Mengubah Spasi Menjadi Ruang Rasa.

  • 7 Tanaman Indor yang bisa jadi inspirasi

    Setelah sebelumnya mencoba untuk membuat posting akuarium lucu, kini dengan tanaman dan bunga kita berkreasi. Gaya Botanical simple menjadi primadona belakangan, dikarenakan perawatanya yang relatif mudah dan catchy di pandang.

  • Laci Unik, Do It Your Self

    Ada beberapa cara cerdas menggunakan barang-barang yang sudah tidak terpakai, laci lemari di rumah Anda misalnya, dari pada habis dimakan rayap atau tak termanfaatkan, lebih baik sediakan waktu diakhir pekan misalnya untuk memanfaatkan kembali nilainya.4 kg/rumah.

  • 7 Desain Lampu unik dan Fungsional

    kini lampu tidak hanya digunakan sebagai alat penerangan namun juga sebagai dekorasi ruangan. mulai dari yang berukuran besar berharga jutaan hingga yang berukuran kecil. berikut adalah beberapa desain lampu yang unik namun tetap fungsional.

  • 7 Tempat Paling Menarik Di Kebun Raya Bogor

    Setiap hari, kebun botani yang memiliki luas 87 hektar dengan koleksi sekitar 15 ribu tanaman ini tak pernah sepi dari kunjungan wisatawan. Namun, luasnya Kebun Raya Bogor kadang membuat kita bingung untuk mengunjungi spot mana yang paling menarik .

  • Tentang SDE dan Gerilya Pemulihan Krisis

    Sebuah krisis berskala global yang sejarahnya bisa ditarik jauh ke masa revolusi industri, saat terjadi peningkatan kebutuhan akan bahan mentah. Di masa awal itu Karl Marx misalnya telah mengenali ada gap yang membesar antara dua jenis metabolisme. Pertama, metabolisme untuk kepentingan reproduksi yang instruksinya genetik.

Idealisme Arsitek, Yang Penting Uang ?

Onopo.id
Semenggiurkan Apa Profesi Arsitek, Kedengeranya Hebat? Gimana Faktanya?
Bisa di bilang profesi arsitek salah satu profesi yang makin tua makin jadi, sama seperti lawyer dan dokter, biasanya semakin tua dalam artianya pengalamanya banyak, semakin baik juga dia dalam mendesain, dan pasti mempengaruhi pendapatanya dong.

Tapi gak sama dengan lawyer, Profesi arsitek cenderung mengandalkan kreatifitas dan pengalaman arsitek, Ilmunya liquid Berkembang terus Seiring zaman.
terus yang paling penting menjadi arsitek itu apa?  mudah dalam mendapatakan kekayaan? aktualisasi ide-ide ke dalam wujud fisik? menjadi terkenal? apa mau jadi bupati, gubernur, presiden? kan sudah ada contohnya tuh beberapa bupati dan gubernur yang cukup baik dalam memimpin.

Kalau jadi arsitek karena idealisme materi misalnya, apakah salah?
misal ambil contoh ada sebuah proyek hotel dan apartemen, yang bangunanya harus menghilangkan situs budaya misalnya, apakah kita tetap mendesain? atau misalnya kita membuat suatu hotel resort yang tanahnya merupakan tanah subur pertanian masyarakat sekitar, apakah kita tetap mendesain? atau misalnya client kita merupakan orang yang sangat kaya raya, dan gosip yang beredar kekayaan tersebut yang di gunakan untuk membayar dan membangun hotel misalnya adalah hasil dari korupsi, merampas hak-hak masyarakat miskin dan lemah, kita tahu hal tersebut dan kita tetap mendesainnya? atas dasar profesional? atau misalnya kita membangun sebuah villa yang luas dan harus menghilangkan hutan lindung, tempat ekosistem di lindungi dan keanekaragaman hayati tinggal, apakah tetap kita mendesainya, teorinya memang, ketika kita ingin mebangun villa harus mengajukan IMB dan persyaratan-persyaratan lainya, misalnya analisa dampak lingkungan, analisa terdampak, namun kenyataan lapangan terkadang memang berbeda, tidak sedikit bangunan yang dibangun dahulu baru kemudian mengurus IMB. menyedihkan memang namun itu faktanya.

Pekerjaan Ini tidak jarang adalah merusak lingkungan alih-alih melindunginya, karena kita akan membangun sesuatu yang belum ada menjadi ada dan mungkin sebenarnya tidak diperlukan oleh sebagian besar orang, dan lingkungan sekitar, kita sebagai arsitek harus dengan mata terbuka menyadari dan mengakuinya kalau ternyata pekerjaan kita adalah merusak ekosistem dan menjadi tugas kita untuk meminimalisirnya pada tingkatan yang sangat mungkin.

“Arsitektur itu kan pada hakikatnya memang merusak. Seringnya arsitek ada di pekerjaan para pemodal besar, yang secara ekologis dan ekonomis menyingkirkan alam dan penduduknya. Yang bisa kita lakukan memang mengurangi dampak merusaknya. Apa yang kami kerjakan, dengan segala kekurangan yang masih ada, sedang menuju kesana,” Yu Sing

Memang menjadi paradox ketika profesi kita ternyata menyangkut kepada maslahat orang banyak, di satu sisi ini menjadi mata pencaharian yang memang harus mendapatkan uang namun di sisi lain kita memiliki tanggung jawab moral yang besar. seperti memilih 2 jalan yang jauh berbeda. Jadi Ketika kita sebagai arsitek mendapatkan mengerjakan proyek besar yang merusak lingkungan, apa yang akan kita lakukan? Yang penting uang?

“Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan” Tan Malaka

Share:

Arsitektur Sewaktu Kuliah Dan Kerja, Bedanya Apa?

Onopo.id

kuliah arsitektur memang keren lah, udah jadi rahasia umum kalo lulus dari jurusan arsitektur itu enggak gampang, seenggaknya itu yang banyak mantan lulusan arsitektur rasain, walau emang jurusan lain juga ada yang susah lulusnya, tapi percaya deh, lulus dari jurusan arsitektur itu sangat bahagia sekaligus sedih pada waktu yang sama, kok sedih kenapa? ya karena kalo lu ambil jurusan arsitek pasti bakal sering ada momen dimana lu gak mandi sampe 2 hari, makan sambil melototin tugas-tugas, terutama tugas-tugas studio, mikirin konsep, nyoret-nyoret sketsa gambar, bikin laporan, revisi, bikin gambar, revisi, dan revisi.
.
bakal ada momen-momen lu rebutan pulpen rotring ukuran 0.5 ama temen  lu, tuduh-tuduhan colong-colongan gambar, sampe ribut soal siapa yang ngeprint duluan di print kosan, jangan salah, kalo waktu udah mepet ngumpulin tugas, lu bisa tensi ama temen gara-gara masalah siapa yang ngeprint dulu. percaya deh lu bakal rasain itu, apalagi kalo sistem kerja lu, sistem kerja sks(Sistem Kebut Semalem) besok ngumpulin malemnya baru ngerjain, bukan apa-apa kadang emang kalo udah kepepet ngerjain gambar bakal 500 % lebih cepet dari pada kalo jauh-jauh hari, kalo dah gitu siapin aja kratingdeng sama extra joss buat doping, oya jangan lupa sikat gigi masukin tas, soalnya kadang kalo udah pagi dan mepet, lu ga bakal mikirin mandi lagi, percaya deh...
.
temen-temen di jurusan arsitektur, terutama satu angakatan bakal punya time-line ngerjain sendiri-sendiri, kadang ada yang baru dapet selembar-kadang ada yang dapet berpuluh-puluh lembar, dan ketika waktu ngumpulin tiba, jangan heran kalo tiba-tiba yang tadinya ngerjainnya telat, malah dapet nilai lebih bagus dan hasil gambarnya lebih jos, gak jarang seperti itu.
.
nah, beda lagi kalo udah masukin dunia kerja, bisa di bilang udah jarang lagi kita rasain-rasain 'kesenangan-kesenangan' kuliah. udah gak ada lagi ribut-ribut rotring karena kalau di kantor udah pake komputer, udah gak ada lagi gak mandi 2 hari karena lu gak mungkin gak mandi 2 hari dan cuek, kasian rekan kerja lu kan pastinya, mungkin kalo soal deadline-deadline sama ya, bakal lembur-lemburan terutama kalo lagi di kejar gambar kerja, kelar idup lu, bedanya kalo di kantor ga tau kenapa itu lebih tertib aja, udah jadi kebawa sendiri ama situasinya sih.
.
awal masuk kerja, awalnya-awalnya biasanya kaget, karena waktu kita kuliah, kita bisa santai mengenai ngerjain tugasnya, tapi waktu masuk dunia kerja lu bisa santai ngerjain tugasnya asal lu bisa masuk pagi dan ngerjainnya di kantor, tekanan di kantor bukan lagi tekanan kerja, tapi tekanan sosial, dan tekanan kualitas gambar lu, sejauh apa bisa adaptasi ama suasana baru, karena nilai yang bagus aja gak akan cukup buat membantu lu berkembang di dunia kerja, kalo di dunia kuliah asalkan kita rajin dan tekun, pasti bisa cepet lulus walau nilainya mungkin pas-pasan, tapi kalau di kerjaan, gambar yang bagus dan rajin aja bakalan gak cukup, lu harus bisa baca orang, baca situasi dan kondisi, gak akan bisa bertindak semau sendiri di samain sewaktu kuliah, emang kadang birokrasi kantor cenderung kaku dan gak bakal gampang berkembang, tapi itu bagus buat ngelatih mental dan kedewasaan lu menjadi lebih baik lagi, di dunia kerja, rasa tanggung jawab lu bakalan lebih tinggi, karena terutama, mulai ada tuh, tuntutan-tuntutan buat beli-ini beli itu, untuk nunjukin status lu yang udah bisa mencari uang sendiri, kadang-kadang ada temen kuliah kita yang dulu kita anggep malas, malah lebih berkembang dari pada kita, bakal ada tuh yang begitu, yang ipknya di bawah 3 malah udah punya studio kantor sendiri misalnya, atau bisa hidup dari freelance...
.
kedua masa-masa pasti ada bedanya, bedanya lebih kepada situasi ama tanggung jawab aja, dan sejauh ini di dunia kerja itu lebih real, ilmu-ilmu yang kita pelajari di dunia kampus mungkin gak signifikan terpakai, lebih ke hardskill aja kalo di dunia kuliah, tapi kalau di dunia kerja bukan hanya hardskill, softskill kita perlahan-lahan akan keasah dengan sendirinya, dan percaya deh itu bagus untuk dijalanin dan di nikmatin, karena memang itu prosesnya..  

“Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.”

Pramoedya Ananta Toer-Anak Semua Bangsa. 
Share:

Wahai Arsitek Pemula, Mending Jadi Karyawan Atau Freelance ?


Bed Apartment
(Onopo.Id)
Pertanyaan Klise.

Kalau Mau Di Sepakatin, Kita Sepakatin dulu apa arti arsitek Pemula, kalau Freshgraduate masuk kategori Arsitek Pemula? Atau Arsitek yang belum berpengalaman atau pengalaman kurang dari 5 tahun? soalnya ini penting, kan tidak bisa dong kita menilai sesuatu yang belum ada kesepakatan jelasnya. okey kita sepatain dulu, anggaplah arsitek yang belum pengalaman 5 tahun kita sebut sebagai arsitek pemula, dan 5 tahun itu bukan waktu yang sebentar juga ya, ada sekitar 1800 hari di situ kan, mulai dari seneng, sedih, proses-proses tentu tidak hanya menguras energi, percayalah situ akan menguras emosi, istilahnya, melatih mental dan kedewasaan, tapi itu proses yang bagus dan harus di lewatin.
.
Sebenernya kita bisa dalami apa ada perbedaan yang mendasar antara menjadi karyawan arsitek pada sebuah perusahaan, ketimbang kita freelance sendiri? mari kita ulik satu-satu, baik dari sisi negatif maupun dari sisi positif.
.
Menjadi Karyawan dari sisi negatif:

Pertama, harus rela di perintah, iya dong, arsitek pasti harus menuruti perintah pekerjaan dari atasan, sebagai arsitek dalam sebuah proyek pasti kita akan ada di bawah arahan arsitek kepala, walaupun kadang kurang sreg dengan perintah tersebut, namanya perintah wajib di selesaikan dengan baik.

kedua, penghasilan tetap, Seorang arsitek yang bekerja pada sebuah perusahaan, seuntung apapun perusahaan itu gajinya bulananya akan segitu-gitu saja, jikalaupun ingin mendapat tambahan harus lembur, dan berharap-harap cemas akan mendapat bonusan akhir tahun.

ketiga, sukar menyampaikan ide, tentu gak akan mudah menyampaikan ide-ide kita di sebuah biro arsitek kalau kita hanya menjadi roda perusahaan, sekalipun mungkin ide kita bagus sebab tidak jarang atasan mengabaikan bawahanya.

itu kekurangan kalau menjadi arsitek pada sebuah perusahaan, dimana ada kekurangan pasti ada kelebihan, terus apa kelebihan menjadi arsitek pada perusahaan.

Pertama, dari jam kerja, kalau kita bekerja pada sebuah perusahaan pasti tidak lebih dari 10 jam, apabila ada pekerjaan tambahan yang tidak terselesaikan maka bisa di masukan ke kategori lembur.

kedua, tanggung jawab terbatas, pada sebuah perusahaan masing-masing posisi sudah ada tugas pokok utama yang harus di jalankan, tentu saja tanggung jawab tidak akan menyimpang dari posisi yang kita emban, tentu kita akan lebih nyaman dalam bekerja, karena sudah ada kejelasan tugas.

ketiga, penghasilan yang pasti, arsitek yang berkerja pada sebuah perusahaan akan selalu di bayar sesuai kemampuan dan kesepakan, karena adanya hal ini, karyawan bisa membuat rencana masa depan yang lebih baik, karena bisa menyicil rumah misalnya atau menabung untuk keperluan mendatang, dengan bayaran bulanan, tentu menjadi lebih terukur dan pasti.

bagaimana dengan arsitek freelance? apa kelebihanya? apakah perbedaan dengan arsitek yang jadi karyawan cukup signifikan?

Freelance dan kelebihanya.

Pertama, Flexible, mulai dari tempat kerja waktu kerja, dan gimana kerjaan itu beres, kalau freelance kita bisa ngerjain tugas-tugas bisa dari rumah, dari cafe, bahkan dari pinggir pantai sambil minum jus, tidak harus berlama-lama dan bermacet-macet di jalan. itu kelebihan pertama.

kedua, Penghasilan bisa Jauh Lebih besar dari pada arsitek karyawan, bagaimana tidak, jika kita menjadi freelance, kita bisa mengerjakan gambar-gambar sendiri, ngitung anggaranya sendiri, bahkan dari situ saja kita bisa hitung sendiri berapa keutungan yang di peroleh jauh sebelum proyek terlaksana, misalnya.

ketiga, Networing yang pasti lebih luas, kalau kita Freelance, tentu kita mempunyai potensi networking yang lebih luas, karena waktu kita lebih flexible dan tidak terikat, kita bisa main-main dengan rekan-rekan seprofesi atau bahkan dari lintas usia dan berbagai kalangan. dengan networking yang luas tentu potensi akan terbuka dengan sendirinya.

cukup dengan kelebihan kalau sebagai arsitek kita freelance, bagaimana kekuranganya?

kekurangan yang pertama adalah, Pendapatan tidak pasti, sesuai kemampuan dan pendapatan awal pasti belum tinggi, karena kita tidak mengetahui akankah ada projek-projek yang masuk berikutnya, di tengah ke tidak pastian itu, tentu saja kita menjadi lebih beresiko.

kedua, harus mandiri, mandiri dan mempunyai rencana yang baik dan matang, ada plan A dan Plan B, dan harus konsisiten serta disiplin waktu, karena tidak ada keterikatan waktu dan tekanan dari atasan kita harus bisa atur waktu dengan disiplin dan memiliki rencana yang baik.

ketiga, Pandai Kelola keuangan, dengan tidak adanya pendapatan pasti tiap bulan tentu, kita di tuntut untuk pandai-pandai mengelola keuangan, bisa jadi dalam sekali proyek kita dapat untung besar dan kemudian kita tidak mendapatkan proyek untuk waktu yang cukup lama.


Jadi dengan Membaca Lebih dan kurangnya menjadi karyawan atau Freelance, Mana yang menurutmu lebih cocok dengan karakteristikmu?
Share:

Pageviews