Mengubah Spasi Menjadi Ruang Rasa.

Restorasi Masjid Al Manshur Wonosobo (Sebuah Upaya Untuk Mengembalikan Arsitektur Islam Nusantara)

Munculnya revolosi industri di Eropa telah merubah cara-cara manusia melakukan produksi, yaitu dari penggunaan tenaga manusia dan hewan menjadi mesin. Dengan kredonya rasionalisasi, optimalisasi, minimalisasi, dan maksimalisasi, menyebabkan perubahan yang luar biasa dalam kehidupan masyarakat perkotaan.Perubahan tersebut melahirkan surplus dan pertumbuhan perkotaan yang tidak terduga. Kota-kota yang dibangun pada masa sebelumnya pada akhirnya tidak siap dan tidak mampu menerima pertumbuhan dan surplus yang luar biasa tersebut (Gurrel, 1992; dalam Sudaryono, 2012).

Kota yang awalnya dirancang menjadi ruang hunian, berubah fungsi menjadi ruang produksi, pergudangan sekaligus pemasaran. Semua limbah produksi yang terdiri dari limbah cair, padat dan gas memenuhi udara dan tanah-tanah hunian perkotaan. Kesehatan manusia dikorbankan atas nama surplus dan pertumbuhan kota. Kota-kota menjadi kumuh, penuh polusi dan tidak lagi nyaman dihuni.

Modern planning menjadi penyelamat kehancuran involatif yang mematikan kota-kota di Eropa di akhir abad 19 dan awal abad 20.Modern planning dengan kredo engineering telah berhasil memandu, merubah, dan memberi solusi terhadap masalah-masalah urbanisasi di kotakota besar di dunia pada saat itu. Perencanaan kota modern (modern planning) yang menjadi anak kandung paradigma positivisme dan menganut filosofi physical determinism, telah menikmati kejayaan selama kurang lebih 100 tahun (Sudaryono, 2012).

Di Indonesia, di era 1990 puncak pemikiran modern planning yang telah bersenyawa dengan Procedural Planning Theory (Faludi, 1973) diterjemahkan ke dalam kontek perencanaan di Indonesia dalam bentuk Rencana Umum Tata Ruang Wilayah (RTRW) atau Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK). Pada perkembangannya, modern planningkemudian dianggap telah mengabaikan kepentingan dan eksistensi masyarakat. Modern planning lebih berpihak kepada market dan kapitalis besar. Kondisi tersebut kemudian digambarkan dengan sangat mengesankan oleh Sudaryono (2008);

“ Sebagaisingle strategy….market berusaha membangun single market dan single konsumsi, yang membawa dampak dekstruktif berupa keserakahan ruang melalui apa yang disebut Lefebvre(1993) sebagai “ Consumption of space”. Melalui produksi ruang semacam itu, manusia-manusia kota hidup dan berkehidupan dalam kendali modal. Manusia-manusia kota “digerakkan” dan bukannya “bergerak” dalam ruang-ruang perkotaan. Dampak meluas dari “ Single strategy” ini adalah pada munculnya kondisi yang dia sebut sebagai “spatial chaos”, yakni situasi ketika market hanya perduli pada ruang-ruang serta lahan-lahan yang dikontrolnya saja, sehingga ruang ruang perkotaan lainnya menjadi “ruang-ruang sisa” atau menjadi “anak tiri kota” yang dipinggirkan dan tidak diperhatikan atau dalam konsepsi Trancik (1986) disebutnya sebagai lost space. Situasi seperti ini oleh Habermes (1989) disebut sebagai “exclusion”, ruang yang dibuang yang pada akhirnya justru berbalik arah memberikan “karma”nya berupa banjir, kemacetan lalulintas, konflik ruang, dan kecemburuan sosial dan spasial yang memicu fenomena kriminal perkotaan. Spatial chaos yang terjadi pada terutama kota-kota besar merupakan produk dari apa yang disebut Lefebvre (1993) sebagai kontradiksi ruang atau “contradictory space”. Menurutnya, kota telah membangun kontradiksi-kontradiksi dalam dirinya sendiri, dan fenomena ini telah membawa manusia-manusia kota tanpa disadari telah digerakkan oleh kontradiksi-kontradiksi ini. Manusia-manusia kota menjadi bingung dan terasing di kotanya sendiri. Kota-kota telah dibangun menjadi kota-kota yang tidak “appropriate”. Kota-kota semacam ini menurutnya tidak akan mampu memberikan kontribusi pada perubahan manusia-manusia yang beradab mulia, seperti disampaikannya “ change life, change society…mean nothing without the production of an appropriate space” (Sudaryono, 2008,4-5).

Pada  saat ini,  gambaran kondisi tersebut sudah sangat terasa dan terlihat dengan jelas pada kota-kota besar di Indonesia, seperti; Jakarta, Surabaya, dan Semarang. Banjir, permukiman kumuh, pengangguran, kesenjangan sosial, dan kriminalitas menjadi berita yang selalu menghiasi media cetak dan televisi. Terjadinya konflik antara kepentingan masyarakat, dengan kepentingan pemodal besar, serta kepentingan masyarakat dengan kepentingan pemerintah sering kali dijumpai. Seperti misalnya; konflik antara warga yang menolak penggusuran makam Mbah Priok dengan PT. Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II (Kompas.com, 14-4-2010). Penolakan warga Kecamatan Sumarorong, Mamasa, Sulawesi Barat terhadap rencana pembangunan bandara (Kompas.com, 15-9-2010), dan yang terbaru, konflik antara masyarakat Kampung Pulo dengan Pemda DKI, terkait dengan pemindahan warga Kampung Pulo ke Rusunawa (Kompas com, 2015).Kasus tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara pikiran dan kenyataan, kesenjangan antara pikiran pemerintah dan pikiran masyarakat. Kesenjangan antara perencanaan dan pelaksanaan.

Tumbuhnya hotel, apartemen, hypermarket, bangunan mix-use, dan fasilitas perkantoran dan perdagangan lainnya, yang hanya sedikit menyisakan ruang untuk beribadah kepada Allah SWT (Masjid atau mushola). Perencanaan sistem transportasi dan moda transportasi hanya menekankan pada aspek assebilitas dan effisiensi, terbukti belum berhasil mengatasi kemacetan. Berapa banyak masyarakat yang waktunya terbuang sia-sia ketika di jalan. Suami-isteri berangkat kerja sebelum subuh, pulang setelah Isya, sehingga tidak ada waktu yang tersisa bagi keluarga, anak-anaknya, dan masyarakat. Banyak orang mengabaikan bahkan meninggalkan kewajiban sholat karena tidak ada ruang dan waktu yang direncanakan oleh sistem transportasi perkotaan. Dibangunnya Masjid-masjid yang megah dengan biaya tinggi, hanya digunakan untuk tempat berwisata dan perdagangan, fenomena tersebut sudah sangat jauh menyimpang dari fungsi dan peran masjid di jaman Rasulullah.

Kota-kota tersebut mungkin sehat secara jasmani, tetapi rohaninya sakit. Kota yang rohaninya sakit akan memberikan dampak yang buruk terhadap penghuninya. Masyarakat menjadi cepat stress karena rutinitas pekerjaan, beban ekonomi, dan kondisi lingkungan yang tidak sehat. Kehidupan di Café dan pub yang penuh dengan kemaksiatan menjadi gaya hidupmasyarakat kelas atas dan menengah. Tidak tersedianya lapangan kerja, menyebabkan sebagaian masyarakat mencari jalan pintas dengan berbagai tindakan kriminalyang bertentangan dengan agama dan hukum.Kota-kota yang dibangun belum memberikan kontribusi kepada peningkatan kualitas kehidupan dan akhlak masyarakat. Sehingga terwujudnya kota yang toyyibatun warobbun ghofur masih jauh dari harapan.

Melihat kondisi tersebut, posisi Modern planningsaat ini dianggap telah terpelanting jauh. Dari tangga tertinggi ilmu peradaban menjadi menjadi sekedar ilmu kewirausahaan; sedangkan pada dataran praksis, peran arsitek meluncur dari ketinggian. Sebagai duta peradaban menjadi hanya sekedar teknisi saja, meminjam termininologi sinis dari Fainstein (1988), arsitek hanya sekedar menjadi “deal maker“ saja (Sudaryono, 2012).

Tentunya kegagalan tersebut tidak hanya dibebankan kepada arsitek, pendidikan Arsitektur di Indonesia juga memiliki andil besar. Kritik yang sangat tajam disampaikan oleh Joseph (2015);

“ enam puluh tahun sekolah arsitektur Indonesia, apa yang sudah dibuat?. Apa yang sudah dilakukan peneliti arsitektur di sini dengan Indonesianya ini ?.Betapa bodohnya kita, karena pendidikan arsitektur di Amerika-Eropa pun tidak mengajarkan arsitektur tradisional kita. Kenapa kita yang mau belajar sejarah mereka.Arsitektur Indonesia seharusnya berkontribusi global, dan tidak sebaliknya. Arsitektur Indonesia dapat mengambil posisi setara dengan peradaban lain”.

Melihat fenomena tersebut diatas, adalah merupakan tantangan yang berat bagi civitas akademika Universitas Sains Al Qur’an (UNSIQ), khususnya prodi Arsitektur untuk berusaha merumuskan kembali epistemologis atau pendekatan dan metode dalam membangun substansi pengetahuan perencanaan pada pendidikan Arsitektur. Sehingga pengetahuan yang diperoleh dihasilkan dan digunakan dalam perencanaan sejalan dengan visi Universitas Transformative, Humanis, dan Qur’ani dan merupakan suatu bangunan pengetahuan yang teranyam, menerus dan sesuai dengan problema empiris yang dihadapi. Bukan pengetahuan yang deduktif, linier, deterministik, dan hegemonik yang asing dan melahirkan kesenjangan antara premis preskriptif dengan realitas empiris yang ditatapnya (Sudaryono, 2012).

Setidaknya ada 3 kopetensi yang harus dimiliki oleh sarjana Arsitektur UNSIQ, yaitu; 1) Sarjana yang mampu merancang dan  menguasai ilmu arsitektur pada tingkat dasar. 2) Mampu mengaplikasikan bidang keahliannya dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, dan 3) Menguasai konsep teoritis bidang pengetahuan tertentu secara umum dan konsep teoritis bagaian khusus bidang tersebut secara mendalam.

Sejarah Peradaban Islam dengan pendalaman kajian Arsitektur Islam dan Ornamentasi dalam Islam serta konsep-konsep tentang Arsitektur Islam Indonesia, menjadi bidang pengetahuan umum dan khusus yang harus dikuasai secara mendalam oleh sarjana Arsitektur UNSIQ.

ARSITEKTUR ISLAM

Arsitektur Islam yang merupakan bagaian dari peradaban Islam harus dipahami sebagai karya arsitektur yang mengekspresikan pandangan hidup kaum muslim. Arsitektur Islam tidak terbatas pada karya arsitektur yang dibuat untuk melayani fungsi keagamaan, seperti, masjid, makam, dan madrasah tetapi juga dibangun untuk melayani fungsi-fungsi sekuler, seperti istana, pasar, karavanserai (Noer, 2005). Senada dengan itu, Sukada mendefinisikan Arsitektur Islam adalah merupakan bangunan dan karya Arsitektur yang dibuat untuk masyarakat Islam, atau dipakai mereka atau dimiliki mereka, terlepas dari apapun fungsinya sebelum itu dan arsiteknya (Hermanto, 2009)Asal-usul kebangsaan atau keyakinan sebuah karya arsitektur menjadi kurang penting, hasil akhir justru lebih penting (Noer, 2005).

Islam tidaklah memberi batasan atau definisi yang tegas mengenai aspek fisik (being reality) dalam produk arsitekturnya, tetapi memberi batasan yang tegas tentang aspek makna (meaning reality). Seperti yang tercantum dalam Al Qur’an Surat At-Taubah ayat 108, yang artinya;

“……sesungguhnya Masjid yang didirikan atas dasar Taqwa (Masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya ada orang yang ingin membersihkan diri dan Allah menyukai orang-orang yang bersih”.

Masjid Quba adalah arsitektur Islam yang pertama kali dibangun, yaitu pada hari Senin 8 Rabi’ul awal tahun 1 Hijriah, ketika Nabi Muhammad tiba di Quba,  sebuah tempat kira-kira 10 km jauhnya dari Yatsrib, Nabi mendirikan Masjid, inilah Masjid yang pertama kali didirikan dalam Sejarah Islam. Di dalam Masjid itulah Nabi Muhammad SAW menyatukan umat dan menyusun kekuatan mereka lahir batin, untuk membina masyarakat Islam dan Daulah Islamiyah berlandaskan semangat Tauhid.

Perkembangan Arsitektur Islam tidaklah terlepas dari proses perkembangan peradaban Islam yang merupakan hasil akulturasi dan asimilasi kebudayaan Yunani, Persia, dan India. Pengaruh tradisi arsitektur Bizantium dan warisan geometric Yunani, memberikan kontribusi pada pembentukan arsitektur Islam. Sehingga Arsitektur Islam menemukan bentuknya pada jaman dinasti Umayyah dan Abasiyyah. Seperti, Masjid besar Cairo, Masjid besar Cordoba, dan Masjid Hispano-Moresque di Afrika (Al Faruqi, 2003).

Beberapa konsep dasar Arsitektur Islam yang berbeda dengan Arsitektur Barat dan diharapkan dapat diterapkan pada kegiatan perencanaan dan perancangan lingkungan binaan adalah sebagai berikut;

Ornamentasi dalam Arsitektur Islam.
Bagi sarjana Barat, seni bersifat universal dalam seluruh kebudayaan dan peradaban. Ornamentasi hanyalah tambahan superfisial pada entitas estetis.Maka tidak heran apabila ditemukan karya seni baik berupa patung ataupun lukisan yang memperlihatkan keindahan tubuh manusia (khususnya wanita). Karya seni tersebut tidak hanya dijumpai pada lingkungan sekuler seperti, istana, pasar, rumah tinggal, tetapi juga lingkungan profane seperti gereja.

Berbeda dengan ornamentasi Islam, Ornamentasi dalam Islam merupakan upaya estetis nyata kaum muslim untuk menciptakan produk seni yang membuat pemandangnya dapat merasakan transendensi Tuhan. Karena kebutuhan akan pengingat ideologi Islam atau pengingat tauhid, maka ornamentasi Islam dapat dijumpai dimana-mana. Tidak hanya terdapat di setiap halaman kitab Al Qur’an yang suci, syair-syair atau kumpulan kisah khalifah juga diberi dekorasi. Ornamentasi Islam tidak hanya dijumpai di masjid, tetapi juga di karavanserai (hotel), madrasah, atau rumah tinggal. Bukan hanya dudukan kitab Al Qur’an saja yang dihiasi, tetapipedang, pakaian, kain penutup kepala, bahkan piring makan muslimjuga dihiasi dengan cara serupa. Ornamentasi bukan komponen yang ditambahkan secara superfisial pada karya seni atau arsitektur. Ornamentasi Islam justru merupakan inti dari peningkatan spiritualisasi kreasi artistik Islam dan lingkungan Muslim (Al Faruqi, 2003).

Ketiadaan bentuk arsitektural yang spesifik untuk fungsi yang spesifik.
Bentuk Arsitektur Islam dapat disesuaikan dengan berbagai fungsi dan tujuan. Sebaliknya, sebuah bangunan Islam yang melayani suatu fungsi spesifik dapat menerima berbagai bentuk. Contohnya adalah bangunan berhalaman dalam dengan empat iwanatau ruang beratap atau berkubah  yang terbuka pada salah satu pinggirnya yang ditemukan di Asia Tengah dan Iran dan di bagaian lain dunia Islam. Bangunan tersebut dapat berfungsi dengan baik sebagai istana, madrasah, karavanserai, pemandian, maupun tempat tinggal pribadi. Pada tempat dan masa yang berbeda bangunan tersebut dibangun untuk melayani semua fungsi (Noer, 2005).

Transfigurasi fungsi.
Berkaitan dengan transfigurasi fungsi , adalah fakta bahwa dalam konteks Islam, sedikit keinginan untuk memberikan lingkungan terpisah bagi aktivitas manusia.Kehidupan muslim sesungguhnya merupakan perbauran secara terus menerus aktivitas relegius dengan tuntutan sekuler.

Lingkungan yang dibangun secara Islami mencirikan pemanfaatan bersama ruang publikdan ruang pribadi. Contohnya pasar, kendati pasar merupakan bagaian utama kota tempat berlangsungnya aktivitas perdagangan di kota Islam, namun pasar tidak terisolasi dari aktivitas dan kehidupan lain. Selain toko, bank, dan gudang yang diperlukan untuk perdagangan, toko dan masjid mudah dijangkau oleh konsumen dan pembeli. Fasilitas permukiman, karavanserai, sering saling menghuni pada ruang pasar, dan menjadi bangunan atau kompleks multifungsi.

Masjid sendiri sering diapit dengan ruang komersial, masjid sering digabungkan dengan area untuk kepentingan pendidikan, tempat tinggal dan permukiman. Agama Islam berperan dalam setiap kehidupan dan sebagai akibatnya semua segi kehidupan masyarakat bernafaskan keagamaan, Penerapan konsep transfigurasi fungsi terlihat pada bangunan;  Rumah sakit Qolawun Kairo (abad ke-13), Istana Alhambra, Granada (abad ke 13-14), dan Kompleks Sulaimaniyyah, Istambul (1550-1557). Konsep tersebut sangat berbeda dengan modern planning yang memisahkan antara aktivitas sekuler dan religius, bahkan menghilangkan ruang-ruang religious (Al Faruqi, 2003; Noer, 2005).



ARSITEKTUR ISLAM NUSANTARA

Suatu kenyataan yang tak dapat dibantah bahwa Arsitektur lokal tradisional yang tersebar di Nusantara tercinta ini cenderung relegius, relegius di sini tentu saja diartikan sebagai sikap yang taat terhadap Penciptanya, bahkan banyak Arsitektur lokal tradisional yang justru berangkat dari ajaran agamanya.

Salah satu contoh Arsitektur yang berangkat dari Ajaran Agama Islam adalah Arsitektur Tanean Lanjang sebuah pola perumahan tradisional di Madura.Masyarakat Madura dikenal sebagai penganut Islam yang taat. Islam merupakan sistem nilai yang sangat kuat mengikat komunitasnya (Sanyoto,1981; dalam Fathoni, 2009). Kyai adalah orang yang sangat disegani dan dihormati. Komplek rumah Kyai terdiri dari masjid, pesantren, dan rumah Kyai. Komplek rumah kyai menjadi pusat orientasi dan kegiatan masyarakat pada skala desa, terutama berkaitan dengan kegiatan keagamaan, seperti Khataman Qur’an, pendidikan dan pernikahan.

Pada skala messo, pola ruang permukiman tradisional Madura berbentuk kluster. Kluster dihuni satu kerabat yang terdiri dari empat sampai 5 rumah, dengan tambahan bangunan langgar, rumah dapur dan kandang. Ketiga bangunan tambahan tersebut  berorientasi dan diikat oleh tanean lanjhang. Tanean lanjhangjuga menjadi ruang multifungsi seperti,fungsi ekonomi, sosial, agama, dan kekerabatan. Di dalamnya terkandung nilai-nilai Islam.

Seluruh konsepsi, langgar, kamar mandi dan orientasinya didasarkan pada ajaran Hablum minallah. Pola sirkulasi dan zoning untuk lelaki dan perempuan sesuai dengan normamahrom serta disediakannya ruang luar bersama yang merupakan common space atau ruang bersama merupakan cerminan ajaran Hablum minannas (Hermanto, 2009).Tanean lanjhang adalah pusat kosmis. Proses pembangunan bergerak dari arah barat ke timur, dengan orientasi rumah ke selatan. Arah barat dianggap akhirat sedangkan timur dunia. Utara lambang suci atau akhirat, selatan lambang dunia.

Permukiman di Pegunungan Dieng, merupakan contoh arsitektur Islam Indonesia yang merupakanhasil asimilasi dan akulturasi tradisi Jawa, Hindu, dan Islam. Melalui penelitian yang mendalam, Hermanto (2015) dalam Disertasinya menemukan bahwa;

Permukiman di Pegunungan Dieng merupakan hasil karya dari masyarakat yang direncanakan dengan penuh kesadaran berdasarkan kedalaman wawasan pemikiran yang telah dimiliki sejak dari dulu hingga sekarang. Prinsip hidup masyarakat Pegunungan Dieng adalah menjalin hubungan dengan sesama manusia dengan sebaik baiknya agar terbentuk kehidupan yang penuh rasa kekeluargaan, rukun dan guyub, dengan cara membangun permukiman yang mengacu pada konsep ”tunggal begenen-botolan”. ”Tunggal begenen-botolan”bermakna kemenyatuan dalam wadah yang saling terhubung.

Permukiman di pegunungan Dieng  dibangun atas dasar hubungan sesama manusia yang berlangsung secara terus menerus. Konsep ”Tunggal bagenen-botolan” awalnya seolah olah hanya mengatur hubungan antar manusia, kemudian menjadi landasan berfikir yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Pegunungan Dieng. Nilai-nilai lokal yang merupakan substansi tunggal bagenen-botolan berubah menjadi pengetahuan yang terus tersimpan dalam kognisi masyarakat sehingga terwujud dalam bentuk aktivitas yang menciptakan ruang.

Tunggal bagenen–botolan” adalah kesadaran transendental yang membentuk permukiman di Pegunungan Dieng, di dalamnya terkandungkonsep brayan. Konsep tersebut kemungkinan besar merupakan bagian dari pandangan hidup masyarakat Jawa tentang papan atau rumah tinggal yang dianut oleh masyarakat di Pegunungan Dieng, sebelum dakwah Islam masuk ke Dieng. Setelah Dakwah Islam masuk, konsep yang berasal dari tradisi Jawa ini kemudian semakin berkembang karena memang konsep tersebut sejalan dan merupakan bagian dari ajaran agama Islam. Ajaran agama Islam yang berkaitan dengan nilai brayan yang sudah dimasukkan kedalam tradisi masyarakat di Pegunungan Dieng yang pertama adalah sodaqoh. Ajaran sodaqoh ditemukan dalam tradisi riyoyo atau memberikan makanan atau bebungah, monjong ketika menjelang Hari Raya Idulfitri. Sodaqoh adalah konsep berbagi dalam Islam, yaitu dengan memberikan sesuatu yang bermanfaat  kepada keluarga dekat, jauh, maupun sesama muslim. Pemberian tersebut merupakan bentuk komunikasi atau media untuk mempererat persaudaraan. Yang kedua silaturahmi. Konsep silaturahmi ditemukan dalam bentuk tradisi endong–endongan, mengunjungi orang tua atau birrolwalidain, cicip-cicipan tembakau di latar ombo, takziah, menengok orang sakit, selamatan kelahiran, perkawinan dan sunatan. Ajaran silaturahmi merupakan bagian dari ajaran Islam yang menjadi  sarana untuk mempererat persaudaraan antara keluarga dekat, jauh, maupun sesama umat Islam. Tradisi wilujengan ketika sadranan, bersih makam, nyelameti kali, atau wilujengan mauludan di dalamnya juga mengandung ajaran Islam tentang sodaqoh, silaturahmi dan konsep egaliter Islam yang merupakan bagian dari pengamalan nilai brayan  dalam skala makro.

Dalam konteks perencanaan permukiman desa-desa di pegunungan Dieng. Konsep ”tunggal”dapat digunakan untuk setiap kegiatan pembangunandi Pegunungan Dieng, yaitu dengan cara menyatukan dan merangkul berbagai kepentingan yang terlibat dalam proses pembangunan. Kemenyatuan tersebut tidak terikat oleh wilayah desa, gender, kedudukan, golongan, dan kekerabatan.

Penggunaan konsep pertalian untuk penataan atau pembangunan permukiman baru. Yaitu adanya sistem sirkulasi yang dapat menjangkau seluruh fasilitas permukiman dengan mempertimbangkan aspek kemudahan, kedekatan dan kecepatan. Konsep-konsep perumahan tanpa pagar halaman perlu tetap dipertahankan untuk menjalin tetap terhubungnya rasa persaudaraan (ngraketake paseduluran) dan kebersamaan (konsep nyepetno lakudan brayan) Sirkulasi permukiaman dibuat untuk menghubungkan antara blok yang satu dengan lainnyadengan fasilitas ibadah, fasilitas ruang terbuka, rekreasi, dan lingkungan sekitarnya.

PENUTUP

Setiap upaya untuk menggali nilai-nilai atau konsep Arsitektur Islam dan Arsitektur Islam Indonesia, betapa kecilnya adalah sesuatu yang sangat berharga bagi pengembangan Ilmu Pengetahuan. Ke depan hasilnya dapat dipergunakan sebagai landasan nilai bagi langkah preskriptif perencanaan. Tidaklah mustahil akan terwujud lingkungan binaan yang dilandasi oleh ajaran Islam yang dihasilkan oleh Sarjana Arsitektur UNSIQ. Semoga Allah meridhoiNya, aamin.

( Orasi Ilmiah disampaikan pada Wisuda Wisuda UniversitasSains Al Qur’an ke-29 2 September 2015)

  

DAFTAR RUJUKAN

Al Faruqi Ismail; Al Faruqi Lois Lamya, 2003, Atlas Budaya; Menjelajah Khazanah Peradaban Gemilang, Mizan, Bandung.

Fainstein, Susan S (1988), “ Urban transformation and Economic Development Policy”, quated by Beauregard, RA (1989) in Fainstein,SS & Campbell,S.(1996), et.seq.

Faludi, A (1973), Planning Theory, Pergamon Press, Oxford.

Fatony, Budi, 2009, Pola Permukiman Masyarakat Madura di Pegunungan Buring, Intermedia, Malang.

Hermanto, Heri,ed, 2009, Bunga Rampai Arsitektur Islam, LP3M UNSIQ, Wonosobo.

Hermanto, Heri, 2010, Kultur dan Tata Ruang Arsitektur Dusun Plemburan, Dieng Wonosobo, LP3M UNSIQ, Wonosobo

Hermanto, Heri, 2015, “Tunggal bagenen-botolan” Sebagai Kesadaran Transendental Pada Permukiman di Pegunungan Dieng, Disertasi Program Pascasarjana Teknik Arsitektur, Universitas Gadjah mada, Yogyakarta.

Mukhlisah, Antariksa, Wijayanto, Tunjung, 2011, Pola Permukiman Tradisional Madura Desa Ellak Daya Kabupaten Sumenep, Seminar Nasional “ Teritorialitas, Pariwisata, dan Pembangunan Daerah, Program Magister Arsitektur Universitas Udayana, Bali

Noer, Kautsar Azhari, 2005, Pemikiran dan Peradaban: Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, PT Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta.

Sudaryono (2001). “Inductive Planning”: Paradigma Baru Pendidikan Perencanaan, paper seminar, Asosiasi Sekolah Perencanaan Indonesia (ASPI), Kampus UNDIP, Semarang, 31 Maret 2001.

Sudaryono, (2008), Perencanaan Kota Berbasis Kontradiksi: Relevansi Pemikiran H.Lefebvre dalam produksi Ruang Perkotaan Saat ini, Jurnal Perencanaan Wilayah kota,Vol.19, No.1, April 2008.

Sudaryono (2012), Fenomenologi Sebagai Epistimologi Baru Dalam Perencanaan Kota dan Permukiman, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas Teknik Gadjah Mada, Yogyakarta.

Sumber Tulisan :arsitekturislamnusantara.com
Share: