Mengubah Spasi Menjadi Ruang Rasa.

Reklamasi Teluk Jakarta Nasib Mu Kini (Arogansi Pemodal?)

Kebutuhan akan hadirnya tempat tinggal yang dapat dikatakan layak di indonesia sangat besar, terutama percepatan pertumbuhan masyarakat kelas menengah dan para profesional muda di kota-kota besar di indonesia, seperti medan, surabaya dan jakarta. maka dari itu para pengusaha besar khususnya di bidang property berfikir dan menjadikan ini sebagai target market yang besar dan dapat dimanfaatkan untuk memperoleh keuntungan yang semaksimal mungkin, tentu saja hal tersebut wajar dan tidak menjadi masalah, karena memang sewajarnya sebuah korporasi bergerak dan berputar untuk memperoleh keuntungan, namun sampai dimana batasnya? apakah ada kaidah-kaidah yang seharunya mereka penuhi? seperti dampak sosial, ekonomi, bahkan hingga politik? di pembahasan ini saya akan membahas mega proyek yang bernilai triliunan Rupiah yang sekarang sedang dan masih terus berlangsung proses pembangunan #Reklamasi teluk Jakarta.

ada 3 pihak yang secara langsung maupun tidak langsung bersinggungan dengan Mega Proyek tersebut, Pertama adalah Pemerintah, Kemudian yang kedua adalah Pengembang, dan yang terakhir adalah masyarakat.

dipembahasan ini pula akan di bagi menjadi 3 topik utama Reklamasi pertama adalah apa itu reklamasi, dan apakah perlu reklamasi. yang kedua adalah mengenai dampak positif yang terjadi (Kemungkinan terjadi) dan dampak negatifnya. yang terakhir adalah perbandingan proyek-proyek reklamasi di Indonesia dan dunia.


Apa Itu Reklamasi?

- Reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan dengan tujuan menambah luasan daratan untuk suatu aktivitas yang sesuai di wilayah tersebut dan juga dimanfaatkan untuk keperluan konservasi wilayah pantai. Reklamasi ini dilakukan bilamana suatu wilayah sudah tererosi atau terabrasi cukup parah sehingga perlu dikembalikan seperti kondisi semula, karena lahan tersebut mempunyai arti penting bagi negara.

- Peraturan Menteri Perhubungan No PM 52 Tahun 2011 menyebutkan bahwa, reklamasi adalah pekerjaan timbunan di perairan atau pesisir yang mengubah garis pantai dan atau kontur kedalaman perairan.

- Berdasarkan Modul Pedoman Perencanaan Tata Ruang Kawasan Reklamasi (2007) adalah suatu pekerjaan/usaha memanfaatkan kawasan atau lahan yang relatif tidak berguna atau masih kosong dan berair menjadi lahan berguna dengan cara dikeringkan. Misalnya di kawasan pantai, daerah rawa-rawa, di lepas pantai/di laut, di tengah sungai yang lebar, atau pun di danau.

- Menurut Perencanaan Kota (2013), reklamasi sendiri mempunyai pengertian yaitu usaha pengembangan daerah yang tidak atau kurang produktif (seperti rawa, baik rawa pasang surut maupun rawa pasang surut gambut maupun pantai) menjadi daerah produktif (perkebunan, pertanian, permukiman, perluasan pelabuhan) dengan jalan menurunkan muka air genangan dengan membuat kanal – kanal, membuat tanggul/ polder dan memompa air keluar maupun dengan pengurugan

berdasar keterangan-keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa reklamasi merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan guna mengoptimalkan sebuah kawasan yang kurang produktif dan tidak memiliki nilai ekonomi menjadi kawasan yang memiliki nilai ekonomi dan komoditi khusus dengan cara menurunkan muka air dan atau menimbun pasir kedalam sebuah rawa atau perairan sehingga lahan dapat dimanfaatkan dengan Optimal.

Apakah Reklamasi kegiatan yang Dibutuhkan dijakarta?

Reklamasi jika dilihat sepintas tentu merupakan sebuah keniscayaan melihat kepadatan penduduk jakarta yang kian hari kian bertambah, yang kini tahun 2017 angkanya nyaris menyentuh 10 juta penduduk dengan luasan jakarta yang hanya 664.01 km2, tentu akan dibutuhkan sebuah perencanaan yang matang untuk tempat tinggal misalnya, dan reklamasi teluk merupakan salah satu solusi yang dapat diambil. pertanyaanya kemudian adalah apakah me-reklamasi teluk menjadi sebuah keharusan? melihat masih banyak masalah yang terdapat dijakarta?

ataukah reklamasi hanya dapat dinikmati oleh kelompok masyarakat tertentu saja?


“Antara mencari untung dan melayani masyarakat tidak bisa seiring-sejalan." Yann Martel, life Of Pi


 Menakar Untung Rugi Kegiatan Reklamasi


melihat untung rugi sebuah kegiatan tentu dilihat dari berbagai sudut pandang, agar objektif, dalam kegiatan kegiatan reklamasi ini, masalah mengemuka ketika para nelayan menyangsikan kegiatan reklamasi ini, karena mereka secara langsung terdampak dalam perolehan ikan yang cenderung menurun, dikarenakan habitatnya yang rusak serta air laut yang menjadi keruh dan sulit mendapatkan ikan, ini tentu masalah yang serius karena ribuan nelayan tentu harus melanjutkan kehidupan mereka karena bagaimanapun keluarga dirumah harus di nafkahi, efeknya menjadi domino tentu saja.

Tanah reklamasi juga sangat rentan terhadap likuifaksi (pencairan tanah, tanah kurang solid) selama gempa bumi yang tentu saja dapat memperkuat jumlah kerusakan yang terjadi pada bangunan dan infrastruktur. 

Dampak lingkungan lainnya dari proyek ini adalah meningkatkan potensi banjir. Hal itu dikarenakan proyek tersebut dapat mengubah bentang alam (geomorfologi) dan aliran air (hidrologi) di kawasan reklamasi tersebut. Perubahan itu antara lain berupa tingkat kelandaian, komposisi sedimen sungai, pola pasang surut, pola arus laut sepanjang pantai dan merusak kawasan tata air. potensi banjir yang ada dikawasan yang terdampak langsung akan semakin di perparah dengan kondisi pemanasan global yang kian hari kian mengkhawatirkan.

Ruang publik untuk kawasan tersebut tentu menjadi terbatas apabila telah dilakukan reklamasi, hanya orang-orang yang benar-benar memiliki kemampuan untuk mengakses ruang tersebut yang dapat dengan mudah menempati atau sekedar menikmati alamnya.


Reklamasi Lain Tempat

Reklamasi Teluk Benoa




Rencana reklamasi Teluk Benoa ini dulunya melanggar Perpres No. 45 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan SARBAGITA.


Pemandangan menakjubkan di "Pulau Dewata", tempat yang dikenal banyak wisatawan asing sebagai sorga damai, dengan banyaknya bangunan kuil Hindu dimana-mana. Di kartu pos, dan tag line Wonderful Indonesia, Bali memang selalu tampak indah, ramah dan sentosa. 

Tapi belakangan sebuah megaproyek di Teluk Benoa yang diperkirakan akan menghabiskan dana 15 miliar dolar AS sejak era Presiden #SBY, belum lama memicu gerakan protes terbesar di pulau wisata yang tersohor itu. Reklamasi Teluk Benoa rencananya akan menjadikan kawasan itu resor wisata mewah bertaraf internasional.
Tahun 2014, tepat sebelum meninggalkan jabatannya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan Perpres No 51 Thn 2014 yang mengkonversi status kawasan ini dari "wilayah konservasi" menjadi "wilayah revitalisasi". Perusahaan Developer Tirta Wahana Bali Internasional, bagian dari Artha Graha milik pengusaha Tomy Winata, kemudian mengumumkan megaproyek Reklamasi Teluk Benoa.

Pihak developer menerangkan bahwa megaproyek ini akan membuka lapangan kerja bagi 200.000 orang dan akan menjadi penopang penting perekonomian Bali secara umum. akan tetapi para aktivis yang tergabung dalam Bali Forum Against Reklamasi #ForBali menolak klaim itu. 



Reklamasi Dubai Dan Singapura

"Kedua negara tersebut melakukan #Reklamasi dikarenakan kebutuhan yang mendasar atas lahan, namun ironis apabila indonesia yang memiliki puluhan ribu pulau kemudian harus melakukan reklamasi dengan mengesampingkan dampak lingkungan, sosial, dan juga ekonomi" 

Palm Jumaira, Dubai

Memciptakan reklamasi untuk menarik wisatawan asing kesebuah negara tentu sebuah keputusan yang bijak apabila memang tidak ada cara lain untuk membantu meningkatkan pendapatan negara melalui pendapatan negara non pajak, namun apabila hanya alasan itu yang digunakan pemerintah untuk mencipatakan lingkungan binaan berupa reklamasi di negara kepulauan ini sangat disayangkan

Reklamasi Singapura
Mengapa pemerintahan kita seolah-olah takut untuk menghentikan proyek-proyek reklamasi yang ada, apakah memang kajian yang telah dilakukan untuk proyek reklamasi ini sudah begitu mendalam dan dapat dipastikan memiliki lebih banyak dampak positif?


Share: