Mengubah Spasi Menjadi Ruang Rasa.

  • 7 Tanaman Indor yang bisa jadi inspirasi

    Setelah sebelumnya mencoba untuk membuat posting akuarium lucu, kini dengan tanaman dan bunga kita berkreasi. Gaya Botanical simple menjadi primadona belakangan, dikarenakan perawatanya yang relatif mudah dan catchy di pandang.

  • Laci Unik, Do It Your Self

    Ada beberapa cara cerdas menggunakan barang-barang yang sudah tidak terpakai, laci lemari di rumah Anda misalnya, dari pada habis dimakan rayap atau tak termanfaatkan, lebih baik sediakan waktu diakhir pekan misalnya untuk memanfaatkan kembali nilainya.4 kg/rumah.

  • 7 Desain Lampu unik dan Fungsional

    kini lampu tidak hanya digunakan sebagai alat penerangan namun juga sebagai dekorasi ruangan. mulai dari yang berukuran besar berharga jutaan hingga yang berukuran kecil. berikut adalah beberapa desain lampu yang unik namun tetap fungsional.

  • 7 Tempat Paling Menarik Di Kebun Raya Bogor

    Setiap hari, kebun botani yang memiliki luas 87 hektar dengan koleksi sekitar 15 ribu tanaman ini tak pernah sepi dari kunjungan wisatawan. Namun, luasnya Kebun Raya Bogor kadang membuat kita bingung untuk mengunjungi spot mana yang paling menarik .

  • Tentang SDE dan Gerilya Pemulihan Krisis

    Sebuah krisis berskala global yang sejarahnya bisa ditarik jauh ke masa revolusi industri, saat terjadi peningkatan kebutuhan akan bahan mentah. Di masa awal itu Karl Marx misalnya telah mengenali ada gap yang membesar antara dua jenis metabolisme. Pertama, metabolisme untuk kepentingan reproduksi yang instruksinya genetik.

Pencarian Jati Diri Arsitektur Indonesia

Sumber menginspirasi
alice in wonderland

Semasa kuliah, saya diajarkan menggambar secara arsitektural. Satu hal yang ditekankan adalah gambar tersebut harus informatif. Ada slogan Satu gambar bernilai seribu kata yang muncul pertama kali pada tahun 1911 pada sebuah artikel koran ("Speakers Give Sound Advice". Syracuse Post Standard (page 18). March 28, 1911) yang sedang mendiskusikan topik jurnalisme dan penerbitan.

Sudah seabad berlalu, namun kalimat itu masih terus didengungkan. Dari slogan itu muncul guyonan bahwa buku arsitektur harus banyak gambarnya, karena arsitek jagonya baca gambar, bukan tulisan.

Kenapa bidang arsitektur identik dengan keahlian menggambar? Saya jadi bertanya-tanya, mengapa seseorang merasa terpanggil menjadi arsitek? Karena memiliki keahlian menggambar indah dan memvisualkan sebuah mimpi dan harapan? Karena memiliki keahlian berkomunikasi menggunakan gambar? Karena dapat menyakinkan klien untuk mendanai dan mewujudkan mimpi yang belum kesampaian? Karena memiliki pemahaman teknis dalam pelaksanaan pembangunan? Karena memiliki keahlian dalam menggali kepribadian dan merealisasikan mimpi alam bawah sadar sang klien? Ataukah karena kita memiliki keahlian dalam berasumsi, menyimulasikan, dan pada akhirnya memproyeksikan masa depan? Apa bedanya arsitek dengan nabi yang bernubuat maka segalanya akan terjadi? Bagaimana arsitek bisa begitu yakin, mana karya terbaiknya untuk mereka tawarkan kepada masyarakat umum yang mereka layani?

Ketika bekerja sebagai praktisi, sudut pandang saya terhadap arsitektur melebar. Pelebaran sudut pandang ini berpengaruh pada tingkat toleransi saya dalam mempertahankan desain atau gambar. Sampai saat ini saya masih mencari tahu sejauh mana batas tolerensi tersebut bisa diterima. Satu hal yang saya yakini saat ini, arsitektur adalah persoalan tentang visi, bukan hanya persoalan tentang  desain atau gambar.

Dalam pandangan saya, sebuah visi pasti bicara soal mimpi, cita-cita, serta nilai-nilai yang ingin dicapai dan disetujui bersama oleh arsitek dan masyarakat. Kemampuan berarsitektur menjadi kemampuan untuk melihat, menyadari, dan menemukan apa yang ingin kita capai bersama di masa depan, melalui realisasi visi itu sendiri.

Dalam perjalanan, saya meraba-raba visi tersebut. Saya menemukan bahwa kita sebagai manusia memiliki kemampuan yang sangat bervariasi dalam mengapresiasi dan menikmati arsitektur. Secara umum, saya coba membaginya menjadi dua macam. Pertama, sebagai pembuat bangunan dan kedua, sebagai pengguna bangunan. Kedua tipe penikmat arsitektur tersebut, ternyata ,bisa memiliki pengelihatan dan pencerapan yang sangat berbeda saat melihat objek yang sama. Hal ini didukung oleh pernyataan V. S. Ramachandran, seorang ilmuwan neurosains yang dikenal akan karyanya dalam bidang neurologi perilaku dan psikofisika (kajian yang menghubungkan sifat-sifat fisik stimulus dengan pengalaman seseorang terhadap stimulus tersebut,“Eyes are not unique to us, but vision does not occur in the eye. It occurs in the brain.”

Apa yang kita “lihat” bukan yang sebenarnya kita lihat, namun merupakan produk-hasil-akhir dari proses kerja otak yang secara efektif-efisien telah menerima-mengirim-mengolah input data sensori (dalam jumlah yang besar) dalam waktu yang sangat singkat. Produk-hasil-akhir ini jelas sangat dipengaruhi oleh ragam vocabulary memori dan ekspektasi kita. Ragam memori dan ekspektasi ini juga ditentukan oleh ragam pengalaman dan pengetahuan kita masing-masing, yang juga dipengaruhi oleh konteks di mana kita bertumbuh, cara kita dibesarkan dan berbudaya, serta bawaan sifat genetis. Bila demikian, jelaslah bahwa masing-masing dari kita bisa “melihat” hal yang berbeda walaupun sedang melihat objek visual yang sama.

Perlu disadari bahwa perbedaan “pengelihatan” antara sang pembuat dan pengguna arsitektur mungkin saja menjadi sangat signifikan. Kita yang dididik menjadi seorang arsitek, dilatih untuk melihat lingkungan di sekitar kita dengan “mata arsitektural”.  Beberapa prinsip desain pasti sudah mendarah daging dalam setiap keputusan desain yang kita lakukan dan bahkan dalam setiap tarikan garis tangan.  Pada titik ekstrem, kita sebagai pembuat bangunan bisa melihat apa yang para pengguna bangunan tidak bisa lihat, namun juga sebaliknya. Perlu disadari bahwa sangat mungkin kita sebagai pembuat bangunan tidak bisa melihat apa yang dilihat oleh pengguna bangunan. Apalagi melihat apa yang ingin dilihat oleh pengguna bangunan dengan yang latar belakang dan kompetensinya berbeda . Di sisi lain, satu hal yang pasti adalah kita lebih mudah menerka apa yang bisa dilihat oleh sesama kolega dari karya kita, daripada apa yang bisa dilihat oleh pengguna bangunan.  Kita lebih mudah untuk menerka karya seperti apa yang akan dipuji oleh kolega kita, daripada oleh pengguna bangunan. Nah!

Saat saya menyadari hal tersebut, saya menjadi ragu serta tidak percaya diri dalam menebak-nebak kebutuhan dan keinginan klien. Menebak-nebak karya mana yang terbaik untuk saya tawarkan. Menebak-nebak tanpa bekal informasi dan waktu yang cukup untuk benar-benar memahami secara sadar alasan rasional dari setiap pilihan yang harus saya buat dalam mendesain. Bagaimana saya yakin bahwa ini bukan semata-mata atas nama kepuasan diri dan ego? Bagaimana saya bisa membedakan apakah saya sedang melayani kebutuhan klien ataukah memanipulasi klien demi mimpi idealisme saya pribadi? Ah terlalu jauh, toh saya kerjanya hanya menebak-nebak dari hari ke hari, lalu merevisi berkali-kali dari hasil tebakan baru itu. Kalau sedang kesal dan tidak bisa menebak, saya menyalahkan klien yang tidak jelas kemauannya. Loh, bukannya saya yang salah atau tidak bisa melihat kebutuhan klien?

Lelah menebak-nebak, saya menginvestigasi. Mungkin tidak sekeren itu. Saya hanya  mencoba untuk menyadari apa yang dilihat oleh pikiran saya sendiri. Berusaha menyelami pikiran saya pribadi,baik sebagai pembuat bangunan maupun sebagai pengguna bangunan. Mencoba menggali kesadaran diri saya pribadi sebagai bekal untuk menyadari apa yang orang lain sadari dan tidak sadari (baik orang tersebut melihat dirinya sebagai pembuat maupun pengguna bangunan). Dan tentu saja pada akhirnya untuk menyadari apa yang sebelumnya tidak saya sadari. Dengan melakukan hal tersebut,  saya harap saya bisa menyempurnakan tebakan saya kan. Semoga.

*hanya untuk guyonan*

Profesi arsitek: profesi tebak-menebak.

Bila anda beruntung, anda benar.

Bila anda sial, anda salah. Namun akan selalu ada pihak yang bisa melihat anda benar: kolega dan fans anda.

Bila anda hebat, walaupun anda salah, anda selalu bisa membenarkan diri anda sendiri dengan kemampuan meyakinkan & berlogika anda yang di atas rata-rata masyarakat awam. hehehe

Bila saya mengawali tulisan dengan slogan “Satu gambar bernilai seribu kata”, maka saya akan mengakhiri sepotong kisah pencarian  ini dengan sebuah slogan yang masih terus saya sadari dalam penglihatan saya pribadi. Bahwa dengan membuka hati dan pikiran untuk menempatkan diri di luar diri kita sebagai sang pembuat bangunan, saya justru mulai menyadari kedalaman dan kekayaan dari sebuah karya bangunan. Karena…

Satu bangunan bernilai seribu intensi dan seribu impresi.

Satu bangunan bernilai seribu sensasi. dan seribu persepsi.
Share:

Kota bersih Tanpa Sampah, Mungkinkah?

Sumber Menginspirasi.

mengolah sampah
Kreatifitas Mengolah Sampah.

Pada 30 Mei 2015, LabTanya, sebuah lab riset dan eksperimen pada studio arsitektur AWD, mengadakan diskusi bertajuk “Buka Studio: Kota Tanpa Sampah” bersama warga RW 08 di kawasan Camar, Bintaro Sektor 3. Acara ini bertujuan untuk memamerkan dan mensosialisasikan gagasan dari inisiatif “Bagaimana Jika: Kota Tanpa Sampah”.

Proyek “Bagaimana Jika?” merupakan rangkaian dari lima subproyek inisitaif untuk mempelajari lebih jauh berbagai alternatif keseharian yang lebih relevan di antara tumpukan persoalan di sekitar kita. Melalui inisiatif tersebut, para mahasiswa arsitektur dan beberapa freshgraduate yang tergabung dalam LabTanya menggali berbagai peluang mengaplikasikan pengetahuan mereka untuk menanggapi dinamika sehari-hari.

Perjalanan Menuju Kota Tanpa Sampah

Proyek ini mengambil kawasan Camar di Bintaro, tempat LabTanya dan studio arsitektur AWD berada. Sejak tahun lalu, kawasan Camar menjuarai lomba K3 (Kebersihan, Ketertiban, dan Keamanan). Namun rupanya di balik keberhasilan menjadi lingkungan yang bersih, kawasan Camar masih merupakan salah satu penyetor sampah ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Rawa Kucing di Cengkareng. Sampah yang dihasilkan oleh rumah-rumah dibersihkan dari lingkungannya, lalu dipindahkan ke TPA Rawa Kucing sehingga lingkungan Camar menjadi bersih. Namun TPA Rawa Kucing justru mendapatkan beban sampah kiriman. Tanpa sadar, saat membersihkan sampah, kita hanya memindahkannya dari lingkungan kita ke tempat lain.

Mengacu pada data dari Bank Dunia, satu orang rata-rata menghasilkan 0,6 kg sampah setiap harinya. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 250 juta jiwa (berdasarkan data dari Biro Pusat Statistik, 2014), maka produksi sampah Indonesia bisa mencapai lebih dari 151.298 ton per harinya. Sementara hasil pengamatan sampah di Camar sendiri dapat mencapai 3-4 kg/rumah. Dengan 840 kepala keluarga yang ada di Camar, maka produksi sampah di lingkungan Camar sendiri dapat mencapai 2.940 kg per hari. Lalu mampukah lahan-lahan TPA itu terus menampung produksi sampah kita? Sampai kapankah TPA harus selalu memperluas lahannya agar mampu menampung sampah dari konsumsi kita?

Kegiatan riset dan eksperimen Kota Tanpa Sampah dilakukan selama 4 bulan secara bertahap. Tahapan pertama kegiatan ini berupaya membongkar paradigma yang ada dalam masyarakat selama ini. LabTanya menunjukkan fakta serta problematika yang muncul karena sampah. LabTanya  juga mengundang warga Camar, Bintaro, untuk melihat kontrasnya keadaan di Camar dan di TPA Rawa Kucing. Bincang santai tersebut rupanya berhasil memberikan sudut pandang yang berbeda mengenai akibat yang muncul dari kegiatan konsumsi sehari-hari., sehingga warga yang datang pun tertarik untuk berperan serta dalam proyek Kota Tanpa Sampah.

Pada tahapan kedua, tim Kota Tanpa Sampah menggali data kegiatan konsumsi di rumah-rumah para relawan. Mulai dari mendata jumlah anggota keluarga, kebiasaan berbelanja, hingga sampah hasil konsumsi oleh rumah tangga tersebut. Data-data tersebut kemudian diolah untuk memetakan pola alur konsumsi dan aktor-aktor yang berperan dalam proses terbentuknya sampah dalam lingkup rumah tangga. Mulai dari produk dibeli oleh salah satu orang di rumah, dikonsumsi, hingga akhirnya menghasilkan sisa sampah yang kemudian dibuang ke tempat sampah di rumah.

Pada tahapan ketiga, setelah memahami siapakah aktor-aktor yang berperan penting dalam alur sampah rumah tangga, mulailah tim LabTanya bersama dengan para relawan mencari alternatif-alternatif untuk mengurangi produksi sampah dalam skala rumah tangga. Secara garis besar, ada dua strategi yang bisa diaplikasikan. Pertama, strategi ‘pintu belakang’, yaitu mencoba mengurangi sampah yang pada akhirnya dikirim menuju TPA. Ada dua cara yang dapat dilakukan dalam strategi ini, yaitu dengan cara reuse dan recycle. Reuse berarti menggunakan ulang barang-barang bekas sisa, misalnya menggunakan bekas kaleng susu bayi menjadi pot-pot bunga. Recycle adalah memperpanjang daur hidup suatu barang. Untuk sisa-sisa organik, daur hidupnya bisa diperpanjang dengan menggunakan komposter, yang mengubahnya menjadi kompos sebagai penyubur tanaman. Untuk sisa-sisa yang tidak membusuk, bisa dikelompokkan dalam penampungan-penampungan sementara sesuai jenisnya untuk kemudian disalurkan ke pengepul dan dikirim ke pihak pendaur ulang. Penting untuk kemudian mengenali, meneliti, serta memetakan jaringan pengepul di sekitar tempat tinggal: Apa-apa saja yang diterima? Bagaimana dan ke mana proses daur berikutnya? Di sekitar Camar, tim LabTanya juga memetakan beberapa jaringan pengepul yang berada dalam radius kurang lebih 1.000 meter, serta jenis-jenis barang yang mereka terima. Dalam simulasi ini, strategi ‘pintu belakang’ saja mampu mengurangi sampah rumah tangga hingga 80%.

Strategi selanjutnya, adalah ‘pintu depan’, yaitu dengan cara reduce dan replace. Reduce, yaitu mengurangi penggunaan benda-benda yang memiliki risiko sampah tinggi, misalnya mengurangi konsumsi minuman kemasan, atau mengurangi konsumsi camilan yang dikemas dengan kemasan plastik berlebih. Sedangkan replace, dalam hal ini adalah mengganti konsumsi barang-barang tertentu dengan alternatifnya yang lebih ramah lingkungan. Misalnya dengan mengganti penggunaan kresek dengan tas belanja yang bisa digunakan berulangkali. Kombinasi strategi pintu belakang dan strategi pintu depan, dalam simulasi yang dilakukan oleh tim LabTanya, rupanya mampu mengurangi jumlah sampah hingga 98%. Salah satu relawan bahkan berhasil mengurangi sampah rumah tangganya dari 2,4kg menjadi 0,05kg di akhir program. “Sekarang udah dikit sampahnya, tadi pagi saya gak buang sampah sama sekali ke depan,” ujar Mbak Elis, seorang asisten rumah tangga dari salah satu relawan.


Masih ada banyak tantangan yang muncul saat melakukan simulasi bersama warga, seperti kurangnya minat para relawan untuk menggunakan drum-drum komposter, yang dianggap bau dan tidak indah. Namun rupanya hal ini tidak mengurangi semangat para relawan untuk mencoba mengurangi sampah rumah tangga mereka. Muncul berbagai alternatif untuk mengomposkan sisa-sisa organik. Salah satu relawan misalnya, mengomposkan sisa makanan rumahnya dengan cara membuat sebuah lubang kecil di halamannya untuk membuang sisa makanan dan sampah-sampah lain yang membusuk. 

Kota Tanpa Sampah, Mungkin!
Mengolah Sampah
Mengolah Sampah
Tentu inisiatif baik sebaiknya disebarluaskan. Maka dari itu, sebagai tahap akhir (atau justru awal) dari proyek Kota Tanpa Sampah ini, diadakanlah acara “BukaStudio: Kota Tanpa Sampah”. Acara ini merupakan upaya sosialisasi hasil riset dan eksperimen ini. Arsitek biasanya melakukan pameran dengan berbagai media arsitektur seperti gambar-gambar ortografis, ilustrasi 3D, maupun maket. Justru kali ini tim Kota Tanpa Sampah memamerkan konsepnya melalui media-media yang berbeda seperti video, simulasi teatrikal, serta penyajian prototipe ide dalam skala 1:1.

Riset  ini menjadi sebuah ruang bagi para arsitek di LabTanya untuk mentransformasi pengetahuan arsitekturnya dan bereksperimen mengenai praktik arsitektur yang relevan dan dekat dengan keseharian masyarakat. Proyek ini menjelajahi sudut pandang yang lain mengenai problematika sampah di sekitar kawasan Camar. Sampah yang tadinya hanya dilihat sebagai barang-barang atau sisa-sisa yang kotor dan harus dibersihkan, kini mulai didefinisikan ulang. Sampah merupakan sisa-sisa konsumsi yang memang sudah tidak ada manfaatnya sama sekali, dan tidak bisa didaur ulang. Cara kita menyikapi sampah lalu bukan lagi “Buanglah sampah pada tempatnya” melainkan “Tempatkan sisa konsumsi untuk masuk ke daur hidup berikutnya”.

Diskusi BukaStudio ini mengajak kita semua untuk bisa lebih sadar mengenai risiko sampah yang muncul dari perilaku konsumsi sehari-hari dan membeirkan kita pilihan langkah yang lebih relevan. Dimulai dari yang dekat, kegiatan sehari-hari dan langkah-langkah kecil bisa mengantarkan kita menuju sebuah visi kota yang terbebas dari persoalan sampah.

Dalam kegiatan Buka Studio juga terdapat penjelasan tentang problematika sampah serta sharing pengalaman dari relawan yang terlibat. Tim Greeneration Foundation memaparkan strategi menajemen persampahan rumah tangga. Tim LabTanya menyiapkan display untuk menjelaskan konsep Kota Tanpa Sampah dalam skala 1:1, antara lain melalui display mengenai Toko Tanpa Sampah yang kemasan produknya tidak berisiko sampah setelah konsumsi. Tidak hanya itu, para tamu juga dijamu dengan sajian makanan dan minuman dengan kemasan yang telah dirancang mendukung konsep Kota Tanpa Sampah, yaitu beragam makanan dengan kemasan berisiko sampah yang rendah, serta minuman sehat dan menyegarkan yang bisa diisi ulang dengan gelas maupun tempat minum milik audiens.

Baca Juga Jati Diri Arsitektur

“Ternyata cara membuat kota menjadi bersih dari sampah itu gampang,” ujar Faradika, salah satu pengunjung yang datang. Antusiasme masyarakat yang cukup tinggi terhadap kegiatan ini, menunjukkan bahwa proyek Kota Tanpa Sampah justru merupakan awal dari pergerakan yang lebih besar lagi. Masih ada banyak tantangan dan peluang yang menanti untuk dibongkar dan ditaklukkan bersama. Sebuah harapan dan perspektif yang berbeda: bahwa Kota Tanpa Sampah itu mungkin!

Share:

Pageviews