Mengubah Spasi Menjadi Ruang Rasa.

Jati Diri Dalam Berarsitektur


Ilustrasi Ombak
Datang dan Pergi Seperti Ombak, Jati diri adalah bentukan-bentukan 
Berawal dari menggambar, merangkai visi, memahami klien sampai kembali mencari kesadaran diri.

Semasa kuliah, saya diajarkan menggambar secara arsitektural. Satu hal yang ditekankan adalah gambar tersebut harus informatif. Ada slogan Satu gambar bernilai seribu kata yang muncul pertama kali pada tahun 1911 pada sebuah artikel koran ("Speakers Give Sound Advice". Syracuse Post Standard (page 18). March 28, 1911) yang sedang mendiskusikan topik jurnalisme dan penerbitan.

Sudah seabad berlalu, namun kalimat itu masih terus didengungkan. Dari slogan itu muncul guyonan bahwa buku arsitektur harus banyak gambarnya, karena arsitek jagonya baca gambar, bukan tulisan.

Kenapa bidang arsitektur identik dengan keahlian menggambar? Saya jadi bertanya-tanya, mengapa seseorang merasa terpanggil menjadi arsitek? Karena memiliki keahlian menggambar indah dan memvisualkan sebuah mimpi dan harapan? Karena memiliki keahlian berkomunikasi menggunakan gambar? Karena dapat menyakinkan klien untuk mendanai dan mewujudkan mimpi yang belum kesampaian? Karena memiliki pemahaman teknis dalam pelaksanaan pembangunan? Karena memiliki keahlian dalam menggali kepribadian dan merealisasikan mimpi alam bawah sadar sang klien? Ataukah karena kita memiliki keahlian dalam berasumsi, menyimulasikan, dan pada akhirnya memproyeksikan masa depan? Apa bedanya arsitek dengan nabi yang bernubuat maka segalanya akan terjadi? Bagaimana arsitek bisa begitu yakin, mana karya terbaiknya untuk mereka tawarkan kepada masyarakat umum yang mereka layani?

Ketika bekerja sebagai praktisi, sudut pandang saya terhadap arsitektur melebar. Pelebaran sudut pandang ini berpengaruh pada tingkat toleransi saya dalam mempertahankan desain atau gambar. Sampai saat ini saya masih mencari tahu sejauh mana batas tolerensi tersebut bisa diterima. Satu hal yang saya yakini saat ini, arsitektur adalah persoalan tentang visi, bukan hanya persoalan tentang  desain atau gambar.

Dalam pandangan saya, sebuah visi pasti bicara soal mimpi, cita-cita, serta nilai-nilai yang ingin dicapai dan disetujui bersama oleh arsitek dan masyarakat. Kemampuan berarsitektur menjadi kemampuan untuk melihat, menyadari, dan menemukan apa yang ingin kita capai bersama di masa depan, melalui realisasi visi itu sendiri.

Dalam perjalanan, saya meraba-raba visi tersebut. Saya menemukan bahwa kita sebagai manusia memiliki kemampuan yang sangat bervariasi dalam mengapresiasi dan menikmati arsitektur. Secara umum, saya coba membaginya menjadi dua macam. Pertama, sebagai pembuat bangunan dan kedua, sebagai pengguna bangunan. Kedua tipe penikmat arsitektur tersebut, ternyata ,bisa memiliki pengelihatan dan pencerapan yang sangat berbeda saat melihat objek yang sama. Hal ini didukung oleh pernyataan V. S. Ramachandran, seorang ilmuwan neurosains yang dikenal akan karyanya dalam bidang neurologi perilaku dan psikofisika (kajian yang menghubungkan sifat-sifat fisik stimulus dengan pengalaman seseorang terhadap stimulus tersebut,“Eyes are not unique to us, but vision does not occur in the eye. It occurs in the brain.”

Apa yang kita “lihat” bukan yang sebenarnya kita lihat, namun merupakan produk-hasil-akhir dari proses kerja otak yang secara efektif-efisien telah menerima-mengirim-mengolah input data sensori (dalam jumlah yang besar) dalam waktu yang sangat singkat. Produk-hasil-akhir ini jelas sangat dipengaruhi oleh ragam vocabulary memori dan ekspektasi kita. Ragam memori dan ekspektasi ini juga ditentukan oleh ragam pengalaman dan pengetahuan kita masing-masing, yang juga dipengaruhi oleh konteks di mana kita bertumbuh, cara kita dibesarkan dan berbudaya, serta bawaan sifat genetis. Bila demikian, jelaslah bahwa masing-masing dari kita bisa “melihat” hal yang berbeda walaupun sedang melihat objek visual yang sama.

Perlu disadari bahwa perbedaan “pengelihatan” antara sang pembuat dan pengguna arsitektur mungkin saja menjadi sangat signifikan. Kita yang dididik menjadi seorang arsitek, dilatih untuk melihat lingkungan di sekitar kita dengan “mata arsitektural”.  Beberapa prinsip desain pasti sudah mendarah daging dalam setiap keputusan desain yang kita lakukan dan bahkan dalam setiap tarikan garis tangan.  Pada titik ekstrem, kita sebagai pembuat bangunan bisa melihat apa yang para pengguna bangunan tidak bisa lihat, namun juga sebaliknya. Perlu disadari bahwa sangat mungkin kita sebagai pembuat bangunan tidak bisa melihat apa yang dilihat oleh pengguna bangunan. Apalagi melihat apa yang ingin dilihat oleh pengguna bangunan dengan yang latar belakang dan kompetensinya berbeda . Di sisi lain, satu hal yang pasti adalah kita lebih mudah menerka apa yang bisa dilihat oleh sesama kolega dari karya kita, daripada apa yang bisa dilihat oleh pengguna bangunan.  Kita lebih mudah untuk menerka karya seperti apa yang akan dipuji oleh kolega kita, daripada oleh pengguna bangunan. Nah!

Saat saya menyadari hal tersebut, saya menjadi ragu serta tidak percaya diri dalam menebak-nebak kebutuhan dan keinginan klien. Menebak-nebak karya mana yang terbaik untuk saya tawarkan. Menebak-nebak tanpa bekal informasi dan waktu yang cukup untuk benar-benar memahami secara sadar alasan rasional dari setiap pilihan yang harus saya buat dalam mendesain. Bagaimana saya yakin bahwa ini bukan semata-mata atas nama kepuasan diri dan ego? Bagaimana saya bisa membedakan apakah saya sedang melayani kebutuhan klien ataukah memanipulasi klien demi mimpi idealisme saya pribadi? Ah terlalu jauh, toh saya kerjanya hanya menebak-nebak dari hari ke hari, lalu merevisi berkali-kali dari hasil tebakan baru itu. Kalau sedang kesal dan tidak bisa menebak, saya menyalahkan klien yang tidak jelas kemauannya. Loh, bukannya saya yang salah atau tidak bisa melihat kebutuhan klien?

Lelah menebak-nebak, saya menginvestigasi. Mungkin tidak sekeren itu. Saya hanya  mencoba untuk menyadari apa yang dilihat oleh pikiran saya sendiri. Berusaha menyelami pikiran saya pribadi,baik sebagai pembuat bangunan maupun sebagai pengguna bangunan. Mencoba menggali kesadaran diri saya pribadi sebagai bekal untuk menyadari apa yang orang lain sadari dan tidak sadari (baik orang tersebut melihat dirinya sebagai pembuat maupun pengguna bangunan). Dan tentu saja pada akhirnya untuk menyadari apa yang sebelumnya tidak saya sadari. Dengan melakukan hal tersebut,  saya harap saya bisa menyempurnakan tebakan saya kan. Semoga.

*hanya untuk guyonan*

Profesi arsitek: profesi tebak-menebak.

Bila anda beruntung, anda benar.

Bila anda sial, anda salah. Namun akan selalu ada pihak yang bisa melihat anda benar: kolega dan fans anda.

Bila anda hebat, walaupun anda salah, anda selalu bisa membenarkan diri anda sendiri dengan kemampuan meyakinkan & berlogika anda yang di atas rata-rata masyarakat awam. hehehe

Bila saya mengawali tulisan dengan slogan “Satu gambar bernilai seribu kata”, maka saya akan mengakhiri sepotong kisah pencarian  ini dengan sebuah slogan yang masih terus saya sadari dalam penglihatan saya pribadi. Bahwa dengan membuka hati dan pikiran untuk menempatkan diri di luar diri kita sebagai sang pembuat bangunan, saya justru mulai menyadari kedalaman dan kekayaan dari sebuah karya bangunan. Karena…

Satu bangunan bernilai seribu intensi dan seribu impresi.


Satu bangunan bernilai seribu sensasi. dan seribu persepsi.
Share: