yang tembus pandang, tetapi juga melalui cermin, agar bisa selalu mawas diri.
Sebagai Arsitek nanti, mau tak mau anda harus bergulat dengan bahan-bahan yang keras seperti batu, beton, baja, tetapi dalam sikap anda harus tetap lembut, luwes, dan kenyal.
Kekerasan dan kekakauan itu merupakan symbol kematian, sedangkan kelembutan dan keluwesan adalah lambing kehidupan.
Saya sampaikan pesan ‘warisan’ dari Prof. Dr. Ir. Parmono Atmadi, guru saya yang sangat saya hormati, saya cintai dan saya banggakan : “Saudara Telah memilih suatu bidang ilmu penuh tantangan, menarik, dan mulia. Arsitek tidak mempunyai tujuan pribadi, tetapi bertujuan mengabdi pada manusia, kemanusiaan, masyarakat, dan kepada tuhan”

Sumber : Perkembangan Arsitektur dan pendidikan Arsitek di Indonesia, Gadjah Mada Univesity Press

Share: