Mengubah Spasi Menjadi Ruang Rasa.

Jepang Dalam Budaya Chauvinisme Nafsu (mempertanyakan budaya)

Industry Japan Sex
Industri Film Dewasa

Prostitusi di Jepang memiliki sejarah yang sangat panjang dan berliku. Selama Hukum Anti-Prostitusi pada tahun 1956 dikeluarkan dan membuat Prostitusi menjadi ilegal, beberapa celah keamanan, bermacam-macam interpretasi hukum yang berbeda dan penanganan yang tidak ketat membuat Industri Sex menjadi sukses dan mengalirkan arus dana sebesar 2,5 triliun yen setahun. Hal tersebut sama dengan 1% dari pendapatan per kapita se-Jepang dan mendekati budget pertahanan dan keamanan di Jepang.


Sex hanya salah satunya, dan Jepang memiliki sejarah yang menarik mengenai hal ini.


Sejarah


Kepercayaan Shinto tidak menganggap Sex sebagai sesuatu yang tabu, sehingga tidak menutup kehidupan industri ini karena dari sisi yang paling dasar mengenai ideologinya, tidak melarang.


Sex Tradition Japanese
Japanese Sex Tradition


Era Shogunate 

Pada 1617, Tokugawa Shogunate mengeluarkan perintah yang membatasi prostitusi di area-area tertentu saja yang berlokasi di tepian kota. Tiga area yang paling terkenal adalah Yoshiwara di Edo (hari ini disebut Tokyo), Shinmachi di Osaka, dan Shimabara di Kyoto.
Sex Era Shogunagate
Shogunate Era

Para penghibur diberikan gelar yujo atau “Women of Pleasure” dan diberikan tingkatan berdasarkan hierarki yang bersangkutan. Distrik ini dibatasi oleh dinding dan dijaga untuk menjaga dua hal : pajak dan akses keluar masuk. Ronin, atau samurai yang tidak bertuan tidak diizinkan masuk dan para penghibur pun dilarang keluar. Kecuali setahun sekali untuk melihat pohon sakura bersemi dan mengunjungi relasi yang telah meninggal.


Era Meiji


Terbukanya Jepang dan masuknya pengaruh Barat membawa beberapa perubahan. 
Meiji Restoration.
Prostitusi-prostitusi yang tidak berizin mulai bermunculan dan menimbulkan masalah baru bagi para penduduk setempat dan (tentunya) aparat keamanan. tidak hanya itu pengaruh pengaruh perempuan mulai di batasi, terutama dalam politik dan pemerintahan. baca juga Feminimisme Dalam Lingkungan Perkotaan

Karayuki – San

Adalah wanita Jepang yang berpindah ke Asia Timur atau Asia Tenggara di paruh kedua abad ke 19 untuk bekerja sebagai penghibur. 


San Karayuki
Karayuki-San

Banyak dari para wanita ini dikatakan berasal dari Pulau Amakusa di Perfektur Kumamoto, yang banyak dihuni oleh komunitas Kristiani Jepang.

Para wanita yang bekerja di seberang lautan sebagai Karayuki-san kebanyakan berasal dari keluarga petani atau nelayan yang miskin. Mediator yang mengatur keberangkatan mereka akan mencari gadis-gadis muda di usia tertentu di komunitas petani yang miskin dan membayar sejumlah uang bagi orangtua mereka, mengatakan kepada mereka bahwa anaknya akan bekerja sosial di negara lain. Yang mana sesungguhnya mereka menjual kembali gadis-gadis tersebut ke industri prostitusi untuk mendapatkan uang. Beberapa bahkan berhasil membuka rumah bordir mereka sendiri setelah sukses.


Akhir era Meiji adalah era emas bagi para karayuki-san, dan gadis-gadis yang bekerja di luar negeri disebut lagi sebagai “Joshigun” atau “Army Girls”. Namun, dengan semakin terkenalnya Jepang di dunia internasional, para Joshigun tidak lagi dianggap membanggakan namun sebaliknya, merupakan hal yang memalukan. Pada tahun 1920, prostitusi mulai dianggap melanggar hukum dan berdampak pada penutupan rumah-rumah bordir Jepang di luar negeri. Banyak yang kembali ke Jepang, namun sebagian masih memilih untuk tetap tinggal.


Setelah Perang Pasifik, topik Karayuki-San kembali menjadi topik bahasan yang hangat oleh beberapa media setempat pada tahun 1972.


Tujuan utama karayuki-san meliputi China, Hong Kong, Filipina, Thailand dan Indonesia. Mereka sering dikirim ke koloni Barat di Asia sebagai pemenuhan permintaan personel militer barat. Ada juga kasus yang menceritakan wanita-wanita jepang yang dikirim ke berbagai tempat seperti Siberia, Manchuria, Hawai, Amerika Utara (California), dan Africa.



WW 2 Ilustration.

Era Perang Dunia II

Selama Perang dunia II, militer Jepang mengirimkan para prostitusinya untuk para prajurit mereka di China. Lebih dari setengah sebenarnya adalah warga Korea, namun sisanya dikumpulkan dari negara-negara jajahan Jepang. Hampir semua Wanita Penghibur ini ditipu atau diancam untuk menjadi seperti itu. Beberapa dari mereka disekap hingga mendapatkan sakit-sakitan, kemudian dibunuh. Banyak dari mereka yang selamat yang baru-baru ini meminta pertanggungjawaban dari pengadilan Jepang.

Era Setelah Perang

Segera setelah perang, Asosiasi Rekreasi dan Kesenangan dibentuk oleh Kementerian dalam negeri Jepang untuk mengorganisasikan rumah bordir sebagai pelayan prajurit sekutu yang bertempat di Jepang saat itu. Dan Prostitusi pun menjadi legal sejak saat itu.
Japanese Prostitute Industry.

“Lantas apa yang salah dengan tuna wisma? Adakah orang yang menulis di buku catatannya, cita-cita: tuna wisma. Mana yang lebih pantas dipertanyakan, takdir atau tuna wisma?” 
“Hidup ini memang fiksi. Sering kali hanya imajinasi.”  
Djenar Maesa Ayu, Mereka Bilang, Saya Monyet!





Share: