Mengubah Spasi Menjadi Ruang Rasa.

Jakarta: dunia shopping mall (#Jakarta Cantik) individualisme, kapsularisasi, dan konsumerisme.

Sumber Menginspirasi
Hanya ada satu tujuan dari arsitektur pusat perbelanjaan, yakni ‘merayakan aktivitas belanja’. Mewujudkan tempat paling menyenangkan, menarik dan heboh untuk tempat berbelanja. Arsitektur yang sepenuhnya mengabdi pada nilai-nilai konsumtif. (Suryono Herlambang, Pink Architecture)
Ilustrasi Shopping (isme)

Diskusi mengenai mall di dunia mungkin sudah jenuh, semua hal sudah diteorisasikan, semua aspek sudah terdeskripsikan dengan baik oleh para teoris Amerika. Namun, diskusi mengenai shopping mall di Indonesia baru saja dimulai. Sebuah bab baru ditulis mengenai apakah ia merupakan manifestasi dan transformasi nyata dari ruang publik di Indonesia yang konon sedikit demi sedikit menghilang.

Shopping mall di Indonesia

Hingga kini terdapat sekitar 70 pusat perbelanjaan di Jakarta. Hal ini membuat Jakarta sebagai kota dengan pusat perbelanjaan terbanyak di dunia.” (Kompas.com, 21 Februari 2011)
“…Recreating a ‘second’ nature was only the first step; the next was to reproduce the single element missing in suburbia – the city”…” (Margaret Crawford, The World in a Shopping Mall, 1992)

Jika kita melihat definisi mall dari tempat kelahirannya di Amerika Serikat, shopping mall dimaksudkan untuk menciptakan kembali sesuatu yang hilang di daerah pinggiran, yaitu kota itu sendiri. Mall awalnya diletakkan untuk menciptakan sebuah pusat yang menginteriorisasi kehidupan kota. Dalam definisi ini, ia masih memiliki konsep dan fungsi yang jelas.

Namun, ketika tipologi ini diimpor ke tanah air, definisinya menjadi buram. Warga kota memiliki definisi sendiri akan sebuah mall. Menurut Perda kota Jakarta no.2 tahun 2002 tentang perpasaran swasta di DKI Jakarta, Mall/Super Mall/Plaza adalah sarana/tempat usaha untuk melakukan usaha perdagangan, rekreasi, restoran dan sebagainya yang diperuntukkan bagi kelompok, perorangan, perusahaan atau koperasi untuk melakukan penjualan barang-barang dan atau jasa, dan terletak dalam bangunan/ ruang yang menyatu. Tipologi mall di Indonesia telah mengalami mutasi dan transformasi, dari bentuknya yang paling sederhana, misalnya, Sarinah mall (1965) dengan luasan 5000 m2 hingga yang paling kompleks, misalnya St. Mortiz (2011)dengan luasan 450,000 m2. Awalnya hanya satu mall, kini (2011) tercatat sekitar lebih dari 90 mall di Jakarta.

Evolusi Mal. Source: ‘Social Mall’ researchSHAU + Andra Matin Architects.
Shopping mall dan ekstasi ekonomi


Of the ninety odd modern shopping centers in Indonesia, sixty are located in Jakarta. Compared with Bangkok, Thailand, which has a ratio of 1 mall for every 171,000 inhabitants, Jakarta, with a ratio of 1 per 372,000 inhabitants, still had the opportunity to further increase retail space. (Patung, Mall Heaven, 2006)
Menurut survei Credit Suisse Research Institute dalam Emerging consumer Survey (2011), sekitar 48% belanja penduduk Indonesia dihabiskan untuk konsumsi (makanan, hiburan, telepon genggam maupun mobil), dan hanya 11% untuk tabungan. Jika kita memandang dengan kacamata ini, terlihat bahwa Indonesia jauh dari kategori negara ketiga yang identik dengan kemiskinan. Indonesia juga terbukti berprestasi menjadi penghasil turis nomer satu di Singapura, dengan mengirimkan 1.745.000 penduduknya pada tahun 2010 dan menghabiskan S$2.129.000 (sekitar 13,8 trilyun rupiah), dan terus meningkat setiap tahunnya (Singapore Tourism Board annual report 2009/2010).

Jika dibandingkan dengan kota metropolitan lainnya di ASEAN, perbandingan mall di Jakarta terlihat masih tertinggal dibanding Singapura, Kuala Lumpur, atau Bangkok. Saat ini, dengan 9,5 juta populasi Jakarta, perbandingan mall per penduduk masih tercatat 1:114.000. Hal ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan Bangkok yang berpopulasi 8,2 juta jiwa yang memiliki perbandingan mall per penduduk sekitar 1:47.500, atau Singapura dengan angka 1:22.600. Karena itu, para pengusaha mall lokal masih percaya akan besarnya potensi dari sektor ini untuk ditingkatkan.

Metropolis dan Mall.
Pada tahun 2006, shopping mall berkembang pesat. Sebuah manifesto shopping mall dilontarkan oleh ketua asosiasi shopping mall di Indonesia, Stevanus Ridwan.

Selama ini orang Indonesia lebih memilih berbelanja di Singapura dan Kuala Lumpur, salah satunya karena rusaknya sistem transportasi kita. Demi bersaing dengan Singapura dan Kuala Lumpur, sebuah kerjasama antara pemerintah dengan swasta/ sektor privat harus dimulai. Pemerintah perlu membenahi sistem transportasi dan menimbang kembali pajak dan pungutan daerah untuk retail dan jasa. (Lihat artikel Tuti Sunario berjudul Luxurious shopping malls and restaurants: jakarta’s chief attraction, Jakarta Post, 2006).
Pada saat itu, terlihat dukungan terhadap pembangunan mall oleh pemerintah setempat. Gubernur Jakarta, Sutiyoso mendukung pembangunan 100 shopping mall di Jakarta. Hal ini dikarenakan pemerintah berpikir bahwa mall adalah cara efektif untuk menyediakan fasilitas publik tanpa harus merogoh kantongnya sendiri. Pemerintah setempat juga dapat memperoleh keuntungan secara ekonomi. Terlebih lagi saat ini keberadaan mall dipercaya menjadi sebuah indikator dari pertumbuhan ekonomi sebuah kota. Lalu polemik dimulai. Dengan jumlah mall yang ada, apakah kita masih memerlukan pembangunan shopping mall baru?


Jika kita mencoba mengkategorisasikan mall sesuai dengan luasan dan daerah tangkapannya (catchment zone), hal ini tidak memungkinkan dikarenakan aturan yang tidak jelas di Indonesia. Bila kita ambil asumsi dengan memakai standar di Amerika: mall dengan skala global (luasan lebih dari 80.000 m2) memiliki daerah tangkapan sekitar 40 km radius; regional sekitar 20 km; local sekitar 5-10 km; dan neighborhood hingga radius 5 km. Lalu kita dudukkan aturan ini dalam konteks kota Jakarta yang memiliki luasan sekitar 740 km2 (kira-kira 30 km radius). Jika kita letakkan semua mall yang ada sesuai dengan area tangkapannya (dengan pengecualian terhadap mall berskala global), maka pangsa pasar dari sebuah mall telah tumpang tindih dengan mall yang lain. Bahkan kota Jakarta telah sepenuhnya tertutupi oleh daerah tangkapan mall tidak ada yang tersisa (lihat gambar).

Peta mall Jakarta dan daerah tangkapannya © Ivan Nasution.
Baca Juga Nasib Teluk Jakarta

Seberapa cukup adalah cukup? Misalnya, jika kita ambil sebuah contoh area di perumahan Kelapa Gading, dalam radius kurang dari 2 km ia sudah memiliki 2 mall berskala global , 1 regional, 3  local dan 1 neighborhood. Sangat memungkinkan sebuah mall baru akan memakan pangsa pasar mall yang lama. Masih perlukah pembangunan mall yang baru jika mereka ternyata malah mematikan yang lama?


Namun, ekonomi dan pasar nampaknya lebih optimis dari arsitek. Pada tahun 2011 ini masih akan ditambah luasan retail lagi sekitar 500.000 m2 dengan kehadiran 11 mall baru.

Who is shopping at all these malls?’ asked Wardah Hafid – Coordinator for Urban Poor Consortium, an Indonesian antipoverty group, ‘Out of the total population here, only about 500,000 people can afford to shop in them.(Lihat artikel Peter Gelling, Impoverished residents  displaced by Jakarta beautification drive di International Herald Tribune, Maret 2008)
Apakah ini hanya regenerasi mall baru menggantikan yang lama atau malah hanya sekedar pertambahan? Siapa lagi pangsa pasarnya, ketika ternyata hanya sebagian kecil dari masyarakat yang mampu untuk berbelanja atau dibilang ‘layak’ untuk masuk shopping mall? Kalau begitu pembangunan mall-mall baru ini ditujukan untuk siapa? Apakah bijak dikarenakan persaingan pariwisata dengan Singapura dan Kuala Lumpur untuk menarik kembali 13,8 trilyun belanja dari 1,7 juta turis Indonesia, kita mengarahkan pengembangan kota hanya kepada 5% penduduk, apa yang terjadi dengan 9 juta orang lainnya? Apakah demi ekstasi ekonomi sesaat kita terus membangun shopping mall dan menjual kota kita kepada kapitalis?

Shopping mall dan destruksi urban

Wajah kota tidak hanya dibangun oleh pemerintah, banyak aktor-aktor lain yang berperan membentuknya, mulai dari sektor privat, publik, hingga sektor informal. Mall sepertinya memang ditujukan untuk menciptakan pusat bagi kota atau sebuah one stop solution. Kota seolah tersusun dari konstelasi berbagai pusat.

Sepertinya pembangunan di Jakarta didominasi oleh sektor privat atau disebut pengembang. Mereka memiliki ide dan modal individual yang cenderung ingin berbeda satu dengan yang lainnya. Kota mengumpulkan ide-ide milik pengembang yang introver, narsis, dan menginginkan perhatian tanpa memikirkan bagian kota lainnya secara menyeluruh.


Konteks terabaikan. Ia tidak berbicara ataupun berkontribusi terhadap struktur kota dan infrastruktur yang ada. Kota terfragmentasi, menjadi pusat-pusat yang tidak tersambung. Infrastruktur yang seharusnya menghubungkan satu dengan yang lain, malah cenderung memisahkannya. Kita tidak lagi menikmati kota, dan hanya memandangnya dari jendela mobil berpenghawaan udara buatan. Kota tidak lagi dialami, hanya menjadi satu perhentian menuju perhentian lain. Konstelasi mall bagaikan kumpulan stasiun kereta bawah tanah yang terang benderang sementara bagian kota lainnya hanyalah lubang-lubang dan lorong hitam yang tanpa henti.


Baca Juga Fasilitas Umum yang 'ngenes' di Jakarta

Fragmentasi tersebut malah menguatkan perlunya keberadaan mall, dan begitu pula sebaliknya. Sehingga pada akhirnya, mall mulai mengintegrasi (baca: memakan) berbagai fasilitas kota. Misalnya, St. Moritz yang mengintegrasi fasilitas bermukim, bekerja dan ruang rapat, kesehatan, bersekolah, berbelanja, pameran, rekreasi (sea world), hingga fasilitas beribadah. Shopping mall bermutasi menjadi kota itu sendiri. Semua ter-interiorisasi lengkap dengan penghawaan buatan yang menjauhkan polusi udara dan kemiskinan yang tabu dan enggan untuk dilihat.

Mall seperti koleksi wahana Disneyland. Semuanya terlihat artifisial dan romantis. Potongan-potongan dari berbagai belahan di dunia, misalnya citarasa Eropa, dengan Moulin rouge-nya dan langgam klasiknya, dikumpulkan ke dalam ruangan. Atau membuat ruang dalam seolah ruang luar, seperti suasana sebuah jalan di Eropa atau replika Trevi fountain sebagai ruang publik baru. Ia mengaburkan antara dalam dan luar. Bahkan, ia tidak tanggung-tanggung dalam mempelajari arsitektur dengan merekonstruksi skala dan proporsi klasik untuk membuat efek monumental yang sama ketika kita memasuki katedral di Eropa.

Shopping mall adalah cathedral of consumerism dimana berbelanja adalah agamanya.

Klimaksnya, ketika alam sanggup diinteriorisasi. Misalnya, Park sea Dome di Jepang yang membuat pantai dan laguna artifisial di dalam mall, sehingga ia dapat dinikmati setiap saat, tidak peduli musim panas atau dingin, cerah atau hujan. Bahkan di musim dingin sekalipun, kita dia berbaju renang untuk berjemur di pantai buatan dengan matahari buatan dan penghawaan buatan. Mungkin, dapat dibayangkan dalam waktu 50 tahun ke depan, bukankah sebaiknya kita menikmati keindahan pantai seribu dari dalam mall, tanpa perlu bepergian jauh dan berpanas-panasan?

Jika semua hal bisa dibuat ulang oleh shopping mall, mungkinkah shopping mall itu tipologi terbaik untuk urbanisme? Kita bisa membuat atap mall seolah menjadi lantai dasar dan tetap mempunyai rumah berlantai tiga. Tentu saja, kita dapat terhindar dari banjir, pengemis, juga kemacetan.

Kalau shopping mall sudah punya semua hal yang dibutuhkan seorang individu untuk hidup dan beraktivitas, lalu untuk apalagi kita memerlukan kota, apa fungsinya?

Akankah kota menjadi kumpulan shopping mall-shopping mall? Misalnya, di Jakarta barat ada kota Taman Anggrek dan St. Moritz, di pusat ada kota Grand Indonesia, di selatan ada Gandaria City, di utara ada gugus Kelapa Gading. Hanya di Jakarta timur yang masih ada peluang, saat ini hanya ada Cibubur Junction.

Lalu, apa gunanya masterplan yang kita revisi secara berkala per 10 tahun? Sementara itu, kita, masyarakat urban, pun tidak pernah sadar adanya rencana kota yang menentukan kehidupan sehari-hari di kota. Kita pun acuh tak acuh terhadap rencana pemerintah. Sudah terlalu sibuk bergelut dengan pekerjaan, kemacetan, polusi, juga berbelanja.

Jika ternyata mall malah membuat kota terfragmentasi masih bisakah kita menganggap mall sebagai indikator kemajuan sebuah kota? Jika kehidupan berkota bergerser ke dalam shopping mall dan kita akan hidup ‘dalam kota-kota’ ini? Lalu, apakah yang kita sebut kota itu, Jakarta atau St. Moritz?

Shopping mall dan privatisasi ruang publik

Seperti kita ketahui bahwa ruang mempengaruhi perilaku seseorang, atau sebaliknya. Apa yang kita alami, lihat, dengar, rasakan di sekeliling setiap harinya dapat mempengaruhi kebiasaan, perilaku dan tindakan. Perilaku adalah aktivitas yang timbul karena adanya stimulus dan respon. Ia dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung. Perilaku individu terbentuk dari lingkungan tempat ia hidup. Perilaku kolektif individu-individu akan membentuk perilaku masyarakat. Sebuah rantai yang terus berlanjut dengan efek timbal balik – masyarakat terbentuk dari individu-individu, dan individu-individu tersebut membentuk masyarakat.

Ruang publik bagi masyarakat tradisional Indonesia seringkali berupa sebuah lapangan besar ditengah-tengah desa yang dapat digunakan untuk mengumpulkan massa dan mendiskusikan permasalahan-permasalahan sehari-hari. Setiap penduduknya memiliki hak yang sama untuk mengeluarkan pendapat. Ruang-ruang ini yang kemudian melahirkan masyarakat gotong royong, yang saling tolong-menolong. Jika kita berandai-andai, maka ruang publik dapat digunakan untuk menanamkan nilai2 kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Namun, pertanyaannya, bagi kita yang mengaku sebagai masyarakat modern, ruang seperti apakah yang kita akui sebagai ruang publik? Apakah kita setuju dengan optimisme pemerintah dan sektor privat dalam mempromosikan shopping mall sebagai ruang publik yang baru dan modern?


Tak bisa dipungkiri bahwa faktanya semakin banyak dari kita yang melakukan aktivitas-aktivitas di mall. Entah itu berbelanja, makan, bersosialisasi, atau sekedar mencari hiburan. Kita merasa lebih nyaman melakukannya dalam mall. Bahkan hingga aktivitas-aktivitas religius atau melibatkan massa, seperti sunatan massal, bermain futsal, hingga misa yang biasa dilakukan di gereja sudah mulai dilakukan di gereja dalam mall.

Yuk, hari ini kita ke shopping mall kata seorang ibu kepada anak perempuannya. Kemudian dia menjinjing tas hermes, tas dari gerai toko terkenal di dunia. Sang anak pun mengiyakan, sejenak kemudian, ibu tersebut menelpon suaminya, pa kita ketemu di mall ya, sambil makan siang, setelah itu ke Kidzania, anak kita mau main di mall.
Inilah hal yang sangat mungkin terjadi dalam keseharian hidup kita. Jadi, apakah kita masih percaya akan netralitas ruang publik shopping mall yang didominasi dan dikuasai oleh sektor privat yang memiliki ambisi ekonomi?

Tentu ambisi ini juga membawa tawaran-tawaran baru, sebuah gaya hidup modern, norma-norma yang baru demi menjadi bagian dari masyarakat modern. Apakah kita menerima norma-norma konsumerisme ini tertanam pada generasi penerus kita? Kalau memang nilai-nilai bermasyarakat dapat ditemukan di dalam mall, tentunya masyarakat konsumtif bukanlah hal yang salah.

Akankah mall akan menjadi sebenar-benarnya ruang publik? Kalaupun iya, publik bagi siapa dan masyarakat kelas apa? Mall seolah menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia, namun gaya hidup siapa yang direpresentasikan?

Mall could suggest a climatized and comfortable ‘public’ activity. You can walk without getting sun tanned and beggar. But, Mall will never be truly a public space, when you have to wear certain dress and belong to certain social class to enter. Furthermore with the presence of the security guard (Henny Anggraeni, Transformation of public space in cosmopolitan life)

Mungkin benar bahwa kota hanya milik kelas tertentu. Mungkin shopping mall adalah manifestasi sebenar-benarnya Arsitektur Indonesia, seperti gated community dan rumah gedong. Arsitektur yang merespon individualisme, kapsularisasi, dan konsumerisme.

[1] Ini dikutip dari berbagai data di internet; daftar list shopping mall di Asia dan jumlah penduduk dari Wikipedia, diakses Oktober 2011

[2] Lihat SHAU + Andra Matin Architects, Social Mall research, 2008

[3] Lihat Achmad D. Tardiyana (2007), Masyarakat konsumerisme dan komodifikasi lingkungan binaan, majalah Sketsa vol. 23, hal.16.

[4] Lihat riset PT Procon Indah, http://antasari.net/ruang-ritel-di-jakarta-diperkirakan-bertambah/, diakses Februari 2011

[5] Lihat Sunaryo, Psikologi Untuk Perawatan, 2004

[6] Lihat Real Rich, Shopping mall: potensi atau perusak, Majalah ruang edisi #3, 2010 
Share: