Mengubah Spasi Menjadi Ruang Rasa.

Sebuah Kontemplasi Mengenai Rumah minimal oleh Danny Wicaksono

saya merekonstruksi sebuah ingatan mengenai seminar pada bulan maret tahun 2012 kalau tidak salah, pada tahun tersebut terdapat sebuah seminar yang bertagline "arsitetur untuk (si)apa?".
menarik, mengenalkan kecintaanku terhadap dunia arsitektur pada titik yang paling awal.
mengapa dapat saya katakan menarik, karena pada tahun tersebut adalah dimana rasa-rasanya materi-materi perkuliahan mengenai arsitektur dan sedikit perkotaan, mulai menggerayang dan masuk kedalam sebuah dimensi yang berbeda, begitu agung namun sederhana, bahasa kesenianya begitu tinggi namun sangat membumi.


karena pada dasarnya desain arsitektural ada disekeliling kita walau tanpa kita sadari, ia bagaikan sehembus angin yang hanya apabila benar-benar kita perhatikan akan tampak wujud aslinya, pola arsitektural yang berkaitan erat dengan ruang pada akhirnya akan mempengarui pola pikir dan tingkah laku kita sebagai penghuninya

pemikiran ini mulai terfikir (lagi) sekarang, ketika saya berkecimpung langsung dalam praktek-praktek lapangan dalam membuat desain rumah, yang akhirnya memaksa saya untuk membuka kembali catatan catatan 5 tahun yang lalu, yang berada di komputer.
berkat seminar tersebut pula timbul ketertarikan untuk mengenal organisasi-organisasi kampus, yang pada tahun berikutnya akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan BEF FTSP.

pada seminar tersebut terdapat sebuah topik yang sangat menarik dan menggelitik di waktu yang sama, topik tersebut kira-kiranya akan menyenangkan apabila di telaah helai-demi helai dan mendalam, 

topik tersebut adalah mengenai urgensi sebuah dinding pada rumah, apakah penting sebuah "dinding" pada sebuah hunian, sejauh apa peranya? apa dasar dalam pembuatan sebuah dinding pada rumah? mengapa harus ada dinding? jika yang menjadi dasar pembuatan dan penciptaan dinding pada sebuah rumah adalah karena unsur privasi, mengapa kini justru banyak sekali penggunaan sekat-sekat yang menggunakan kaca misalnya justru agar pandangan lebih luas?dapat mencerminkan bagian dalam atau bagian depan rumah, dan menjadi aksen tersendiri pada bangunan-bangunan yang menempatkan dirinya pada langgam minimalis?

Diskusi mengenai Rumah tanpa dinding ini adalah ketika ada seorang arsitek yang masih muda masuk dan mengisi diskusi. ia bernama Danny wicaksono, seorang arsitek yang juga merupakan pemrakarsa biro arsitekturnya sendiri yang diberi nama #studiodasar dan sebuah majalah gratis bernama #jongarsitek, menurutnya sebuah dinding rumah adalah kesia-sia-sia-an.

Saya tidak mengerti apa yang mendasarkan mas Danny memiliki pemikiran tersebut dan mengapa dinding yang menjadi “objek pemikiranya”.
berikut adalah kontemplasi dari Danny Wicaksono yang disadur dari Rumah Minimal

Rumah Minimal ala Danny Wicaksono

Danny Wicaksono adalah seorang arsitek muda yang juga salah satu pendiri majalah online Jong Arsitek. ini adalah tulisannya mengenai "Rumah Minimal" yang mendapatkan penghargaan terbaik kedua pada sayembara rumah hemat energi yg diselenggarakan oleh serial rumah ide dan Imelda Akmal Architectural Writer.


Dinding Pada Rumah Minimal

Dinding

Tinggal di iklim tropis adalah sebuah kemewahan hidup. Tidak pernah kita rasakan perubahan suhu yang ekstrim. Tidak ada udara yang panas sekali dan udara yang dingin sekali, kita rasakan dalam keseharian kita. 

Tinggal di iklim tropis, kita lebih khawatir terhadap hujan dengan curah hujan yang sangat tinggi, atau panas matahari barat yang selalu coba kita punggungi. 

Tinggal di iklim tropis, kita akan selalu memiliki sepoi angin yang selalu sejuk dan hangat mentari pagi, teman sarapan kita sehari-hari. Bukankah ini adalah kemewahan hidup?

Dengan semua kemewahan ini, saya mencoba untuk melihat kembali posisi dinding, dalam perannya di rumah-rumah yang dibangun di iklim tropis.

Di daerah-daerah yang memiliki 4 musim, dinding memiliki peran yang sangat penting. Di musim yang sangat panas, dinding menjaga agar hawa panas tidak masuk kedalam rumah. Dan di musim yang sangat dingin, ia menjaga agar hangat tidak pergi keluar. Di daerah 4 musim, dinding pada rumah, berfungsi seperti dinding kulkas: ia menjaga suhu dalam ruangan untuk tetap berada pada derajat panas tertentu agar tubuh penghuninya tetap merasa nyaman.

Lalu ketika kita tinggal di daerah yang suhu rata-ratanya selalu nyaman bagi tubuh kita, masihkah kita perlu tinggal di rumah yang menggunakan dinding? 

Saya ingin melihat kemungkinan untuk mencari hubungan antara pola hidup masyarakat modern dengan ruang-ruang tinggalnya, kemudian memasukan kemewahan iklim tropis dan kemungkinan untuk menghapus dinding dari daftar elemen pembentuk ruang, kedalam pemikiran itu. 


Denah dan Perspektif Pada Rumah Minimal.

Rumah Hemat Energi

Selama ini, saya selalu melihat berbagai macam desain rumah hemat energi, mencoba untuk mencapai tujuannya melalui pemanfaatan bahan-bahan bekas atau bahan-bahan natural yang dapat tumbuh kembali di alam. Adakah cara lain? Sebuah cara membangun hemat energi, dimana kita masih dapat menggunakan material dengan kualitas tertinggi, sehingga kita tidak perlu mengeluarkan energi untuk memperbaiki material bangunan yang kita gunakan. 

Selama ini juga, saya sering sekali melihat desain rumah hemat energi, dengan desain yang akan menghabiskan banyak sekali energi ketika akan dibangun. Saya pikir, ketika kita ingin membuat rumah hemat energi, maka kita harus memikirkan juga cara membangun yang bisa menghemat energi para tukang yang akan membangunnya kelak. 

Dalam konteks rumah tropis dan hemat energi, dinding adalah sebuah ke-sia-sia-an dan sangat tidak hemat energi. Bayangkan, dengan besarnya energi yang dikeluarkan, dinding (dinding bata terutama) hanya berdiri ditempatnya, tanpa ada fungsi lain, selain menciptakan privasi.

Ada banyak sekali jenis energi yang dipakai untuk membuat sebuah rumah. Energi Produksi, adalah energi yang dikeluarkan untuk memproduksi material-material bangunan yang dipakai dalam sebuah rumah, bukan hanya bahan bangunan seperti Bata, Genteng, atau semen, tapi juga engsel pintu, handle pintu, kusen jendela, paku, benang, sealant, dll. Energi ini besar sekali. Untuk membakar batu bata (bahan bangunan yang paling sering dipakai) pengrajin batu bata, membutuhkan panas hingga 800 derajat celcius. Bayangkan berapa banyak energi yang dikeluarkan untuk menghasilkan panas tersebut? Bayangkan pula energi yang diperlukan untuk melelehkan besi, untuk membuat engsel pintu atau handle pintu dan jendela. 

Kemudian Energi Membangun, yaitu energi yang dikeluarkan ketika kita membangun rumah tersebut. Semakin besar sebuah rumah atau semakin banyak elemen dalam sebuah rumah maka semakin besar pula energi yang diperlukan untuk membangunnya. Bayangkan perjalanan truk yang mengangkut material-material bangunan. Untuk membuat pondasi-pondasi, bayangkan berapa banyak energi dikeluarkan untuk menggali. Semakin banyak elemen bangunan diperlukan, semakin banyak energi untuk membangun rumah tersebut. 

Energi Sehari-hari, adalah yang paling sering dicoba untuk disiasati. Yang umum dilakukan adalah mencoba untuk membuat rumah memiliki energi yang mandiri, dengan membuat sumber energi alternatif. Yang agak terlupakan adalah, bahwa energi sehari-hari juga termasuk energi untuk merawat rumah tersebut. 


Privasi Pada Rumah Minimal

Privasi

Selama ini, manusia menciptakan privasi dalam rumah dengan membangun dinding, hal ini menciptakan adanya rasa ruang yang salah. Sebuah dinding memutus interaksi dan hubungan visual dari orang yang hanya berjarak 30 cm, menciptakan jarak antara 2 orang yang berdekatan. 

Dari pemikiran ini, saya menyimpulkan, bahwa privasi bisa tercipta jika kita tidak terlihat oleh orang lain. Jadi yang perlu dicari, adalah cara untuk memutus pandangan orang ke satu ruang tertentu. Mengatur ketinggian, posisi, peletakan elemen-elemen arsitektural tertentu, adalah sedikit hal yang bisa dilakukan, selain membuat 4 buah dinding kemudian membolonginya dengan pintu dan jendela. 




rumah minimal danny wicaksono
Ilustrasi Tampak Rumah Minimal

Rumah Minimal

Berangkat dari pemikiran-pemikiran itu, saya ingin membuat sebuah rumah yang elemen pembentuknya disederhanakan hingga ke titik perlu, sehingga energi produksi, energi bangun, dan energi sehari-harinya bisa di minimalkan. Sebuah rumah, dimana privasi dicapai tanpa membangun dinding yang biasa dikenal. Sebuah rumah dengan dinding yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan barang-barang dan alat-alat rumah tangga yang biasa digunakan dalam kehidupan masyarakat modern. 

Sebuah rumah dengan elemen arsitektur yang minimal: Satu atap, satu dinding, dua Level lantai, tanpa pintu, tanpa jendela.
.

Semoga Pemikiran-pemikiran seperti mas Danny ini terus menerus digali dan dikembangkan oleh arsitek-arsitek Indonesia pada umumnya. karena pada hakekatnya arsitektur tidak melulu sebuah bangunan dan hasil akhir, melainkan pula sebuah proses dimana ide-ide di kembangkan hingga menghasilkan sebuah konsep yang matang dan menyeluruh.

sebagai penutup ingin rasanya penulis bertemu kembali dengan mas Danny dengan format obrolan yang nyantai, bukan sebuah seminar seperti yang dahulu, entah kapan waktunya, dimana lokasinya, dan semoga harapan tersebut segera terwujud.

 akhir kata, semoga artikel ini bermanfaat.

salam. 

Share: